Wednesday, 4 July 2018

Life as A Mathematician

Hai! Perkenalkan, aku penulis blog ini dan aku adalah seorang mahasiswa jurusan Matematika Terapan di sebuah universitas swasta di Tangerang. Meskipun aku yakin pasti udah banyak dari kalian yang tahu mengenai 'trend' jurusan Matematika, tapi sampai sekarang pun masih ga jarang orang yang begitu tahu aku anak Matematika pasti nanya "Oh mau jadi guru/dosen ya?". Oke om/tante/kakak/adik, aku gamau jadi guru ato dosen ato guru les. Supaya kalian dapet gambaran sedikit soal jurusanku, silakan klik di sini.

Jadi sekarang udah tahu kan kalo anak Matematika ga cuma bisa jadi guru? Aku memutuskan buat berbagi pengalaman soal kehidupan perkuliahanku karena aku udah memasuki taun (hampir) terakhir kuliah jadi aku ngerasa udah cukup bisa diandalkan HEHE. Ngga sih. Sebenernya karena baru ada keinginan buat nulis sekarang aja. Lupakan alesan aku mau sharing karena itu ga terlalu penting dan lebih baik kita langsung masuk ke pokok pembicaraan.

1. Kenapa pilih jurusan Matematika? Suka hitung-hitungan ya?
Bener, Matematika adalah salah satu pelajaran favorit aku pas sekolah karena aku biasanya dapet nilai bagus di situ. Tapi, sebenernya aku suka banget Biologi dan sempet kepikiran masuk jurusan Bioteknologi. Cuma begitu merasakan pahitnya pelajaran Biologi SMA, impian itupun kandas. Akhirnya, aku mutusin buat masuk Matematika karena waktu itu lagi booming aktuaria dan harusnya di jurusan ini ga ada Fisika lah ya (tapi bohong).

2. Jurusan Matematika susah ngga? Pasti bosen ya tiap hari ketemu angka?
Seiring dengan bertambah lamanya kamu kuliah Matematika, kamu bakal ngerasa bersyukur banget kalo bisa ketemu lebih banyak angka dibanding huruf (if you know what I mean). Atau kalo mau pake bahasa awam, SUSAH BANGET LAH GILA YA. Bukan susah ngitung, bukan susah nyederhanain aljabar, tapi susahnya udah sesusah ngertiin pacar kamu. Saran aku, jangan masuk jurusan ini cuma karena iming-iming gaji gede. Kalo kalian ga punya ketekunan lebih dan mental yang kuat, mending cari jurusan lain aja :)

3. Belajar apa aja di jurusan Matematika?
Kalo kata dosen aku, belajar pake keringat dan darah buat nyelesain soal.
Well, ngga se-ekstrem itu juga sih. Di tahun pertama kalian bakal belajar 'hitung-hitungan' kaya kalkulus, aljabar linier, logika, sama sedikit pengantar untuk software matematika. Memasuki tahun kedua, ini adalah masa di mana angka semakin jarang ditemui. Sebagian besar mata kuliah tahun ini akan melibatkan pembuktian, teorema, definisi, dkk. Misalnya, ada namanya mata kuliah Analisis Real di mana kamu disuruh buktiin kenapa 1-1=0. Mantap bukan. Ada juga mata kuliah Persamaan Diferensial Biasa dan Metode Matematika yang kamu ngitung huruf terus tiba-tiba bisa berubah jadi angka. Bingung? Buktikan sendiri di jurusan Matematika ;). Di tahun ketiga atau tahun terakhir, kalau di universitas aku biasanya lebih ke mata kuliah peminatan. Kurang lebih sama kaya tahun kedua, cuma 5x lebih susah aja. Biasanya di tahun-tahun ini skill bertahan hidup kalian udah cukup terasah biar bisa 'lolos'.

4. Bener ga kalo lulusan Matematika gajinya tinggi?
Maybe yes. Maybe no. Gatau karena aku belom kerja. Tapi yang pasti, kalo kamu kuliah cuma karena pengen dapet gaji tinggi, ujung-ujungnya pasti bakal kecewa. Dunia ini keras guys. Mungkin memang lulusan Matematika gajinya di atas rata-rata, tapi ya bukan berarti pertama kali kerja langsung digaji 20jt kan? Jurusan apapun, asal kamu niat waktu kuliah, pasti nanti kerjanya juga digaji sesuai dengan usaha kamu. Jadi, biar kamu dapet gaji tinggi dengan masuk jurusan Matematika, pastiin IPK kamu tinggi atau lulus ujian sertifikasi sebanyak mungkin.

5. Gimana cara bertahan di jurusan Matematika?
Ngga terlalu beda sama jurusan lain sih. Asal kamu tekun dan pantang menyerah pasti bisa lulus kok. Kamu nggak terlalu pinter? No problem. Kamu males? Masih bisa. Kamu nggak pinter dan males? Percayalah mujizat itu ada. Kalo mau dirangkum, kurang lebih ini tips buat bertahan di jurusan Matematika (bisa diaplikasikan untuk semua jurusan):
  • Banyak doa (karena Tuhan yang ngatur semuanya)
  • Baik-baik sama dosen (karena dosen satu level di bawah Tuhan)
  • Banyak belajar/latihan soal (abaikan kalo kamu orangnya males)
  • Banyak bergaul (biar gampang dapet pinjeman catetan/contekan--> TIDAK DISARANKAN)
  • Ikut organisasi (biar ada nilai plus kalo IPK kamu jelek)

6. Nyesel ga masuk jurusan Matematika?
Tentu saja tidak. Ini 100% jujur kok, percayalah. Meskipun ada masanya aku mikir kalo aku salah jurusan, apalagi pas dapet mata kuliah yang abstrak dengan dosen lebih abstrak, tapi tetep aja aku ga bisa ngebayangin gimana kalo aku masuk jurusan lain. Bahkan aku bersyukur banget akhirnya milih Matematika dibanding Bioteknologi karena di jurusan ini ga ada yang namanya lab dan bikin laporan tiap minggu. Bisa dibilang jurusan Matematika itu kaya SMA cuma pelajarannya 1.000x lebih sulit aja :). Gimana ngga? Kerjaannya cuma dateng kelas, ngerjain PR, ngerjain kuis, latihan soal, gitu-gitu aja sampe lulus. Bikin makalah juga hampir ngga pernah kecuali buat mata kuliah umum. Modal cuma butuh alat tulis (bisa minjem), buku/kertas (bisa minta temen), laptop (bisa minjem juga sih...), sama akal sehat (YANG INI HARUS PUNYA). Mana mungkin nyesel, kan?

7. Pesan buat anak yang mau masuk Matematika?
Sebenernya Matematika itu ngga sulit kok. Cuma butuh rajin, tekun, sama pinter dikit.
Dosen-dosen aku selalu bilang, kunci supaya bisa bertahan di jurusan ini ya cuma rajin-rajin latihan soal aja. Kalo mau lebih rajin lagi, baca buku atau cari bahan di Internet. Tapi, kalo kamu udah punya dasar rasa suka sama Matematika atau paling ngga nilai Matematika kamu selama sekolah bagus, itu udah cukup. Dan prospek jurusan ini bisa dibilang masih bagus kok. Ngga cuma aktuari aja, ada juga profesi data scientist atau data analyst yang sekarang banyak dicari dan itu semua dasarnya juga Matematika. Intinya, jangan ragu buat masuk jurusan Matematika dan jangan takut!

Tuesday, 19 June 2018

As We Grow

As we grow older,
24/7 is just not enough
5 or 10 hours of sleep feels the same
2 or more jobs can’t suffice

As we grow mature,
anxiety got bigger
freedom suffocates
the future becomes intimidating 

As we grow wiser,
it’s quality over quantity
happiness values more than anything
though reality slaps hard

As we grow tougher,
cuts and scars won’t bother
hate only exhausts
because forgiveness did the magic

Thursday, 17 May 2018

#KamiTidakTakut

Image result for aksi 1000 lilin surabaya

Seminggu terakhir ini, Indonesia digemparkan dengan insiden pengeboman di Surabaya. Ditambah lagi, masih ada ancaman bom yang belum diketahui kebenarannya. Semua orang dihimbau untuk tetap waspada dan menghindari bepergian ke tempat ramai. Sekolah-sekolah diliburkan, ibadah dihentikan, bahkan mall yang biasanya ramai pun mendadak sepi. Semua ini terjadi karena perbuatan teroris yang tidak berperikemanusiaan.

Pernahkah terlintas di pikiran kalian, mengapa insiden seperti ini harus terjadi? Mengapa ada orang yang setega itu membunuh orang yang bahkan tidak dikenalnya atas nama agama? Mengapa ada teroris? Apa tujuan mereka menjadi teroris? Sebelum kita mencari tahu tujuannya, akan lebih baik jika kita tahu apa sebenarnya definisi terorisme. Dalam Sidang Umum PBB, telah disetujui bahwa yang dimaksud dengan terorisme adalah tindakan kriminal yang ditujukan untuk memprovokasi teror kepada masyarakat umum, sekelompok orang, atau orang tertentu demi tujuan politik tertentu. Dijelaskan juga bahwa terorisme adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun, baik karena alasan politik, filosofis, agama, ideologi, ras, etnis, dan lain-lain. Dari definisi saja sudah jelas bahwa terorisme salah dari sudut pandang mana pun. Dan sudah jelas bahwa terorisme tidak dilakukan hanya sekedar karena kebencian. Lalu, apa 'tujuan politik' dari terorisme sebenarnya? Dalam kasus pengeboman Surabaya, mungkin jawaban yang paling jelas atau pendapat yang paling sering terdengar adalah: menjadikan Indonesia negara Islam. Kita tidak bisa tahu pasti kebenaran dari pendapat tersebut, tapi yang jelas mereka ingin memecah belah bangsa ini.

Dalam suatu artikel di GlobalPolicyJournal.com, dituliskan bahwa terorisme adalah alat yang efektif untuk memecah belah kelompok atau negara. Contohnya, karena pengeboman kemarin, pasti ada saja orang yang menyalahkan agama atau ras. Pasti ada orang yang merasa pemerintah atau kepolisian kurang tanggap dan tidak bisa melindungi rakyatnya. Tapi, apakah dengan ini saja cukup untuk menggulingkan pemerintah? Tentu tidak. Pemerintah, bahkan di negara seperti Indonesia pun yang pemerintahannya seringkali dipertanyakan, tidak akan semudah itu diambil alih. Dan hal ini diketahui dengan jelas oleh para teroris. Bisa dibilang, dampak-dampak kecil dari terorisme menjadi 'penyemangat' bagi mereka. Dampak kecil seperti, ada golongan tertentu yang dikucilkan, menurunnya kepercayaan masyarakat pada pemerintah, sampai ketakutan masyarakat yang semakin bertambah melalui aksi terorisme berulang kali yang membuat para teroris itu bertahan. Mereka akan mulai dari kelompok yang kecil dan lama kelamaan pengikut mereka akan bertambah melalui aksi terorisme. Bagaimana mungkin?

Ada suatu teori yang mengatakan bahwa terorisme, khususnya yang dilakukan atas dasar agama Islam, umumnya bertujuan untuk mencegah asimilasi budaya Islam dengan budaya lain. Atau bisa dikatakan mereka ingin agar umat Islam tidak 'tercemar' dengan budaya yang menurut mereka tidak pantas. Dengan melakukan teror yang membawa nama agama Islam, maka hal ini akan membuat umat Islam dibenci dan mungkin dikucilkan dari masyarakat. Umat Islam yang tidak tahu apa-apa dan hanya terkena dampaknya secara tidak langsung dipaksa untuk hidup hanya dengan kelompok Islam saja karena mereka ditolak oleh kelompok lain. Situasi semacam ini yang menjadi celah bagi kelompok teroris untuk menambah pengikutnya.
Dalam ilustrasi lain, teror yang dilakukan terus menerus membuat masyarakat mempertanyakan pemerintahnya. Di sini, ada dua kemungkinan. Yang pertama, masyarakat yang merasa tertindas akan memilih untuk mengikuti pihak yang menurut dia lebih kuat atau bisa memberikan rasa aman. Kedua, situasi ini mendesak pemerintah untuk melakukan negosiasi dengan kelompok teroris. Meskipun negosiasi tidak berarti pemerintahan suatu negara hancur, tetapi paling tidak bisa meletakkan kelompok teroris ke dalam posisi yang semakin kuat dan semakin susah dimusnahkan.

Sekarang kita tahu bahwa terorisme jauh lebih mengerikan dari sekedar aksi kebencian. Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat biasa? Jika melihat pada kejadian pengeboman di Surabaya kemarin, kita tahu bahwa masyarakat dari berbagai pelosok Indonesia turut bersimpati. Berbagai ucapan belasungkawa, post di media sosial, hingga donasi bermunculan. Namun, apakah itu cukup? Banyak orang menggunakan hashtag #kamitidaktakut #SuroboyoWani dan berbagai hashtag menguatkan lainnya. Lantas kenapa? Mungkin kita yang tidak merasakan langsung bisa dengan mudah menggunakan hashtag tersebut. Tapi bagaimana dengan keluarga para korban? Atau bahkan di lingkup yang lebih luas, warga kota Surabaya? Apakah dengan hashtag tersebut mereka jadi berani? Tentu tidak. Mereka masih diselimuti duka dan ketakutan. Menyuruh atau meminta para korban untuk menjadi berani adalah hal yang sia-sia karena mereka tidak mungkin tidak takut dan mereka berhak untuk takut.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh kita, masyarakat awam, baik dari anak-anak sampai orang dewasa, untuk mencegah penyebaran terorisme. Beberapa contohnya (untuk versi lebih lengkap klik di sini):

  • Segera laporkan ke pihak yang berwajib jika ada aktivitas atau kelompok yang mencurigakan
  • Jangan sembarangan menyebarkan berita, terutama yang berhubungan dengan terorisme
  • Jika terjadi kasus terorisme, jangan menyebarkan ketakutan! Misalnya, menyebarkan foto atau video korban
  • Kenali orang-orang di sekitar lingkungan rumahmu, supaya kalian bisa lebih waspada dan saling berbagi informasi jika ada hal yang aneh
  • Belajar P3K, supaya bisa membantu korban
  • Banyak-banyak berdoa karena hanya Tuhan yang bisa mengalahkan teroris
Kesimpulan dari artikel yang panjang dan mungkin tidak mudah dimengerti ini adalah, terorisme tidak berbicara tentang kebencian antargolongan. Jadi, daripada kita saling menyalahkan agama satu sama lain, lebih baik kita bersama-sama berusaha mencegah terorisme menyebar lebih luas lagi :) Dan yang tidak kalah penting, tetap waspada!

Sources: 

Friday, 11 May 2018

Real Friend

Photo credit: HuffingtonPost.com

Kalian semua pasti familier dengan istilah "fake friends" kan? Fake friends atau temen palsu ini biasanya identik dengan "temen" yang dateng atau nyariin kita kalau lagi ada perlunya aja. Dan temen-temen semacam inilah yang berusaha kita hindari karena cuma bisa nyusahin dan bikin emosi. Tapi, apakah kita bener udah judge mereka sebagai "fake friends"?

Pertama-tama, coba kita lihat ke akar permasalahannya dulu. Fake friends muncul karena kita (atau mereka) berusaha untuk menjalin hubungan pertemanan. Kenapa kita butuh temen? Karena kita makhluk sosial. Apa itu makhluk sosial? Makhluk yang hidup berkelompok, selalu berinteraksi dengan sesamanya, dan saling membutuhkan satu sama lain. Do you get the idea?

Sesungguhnya, pertemanan sendiri muncul karena adanya kebutuhan. Tetapi, ketika kita dan temen kita memiliki kebutuhan yang sama, maka kita melihatnya sebagai "real friends". Sementara jika kebutuhan itu berat sebelah, kita akan menganggap orang tersebut sebagai "fake friends". Coba kalian renungkan ilustrasi di bawah ini:

Nana adalah seorang mahasiswi sosialita dan populer. Dia terkenal memiliki banyak sekali teman, tapi ketika disinggung, dia selalu menjawab, "Ah, sebenernya real friends aku cuma dikit kok bisa dihitung pake jari. Sisanya sih fake semua, cuma muncul kalo butuh bantuan doang." Suatu hari, salah satu temennya yang kepo tanya, "Na, sebenernya lu nganggep gue real friends ato fake friends sih?" Nana ketawa sebentar terus menjawab, "Lu gila ya? Kalo lu aja gue anggep fake, terus siapa lagi yang real? Cuma lu yang selalu mau nemenin gue ngafe, shopping, bahkan pas gue nge-date pun lu tetep mau temenin. Lu juga selalu siap buat dengerin curhat gue, nenangin gue waktu sedih. Banyak lah jasa lu buat gue!" Dan temennya hanya bisa tersenyum sambil berpikir: kok kayanya dia yang fake ya?

Apakah definisi real friends kalian sama dengan Nana? Selama ini kita berpikiran bahwa real friends adalah temen yang selalu ada dan siap kapanpun buat kita. Tanpa disadari sesungguhnya yang kita tekankan di sini adalah bagaimana temen kita bisa membantu/memenuhi kebutuhan kita. Jadi sebenernya yang fake siapa?

Mungkin sampai di sini beberapa dari kalian merasa bingung atau jadi merenung apakah kalian udah menjadi temen yang baik. Mungkin sebagian dari kalian merasa bahwa pemikiran aku aneh dan lebay. Untuk menghindari hujatan lebih lanjut, aku mau menekankan: nggak ada salahnya berteman karena kebutuhan. Banyak ahli, terutama psikolog, yang menyimpulkan bahwa kebutuhan sosial itu cukup krusial bagi kehidupan manusia. Menurut Teori Maslow (ceritanya biar keren kaya mahasiswa beneran gitu), kebutuhan sosial berada pada tingkat ketiga dari lima tingkat kebutuhan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan sosial memang cukup urgent untuk dipenuhi.

Oke, sekarang kalian tahu bahwa manusia berteman karena kebutuhan dan kebutuhan itu harus dipenuhi. Jadi kita bisa anggap semua orang real friends dong? Nggak juga, karena manusia sudah jatuh dalam dosa sehingga tak satupun dari mereka adalah benar. Maksudnya, tentu nggak semua orang berteman sama kita setulus itu, tapi apakah mereka fake? Sedikit saran, daripada melabeli seseorang "fake friend" lebih baik kita menganggap mereka "temen yang nggak peka". Kamu nggak pernah tau apa yang ada di pikiran seseorang. Bisa aja orang yang kamu anggep fake, selalu minta bantuan kamu karena emang cuma kamu yang bisa dia andalkan, sayangnya kamu kurang asik buat jadi sahabat gaul dia :(

Kesimpulannya, jangan semudah itu melabeli seseorang sebagai "fake friends" karena bisa aja asumsi/pemikiran kamu tentang mereka itu salah. Kamu nggak pernah tau kan kalo temen curhat kamu sebenernya cape dengerin kamu curhat dan drama? Untungnya, label "persahabatan" membuat seseorang lebih kuat dalam menghadapi tingkah laku menyebalkan dari sahabatnya. Dan yang terpenting, jangan membenci temen yang nggak peka (atau kalian masih tetep mau pake istlah "fake friends"? Terserah) karena lebih baik ada yang nyariin dibanding nggak sama sekali :)

Monday, 7 May 2018

Come Back


It’s been a while since the last time I wrote something on this blog. Or I can say, that’s the last time I was diligent and passionate enough to verbalize my thoughts. Yes, I have been lazy. No, I’m not dead or sick or amnesia. I won’t say that I was too busy with my life because I believe nobody will ever be ‘too busy’ if you are willing to make time for something. In this case, I didn’t spare anytime to write or to think about my blog. Therefore, I’m here to plead myself guilty.

For the past year, of course I was busy with university stuff. Basically, what I have done for the last one and a half years was studying (for good grades), attending organization meetings (to develop interpersonal skill), sleeping (to keep me sane), and eating (to make me happy). What a productive year, huh? I know it’s kind of pathetic, but I struggled enough to keep my life balanced. So here I am, in my last year of university (I hope), trying to make the best out of it. That’s why I decided to start writing in this blog again. And this time, I want to be more dedicated since I supposedly have lots of free time. For me, writing is the way I tell my story and my thoughts because, in everyday life, I am too shy to actually speak up. And I feel happy to know that people read my writings. In conclusion, I’m trying my best to be able to update this blog more regularly since I don’t want my free time to go to waste. I hope you who read this won’t fall to the lazy-and-unproductive hole like me :) If you do, get up, there’s still time to change!

Thursday, 2 February 2017

What Life Does

Life is always full of surprises
Everybody knows
But still,
nobody can be aware of what life will bring you next
Like how life makes me the happiest person
without me even expecting it
And just as usual,
life also mercilessly takes it all
It does hurt at some point
But again,
I have experienced it too many times
So many that it doesn't even hurt that much anymore
So many that I don't even care anymore
However life is not that bitter though
It is still beautiful
and I'm not giving up on my dreams
Because it's not the life's fault
it never was
Life is always worth living for
no matter how hard it crushes you
You are the one to learn how to survive
and how to be happy
as life just does what it does

Friday, 27 January 2017

Chinese New Year Post (again)

What? It's Chinese New Year already? Wow.
I can't believe that I actually (and finally) write another post again after almost a year! That's somewhat a proof of what a lazy/irresponsible/unmotivated blogger I am...
Anyway, let's not focus on the negative part since it's CHINESE NEW YEAR! Yeah, finally it's that time of the year again. Time when the relatives you haven't met since last Chinese New Year show up, time to hear the loud chit-chats between adults, time to experience that awkward moments between the cousins you barely know, and of course TIME FOR THE RED ENVELOPE! Everybody loves receiving that red envelopes. I mean, who hates receiving money? Although you have to bear the awkward moments caused by those relatives you met only on that day of the year. But it's totally fine since you have those red envelopes to cherish you.

Many of you must have those relatives you hardly know, but you should act like you care on Chinese New Year so that your parents won't scold you. And I know how awkward and torturing that is. Pretending to enjoy the moments while you only want to lock yourself up in the bedroom. Why are parents so thoughtless? Why do they even think that I can mingle with them just fine when I can count how many times I met them with my fingers? Maybe those are your thoughts. As terrifying as it could be, you should also see the positive side. The reason why your parents forced you to "face" your relatives is just because blood is thicker than water. Yeah, I know it sounds cliché, but it's true. Getting to know your relatives better can give you advantages in the future. Who knows someday you'll need their help? Or maybe they can give you connections to your dream job? Just believe that what your parents told you to do is for your own good. 

You need to remember that Chinese New Year is not about the red envelopes. It's always about the family. So, you shouldn't be selfish. At least you should greet your relatives and treat them well since you've received the money. Do you get it now? Embrace that awkwardness and spread the Chinese New Year spirit! Happy Chinese New Year everybody!