Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Thursday, 11 September 2014

That Stranger (I)


Bandara Soekarno-Hatta, Indonesia

Waktu itu jam baru menunjukkan pukul 05.00 pagi, tapi dia sudah berada di bandara, menunggu penerbangannya ke Singapura untuk berlibur. Dia di sana bersama keluarganya. Sambil menunggu, dia mengeluarkan handphone-nya. Setelah bosan mengutak-atik handphone, ia hanya duduk memerhatikan orang-orang di sekitarnya. Dilihatnya kedua orang tua dan adiknya masih sibuk dengan handphone masing-masing. Begitu juga dengan kebanyakan orang yang menunggu di sana. Tiba-tiba matanya menangkap suatu pemandangan yang tidak biasa. Seorang lelaki berwajah cukup menarik dengan hem kotak-kotak berwarna biru dan celana jins panjang sedang duduk sendirian, menjauh dari keramaian. Diam-diam, ia menilai penampilan laki-laki itu. Ganteng juga cowok itu. Hidungnya mancung, matanya bagus, alisnya tebel, badannya juga proporsional. Kira-kira dia udah punya pacar nggak ya? "Kak, ayo cepetan! Nanti ditinggal pesawat lho," seru adiknya tiba-tiba. Mau tidak mau, dia menghentikan proses "penjurian"-nya. Segera ia bangkit dan bergegas menuju boarding gate, mengikuti adiknya. Namun, di sela-sela perjuangannya menerobos kerumunan orang, ia masih menyempatkan diri melihat lelaki itu dari ekor matanya. Tampak lelaki itu berbeda dengan orang kebanyakan. Ia tidak berusaha menjadi yang pertama masuk ke boarding gate. Malah, ia hanya berjalan santai mengikuti arus. Jarak antara lelaki itu dan dia pun semakin jauh sampai akhirnya lelaki itu hilang di tengah keramaian.

Changi Airport, Singapura

Dua jam perjalanan memang terkesan sebentar. Tapi, untuk orang dengan fobia ketinggian mungkin itu adalah cobaan hidup. Tidak terkira betapa leganya dia ketika menginjakkan kaki di darat setelah penerbangan selama "dua jam yang mempertaruhkan nyawa". Kemudian, dia mengikuti prosedur umum : melewati proses imigrasi. Setelah lolos, ia pun menuju tempat pengambilan bagasi. Diamatinya setiap koper yang lewat di depannya. Anehnya, lagi-lagi matanya menangkap sosok yang tidak asing. Laki-laki itu. Laki-laki ganteng dengan hem biru kotak-kotak. Tanpa sengaja mata mereka bertemu. Dia pun segera memalingkan mukanya, tidak mau dianggap norak ataupun menakutkan. Namun, diam-diam ia masih melirik ke arah laki-laki itu. Tak lama kemudian, lelaki itu telah mendapatkan kopernya dan bergegas pergi. Dalam hati dia sedikit kecewa, masih belum puas memandangi sosok berbaju biru kotak-kotak itu. Sesaat muncul pikiran gila, apa ini yang namanya jodoh? Tapi segera ditepisnya pikiran itu, tak mau liburannya terganggu oleh hal yang tidak jelas. Segera setelah mendapatkan kopernya, ia dan keluarganya pergi ke hotel mereka. The holiday has just begun!

Harbour Front MRT Station, Singapura

Singapura memang kota maju, tapi penduduknya sama sekali tidak sombong, terutama dalam hal berkendara. Beda sekali dengan Indonesia. Mobil dan motor senantiasa memenuhi seluruh ruas jalan. Di Singapura, masyarakatnya lebih memilih untuk berjalan kaki atau menaiki kendaraan umum. Tak terkecuali dengannya. Untuk menghemat uang, dia dan keluarganya memilih untuk berjalan kaki atau naik MRT. Tapi akibatnya, kaki jadi pegel semua karena tidak terbiasa berjalan kaki. Ditambah lagi, kakinya kesleo ringan setelah jatuh di tangga hotel. Sakitnya sampai kaki rasanya mau putus. “Aduh, kenapa MRT-nya nggak dateng-dateng sih!” rutuknya perlahan. Menunggu memang bukan kegiatan favoritnya, apalagi menunggu dengan kondisi kaki yang “tidak layak”. Seakan kaki saja yang capek tidak cukup, handphone-nya juga ikut-ikutan capek. Bisa dibayangkan, menunggu tanpa ditemani handphone di era modern ini seperti cacing kepanasan, gelisah, tak tahu harus berbuat apa untuk menyibukkan diri. Di sela-sela kegelisahannya, matanya melihat baju biru kotak-kotak yang sangat familier. Lagi-lagi dia! Kalo di film sih, biasanya cowok itu bakal ngajak aku kenalan. Terus kita tukeran nomer HP, jadian, dan hidup bahagia selamanya, batinnya sambil senyum-senyum sendiri. “Heh! Ngapain kamu senyum-senyum sendiri! Dasar gila! MRT-nya bentar lagi dateng tuh.” seru adiknya sambil memukul lengannya, menghancurkan imajinasinya. Reflek, ia pun membalas pukulan adiknya. “Enak aja, kamu itu yang gila!”
Ketika dia sedang sibuk berdebat, MRT yang akan ditumpanginya datang. Ia pun menghentikan perdebatannya dan menunggu penumpang turun sambil mengambil posisi sedekat mungkin dengan pintu MRT agar dia bisa cepat masuk. Dilihatnya, lelaki itu tidak bergeming. Dengan sabar, atau lebih tepatnya cuek, dia menunggu setiap penumpang yang turun. Kemudian dengan tenang masuk ke MRT sesuai giliran. Laki-laki itu memang berbeda dengan orang kebanyakan. Dia tidak pernah terburu-buru ataupun berdesak-desakan. Ia selalu mengikuti arus. Begitu juga ketika di dalam kereta, ia memilih menjauh dari kerumunan orang yang berdesakan di dekat pintu kereta.

Sejak pertemuan di stasiun MRT itu, ia tidak pernah lagi secara kebetulan bertemu dengan lelaki itu. Liburannya yang seru juga membuat dia lupa tentang si baju biru kotak-kotak. Tapi itu hanya sesaat. Terkadang, ia masih teringat dengan beberapa pertemuannya yang sangat tidak masuk akal jika dianggap kebetulan. Apa ini takdir? Masa dia jodohku? Kalo iya, nggak apa-apa sih. Habisnya dia ganteng sih!

Wednesday, 10 September 2014

Kisah Tentang Hujan (II)


Udah baca bagian pertama? Kalo belum, baca dulu ;)

Gadis itu dulunya sangat membenci hujan. Baginya, hujan adalah hukuman dari Tuhan supaya dia tidak terus-terusan pergi bersama teman-temannya, tetapi belajar di rumah. Namun, seulas senyum manis dari pemuda tak dikenal mengubah persepsinya tentang hujan. Kini, diam-diam ia menantikan “hukuman” itu. Membayangkan bagaimana hujan mempertemukan mereka dan bermimpi lain kali hujan akan mempertemukan mereka kembali.

“Milly! Kamu udah kerja PR Matematika?” Merasa ditanya, gadis itu pun menjawab, “Emang kita ada PR?” “Ada, dodol! Ayo cepet nyari contekan, 5 menit lagi bel nih,” jawab si gadis penanya yang bernama Tia tersebut. Milly pun segera mengikuti Tia mencari jawaban PR Matematika.

“Mil, tumben kamu tadi nggak kerja PR? Biasanya kamu rajin banget kerja PR.” tanya Tia. “Aku lupa nih, kamu nggak ngingetin sih,” jawab Milly santai. “Nggak salah nih? Kan biasanya kamu yang ngingetin aku. Kamu kenapa sih? Jangan-jangan udah ada gebetan baru ya?” goda Tia. Entah kenapa, Milly menjadi salah tingkah. Mukanya memerah dan ia hanya bisa tersenyum malu. Melihat tingkah laku sahabatnya yang tidak wajar, Tia mengerti bahwa tebakannya benar. “Siapa namanya? Anak sekolah ini? Kamu kok nggak pernah cerita sih,” tanya Tia menginvestigasi. “Gimana mau cerita, aku aja nggak tahu namanya. Aku juga nggak tahu dia sekolah di mana,” jawab Milly lesu. “Hah? Kamu bercanda, Mil? Jangan-jangan kamu ketemu cowok itu di mimpi. Hahaha..” Sebuah cubitan langsung mendarat di lengan Tia. Bukannya kesakitan, tawa Tia malah semakin menjadi-jadi. Mau tak mau, Milly juga ikut tertawa, meskipun dalam hati ia agak setuju dengan perkataan Tia bahwa mungkin laki-laki manis itu memang hanya bisa ia impikan saja.

Lagi-lagi hujan. Padahal bel pulang sekolah baru saja dibunyikan. Akibatnya, banyak murid-murid yang terpaksa menunggu hingga hujan reda, termasuk Milly. Sambil menunggu, ia mengamati guyuran hujan itu dan pikirannya pun langsung tertuju pada seorang pemuda berlesung pipit dengan senyum yang manis. Tiba-tiba, muncul pemikiran gila dalam otaknya, kalau sekarang aku ke perpustakaan, apa aku bisa ketemu lagi sama dia? Tapi akal sehatnya masih berfungsi, gila kamu, Mil! Kamu kira ini sinetron? Ia pun memutuskan untuk tetap menunggu hingga hujan reda. Meskipun dari luar ia tampak tenang, sebenarnya dalam benaknya terjadi perang antara perasaan dan logikanya. Tidak sampai 5 menit, perasaannya menang. Tanpa berpikir lagi, ia langsung membuka payungnya dan menerjang hujan yang masih turun deras. Sesampainya di perpustakaan, Milly tidak menemukan pemuda itu. Ia kecewa, namun memutuskan untuk menunggu di dalam perpustakaan. Diambilnya sebuah novel roman, kemudian duduk di salah satu kursi. Tak seperti biasanya, sebuah novel pun tak mampu menenangkannya. Setelah 20 menit membaca, ia memutuskan untuk pulang saja. Namun, di depan perpustakaan, dia melihat seorang lelaki yang wajahnya tak asing lagi. Melihatnya, lelaki itu tersenyum, memamerkan lesung pipit yang manis. “Hai, nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi di sini,” sapanya, masih tersenyum. Milly hanya membalas dengan senyuman. “Masih nggak mau pinjem payung?” tawarnya sambil menyodorkan payung. Milly menggeleng, “Nggak usah, aku udah bawa payung kok.” “Ooh,” jawab lelaki itu singkat, terdengar sedikit kecewa. Kemudian timbul keheningan di antara mereka. Di satu sisi, Milly tidak rela meninggalkan lelaki itu. Di sisi lain, lelaki itu tidak terlihat ingin beranjak. “Omong-omong, kita belum kenalan. Aku Milly. Namamu siapa?” tanya Milly memecah keheningan. “Kevin. Namaku Kevin,” jawab lelaki itu sambil menjulurkan tangan mengajak bersalaman. Tak lupa senyum manisnya ia pertunjukkan. Milly menanggapi ajakan bersalaman itu. Jantungnya berdegup sangat kencang ketika tangannya menggenggam tangan Kevin. “Berarti sekarang kita temenan, kan? Boleh minta nomor HP atau pin BB kamu?” tanya Kevin tiba-tiba. Entah karena terpesona oleh  senyum Kevin atau memang pikirannya sedang tidak waras, Milly langsung memberikan nomor handphone-nya. “Thanks. Nanti kalo aku telepon, diangkat ya,” kata Kevin, senyumnya yang manis masih bertahan di wajahnya. Tanpa terasa hujan sudah reda. Bersamaan dengan itu, mereka pun berpisah, kembali ke rumah masing-masing. Saling melambaikan tangan dengan senyum yang terus merekah.

Seperti sudah ditakdirkan, hujan kembali mempertemukan mereka. Apa ini yang namanya jodoh?

- END -

Tuesday, 29 July 2014

Mencintaimu

Mencintaimu bukanlah sesuatu yang bisa kuhindari. Meskipun sudah berulang kali kukatakan pada diriku untuk berhenti melihatmu, tak dapat kucegah jantungku yang berdebar lebih cepat ketika aku mendengar suaramu. Aku terus meyakinkan diriku bahwa kau tidak baik bagiku. Sifatmu yang keras kepala dan cuek, bukanlah kombinasi yang tepat untuk menaklukkan hati seorang wanita. Namun, harus kuakui, aku tertarik padamu karena alasan yang tidak kumengerti. Apakah itu matamu? Senyummu? Atau sikapmu?

Mencintaimu seperti menaiki roller coaster. Menegangkan dan penuh kejutan. Terkadang kau membuatku melambung tinggi,  setelah itu kau jatuhkan aku tanpa peringatan. Mencintaimu seperti masuk ke dalam rumah kaca. Aku merasa kau ada di sekelilingku, tapi itu semua adalah semu, hanya pantulan dari dirimu. Yang pasti, mencintaimu itu abu-abu. Aku tak bisa paham, apakah kau benar mencintaiku atau hanya pura-pura? Anehnya,  aku terus mengikutimu dalam ketidakjelasan ini. Aku bisa saja lari, namun aku tak mau. Karena di samping sakit yang kau berikan, masih ada kebahagiaan yang membuatku bertahan. Dan aku tidak tahu apakah aku bisa sebahagia ini jika melepaskanmu?

Kata orang, cinta seharusnya tidak menyakiti. Lalu, apakah mencintaimu itu salah? Aku tahu aku seperti orang bodoh yang mau hidup dalam ketidakpastian. Entah sudah berapa kali sakit hati aku rasakan, yang aku lakukan hanya tetap bertahan. Meyakinkan diriku sendiri bahwa aku cukup kuat. Tapi, bodohkah aku yang menginginkan kebahagiaan? Atau haruskah aku melepaskanmu?

Monday, 21 October 2013

Masih

Cinta itu menyusahkan.
Cinta itu membawa kelemahan.
Cinta akan berakhir pada sakit hati.

Prinsip-prinsip itulah yang membawaku pada kesimpulan ini.
Aku harus melupakanmu.

Menghapus cinta yang tak jelas ujungnya ini, membuang perasaan sepihak ini.
Memang akan susah, tapi aku akan berusaha.

Lama aku bergumul dengan hati kecilku.
Berusaha menepis bisikan-bisikan menjerumuskan, berkecamuk dengan pikiran dan perasaan yang tak sejalan.

Dan saat itu pun tiba.
Saat di mana aku mendeklarasikan pada dunia kecilku,
aku telah melupakannya.

Hari-hariku berjalan mulus tanpa beban.
Tak ada lagi waktu untuk memikirkan senyum manismu.
Tak ada lagi kesempatan bagi sosokmu untuk terbesit di pikiranku.

Kemudian,
kamu pun datang kembali.
Dengan segala keramahan dan kebaikan hatimu.
Bersama kekonyolan dan kecerobohanmu yang membuatku tertawa.
Aku kira aku pasti bisa menanggapinya layaknya seorang teman.
Ingat,
Aku sudah melupakannya.

Atau setidaknya itulah yang selalu kupercaya.

Ternyata aku gagal.
Aku tidak pernah berhenti mencintainya.
Berhenti memikirkan dia, bukan berarti aku sudah benar-benar melupakannya.
Hanya keangkuhan dan sifat keras kepalaku yang menolak dia.
Walaupun sesungguhnya hatiku meronta,
tak ingin dipaksa untuk berhenti mencinta.

Dan ketika pemicu itu muncul kembali,
robohlah semua benteng pertahanan itu.

Terkadang,
kudapati diriku terkadang masih memandangnya,
masih mengaguminya,
masih memikirkannya,
masih mengharapkannya,
.
.
.
masih mencintainya.

Friday, 5 April 2013

Dear Yuli


Aku menatap layar laptop yang menampilkan foto-foto seorang cowok dalam berbagai pose sambil tersenyum. Tanpa sadar, sesekali aku menggumam, “Kenapa ada cowok seganteng ini ya?” Cowok itu memang ganteng sekali. Terlalu ganteng hingga tak ada kata-kata yang tepat untuk menjelaskan ketampanannya. Entah kenapa, tapi wajahnya dalam berbagai mimik dan segala tingkah lakunya begitu membuatku terpesona. Hanya melihat senyumnya mampu membuatku ikut tersenyum. He’s the first guy to make me smile with no reason.

Lee Donghae. Itulah nama cowok, atau lebih tepat disebut artis, yang berhasil membuatku gila seperti orang jatuh cinta. Dia tidak pernah berbuat baik padaku, dia juga tidak pernah tersenyum padaku, bahkan aku tidak pernah bertemu dengannya! Tapi entah kenapa, aku tetap memujanya. Sejak pertama kali aku melihat wajahnya di sebuah majalah, aku langsung menyukainya. Semakin lama, bukannya melupakan, aku malah semakin tergila-gila. Aneh memang. Mungkin ada yang berpikir hal ini menyeramkan, aku terkesan seperti seorang stalker yang psikopat. Tapi tentu saja aku bukan orang seperti itu. Aku hanyalah seorang gadis remaja normal yang baru saja menemukan idolanya.

Aku masih saja memandangi foto-fotonya tanpa merasa bosan sedikit pun. Tiba-tiba saja aku teringat akan seseorang. Orang yang membuatku semakin tergila-gila padanya. Orang yang menjadi tempatku berbagi informasi dan cerita tentangnya. Orang yang akhirnya menjadi bagian penting dalam hidupku. Orang yang akhirnya juga menjadi tempat aku menceritakan segala suka cita dan keluh kesahku. Sahabatku.

Jujur saja, aku sudah lupa bagaimana kita bisa menjadi sedekat ini. Sejak awal kelas 9 aku sudah tahu kalau dia memiliki idola yang sama denganku, tapi hal itu tidak membuat kami langsung akrab. Namun aku masih mengingat saat-saat kita mulai dekat dengan jelas. Saat-saat yang tidak mungkin aku lupakan. Keberadaannya ketika itu sungguh berdampak besar bagiku. Selain tentu saja, stress saat ujian berkurang, saat itu juga yang membuat dia menjadi sahabatku sekarang.

Satu tahun yang lalu, bulan April tahun 2012, memasuki musim ujian.
Entah kenapa kita menjadi dekat. Tiba-tiba saja kita sering menghabiskan waktu bersama-sama. Pergi ke manapun bersama. Bercanda bersama, bergosip bersama, yah, intinya selalu bersama. Banyak hal yang dibicarakan, mulai dari teman-teman, ujian, sampai idola. Sejak saat itu pula, dia banyak menceritakan kepadaku tentang Donghae. Dan aku, perlahan-lahan mulai berani mengungkapkan kecintaanku terhadap artis tampan tersebut. Aku menjadi berani mengakui bahwa aku adalah fansnya. Itu semua berkat dia, sahabatku. Itu semua berkat seseorang yang bernama Yuli.

Mengingat peristiwa itu membuatku tersenyum, heran. Bagaimana mungkin dalam waktu sesingkat itu dia bisa langsung menjadi sahabatku? Bahkan sampai sekarang ketika kita sudah masuk di sekolah berbeda. Mungkin inilah yang dinamakan takdir. Tuhan yang merencanakan seorang Yuli untuk menjadi sahabatku. Entah sudah berapa banyak SMS yang aku kirimkan kepadanya, baik sekedar menceritakan betapa kerennya Donghae, sampai betapa aku sangat merindukan kehadirannya. Entahlah. Semua ini berjalan terlalu cepat. Untunglah hal itu tidak merusak persahabatan kami.

Terkadang aku menyesal. Mengapa baru mengenal dia menjelang kelulusan? Mengapa tidak berteman dengannya sejak awal? Memang terkadang rencana Tuhan sungguh tidak bisa ditebak. Tapi aku tahu pasti, bahwa Dia sungguh tahu apa yang terbaik bagiku. Dia telah memberikanku seorang sahabat baru yang bisa diandalkan. Tak bisa kuungkapkan betapa aku berterima kasih pada Tuhan, juga pada Lee Donghae yang telah mempersatukan kami. Lalu, jika aku tidak mengidolakan seorang Lee Donghae, apakah aku tetap bisa bersahabat dengan seorang Yuli? Ataukah aku akan menemukan Yuli lainnya? Mungkin pertanyaan itu tidak seharusnya terjawab. Cukup mengetahui sekarang aku memiliki Yuli sebagai seorang sahabat, tak peduli mengapa dan bagaimana.

P.S. : (for Yuli, if you read this) Aku memang bukan tipe orang yang bisa mengungkapkan semua yang aku rasakan dengan mudah, malah aku cenderung menutupinya. Aku harap dengan tulisanku ini kamu mengerti kalau kamu berharga bagi aku. You can always count on me :) ELFish forever, ok? ({})

Sunday, 10 February 2013

Flashback

Di posting ini aku akan flashback tentang kegiatan serta canda tawa yang dulu aku lalui saat di SMP (ea). Walaupun emang masih suasana Imlek sih (and ofc LIBUR!!), tapi entah kenapa aku jadi keinget kebiasaanku pas SMP. Bukan bermaksud untuk ber-galau ria. Juga bukan bermaksud untuk sok melankolis kayak di film pake flashback2 segala. Dan pastinya bukan berarti aku lagi amnesia ringan, terus tiba-tiba karena ketatap lemari muncul flashback. Entah kenapa, pingin flashback aja.
Kehidupan dan kebiasaanku di SMA ini hampir sangat berbeda dengan kebiasaan di SMP. Emang masih sama-sama sekolah, masih tetap belajar, tetap bangun pagi, tetap ada ulangan, tetap ada PR, tapi pasti ada yang berbeda. Mulai dari letak sekolah. Sekarang jam 6 pagi aku udah berangkat ke sekolah, naik antar jemput. Padahal dulu jam 6 aku baru bangun, berangkat naik mobil pribadi. Rasanya aneh aja, sekarang jarak antara sekolah sama rumah jauh banget. Jadwal pulang harus bener-bener tertata, ato kalau nggak, gak ada yang jemput. Habis jauh sih. Nunggu jemputan juga jadi lama banget. Berhubung jarak jauh, sama macet juga menyebar di mana-mana. Hal ini yang langsung membuat mood jadi jelek banget. Udah capek habis ekstra, tas beratnya kayak mau pergi perang, masih harus nunggu 30 menit lebih. Dulu di SMP? Gak perlu khawatir sama yang namanya jadwal pulang. Tinggal ngomong, "Ma, nanti jemputnya kalo aku udah telpon." Jam berapa pun aku pulang, 10 menit setelah aku telepon pasti udah dijemput. Kalo sekarang kayak gitu? Bisa-bisa aku dibantai sama mama -___-
Kedua, jadwalku juga udah berubah. Sekarang ini aku lagi dalam masa-masa kangen sama yang namanya BAND. Yup. Aku kangen banget nge-band!! Di SMA ini aku emang nggak ikut band. Kenapa? Males. Ekskul band-nya terlantar, temennya juga gak ada yang connect. Udah terlanjur pas sama band yang lama, semacam gagal move on gitu. Aku jadi inget, kalo dulu di SMP, sering banget pulang sore gara-gara latian band. Biasanya liburan gini juga di sekolah buat latian band. Capek memang, tapi seneng. Sekarang? Boro-boro nge-band, nyentuh keyboard aja jarang. Susah banget nemu waktu yang cocok buat latian, berhubung anggota band-ku dulu udah menyebar di mana-mana. Aku kangen banget sama latian band, kangen sama suasana-suasana tegang nan khawatir pas nyiapin lagu buat lomba, kangen sama tepuk tangan dari penonton yang ngeliat kami, kangen sama momen-momen pas kita dapet juara, dan yang paling penting kangen sama semua personil-personilnya yang gak bener tapi nyenengin.
Waktu di SMP dulu, pulang sore itu rasanya biasa banget, malah aku bangga bisa pulang sore. Berasa sibuk gitu. Tapi sekarang? Rasanya pingin pulang pagi terus. Pingin cepet-cepet nyampe rumah. Emang hampir setiap hari pulang sore, tapi aku sama sekali gak ngerasa bangga, secara banyak juga yang pulang sore. Kalo sekarang, pulang sore pasti gara-gara ekstra atau pengayaan. Kalo nggak gitu ya rapat. Kegiatan yang menyenangkan di SMA adalah, OSIS-nya berfungsi. Aku inget banget kalo dulu di SMP, OSIS itu baru kerja pas MOS, itu pun cuma buat dimintai tanda tangan. Selebihnya, OSIS cuma semaca pembantu yang menata kursi buat pertemuan orang tua, jadi penerima tamu, dkk. Rapat jarang banget. Kalo ada rapat pun, yang rapat paling cuma anggota inti, sisanya mbambong. Di SMA aku bener-bener ngerasain apa yang disebut dengan OSIS. Fungsinya kelihatan, bukan sekedar pelengkap struktur sekolah. Itu cukup menyenangkan. Aku jadi merasa dibutuhkan (cie)
Yang terakhir, tapi yang terpenting, yaitu, di SMA ini gak ada geng-ku! Jangan salah sangka dulu, aku nggak ikut geng yang gak bener kok, cuma mbentuk geng kelas teri lah, yang isinya remaja-remaja labil. Di SMA ini geng-ku udah bener-bener mencar. Ada sih yang satu sekolah, tapi kan tetep aja terasa aneh. Yang biasanya berempat ke mana-mana, sekarang sendirian. Aneh banget. Aku sih udah mulai bisa adaptasi di kelas. Tapi aku tetep berpikir, kelas ini akan jadi semakin sempurna kalo ada mereka. Sering di tengah-tengah pelajaran, tiba-tiba aku nemu sesuatu yang menurutku lucu, tapi sekelas gak ada yang tertawa, otomatis aku diem juga. Padahal dalam hati aku mikir, coba kalo ada mereka, pasti udah ketawa sampe nangis-nangis nih. Temen-temen di SMA ini juga beda banget sama temen di SMP. Rasanya lebih individualistis, egois. Yang beda lagi, dulu di SMP, walaupun pulang sore, tapi tetep aja aku bisa nemuin temen yang bisa diajak ngobrol waktu nunggu jemputan. Sekarang? Ngomong aja sama tembok. Nobody cares. Kadang jadi sejenis miris gitu, nunggu sendiri, termenung di pinggir jalan yang beratapkan seng. Dengan deru mobil menemani, dan tawa tukang becak sebagai backsound. Miris sekali.
But, everything changes. Our life changes. It depends on how we face it, how we deal with it. Are you gonna suffer from it? Or are you managed to defeat it? It's all your choice. Wish you luck with the changes around you :)

Saturday, 26 January 2013

Kisah tentang Hujan (I)


Ini adalah sebuah kisah di mana hujan bisa mengubah hidup seorang gadis remaja. Sebuah kisah tentang hujan yang ternyata membawa banyak kenangan indah. Sebuah kisah tentang gadis yang selalu menunggu hujan. Sebuah kisah di mana hujan merupakan pertanda sebuah kisah cinta.

Mentari yang sedari pagi bersinar cerah tiba-tiba menghilang, tergantikan oleh gumpalan awan kelabu yang dalam sekejap menguasai langit. Sesekali terdengar gemuruh petir menyambut kedatangan sang tamu agung. Tak lama kemudian dia pun datang. Berawal dari uap air dalam awan yang terkondensasi membentuk tetesan air yang langsung meluncur ke permukaan bumi. Setetes demi setetes, disusul jutaan tetes lainnya langsung membasahi bumi. Tanpa memberi banyak waktu bagi para makhluk di bumi untuk berpikir, hujan langsung mengusir mereka kembali ke tempat persembunyiannya.
Hujan tampaknya juga memaksa seorang gadis untuk berteduh. Ia baru saja melangkahkan kakinya keluar dari perpustakaan ketika tiba-tiba hujan turun dengan deras. Dengan sedikit jengkel, ia pun berteduh di teras perpustakaan itu, memilih untuk mengamati hujan yang turun daripada kembali ke dalam perpustakaan. Ketika ia sedang asyik mengamati guyuran hujan, seseorang menyodorkan payung kepadanya. Ia pun menoleh. Seorang pemuda kira-kira seumurannya berdiri di sampingnya untuk menawarkan payung. Pemuda itu tinggi, berkulit putih bersih dan berbadan tegap. “Payung?” tanyanya sembari tersenyum, memamerkan lesung pipit yang membuat senyumnya manis. Merasa diamati, pemuda itu segera menambahkan, “Tenang saja, aku bukan penculik atau perampok, kok. Aku cuma pingin nolong kamu.” Mendengar perkataannya, tentu saja gadis itu menjadi malu, tampak dari semburat pink yang muncul pada kedua pipinya. “Eh, maaf, bukannya aku ngira kamu jahat. Memangnya kamu nggak butuh payung?” jawab gadis itu segera. “Nggak, aku kan laki-laki. Nggak masalah kalau kena hujan.” ucap pemuda itu. “Nggak bisa begitu lah, ini kan payung kamu, masa aku yang pakai? Kamu sampai bela-belain kehujanan lagi. Nggak usah deh, makasih. Aku nunggu sampai hujannya reda aja,” tolak gadis itu. Pemuda itu tidak mengucapkan apa-apa lagi. Dia hanya diam, ikut menunggu bersama gadis itu. Menghadapi hal semacam ini, gadis itu menjadi salah tingkah. “Kenapa kamu nunggu aku?” tanya gadis itu penasaran. Pemuda itu tersenyum, kembali memamerkan lesung pipitnya. “Jarang-jarang aku ketemu cewek kayak kamu. Makanya aku nggak mau pergi sebelum bisa membuatmu terkesan.” Sebenarnya, tanpa dia sadari, gadis itu sudah terkesan padanya sejak saat ia menawarkan payung. Karena bingung harus menjawab bagaimana, gadis itu hanya terdiam dan menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sedang tersenyum bahagia. Dia tidak ingin pemuda itu tahu betapa ia sangat senang bisa diperhatikan olehnya. Tanpa terasa 30 menit berlalu, hujan pun mereda. Selama itu pula mereka hanya berdiri bersebelahan tanpa suara. Tak satu pun dari mereka memulai pembicaraan. “Hujannya sudah reda. Aku pulang dulu ya?” ucap gadis itu memecah keheningan. Lagi-lagi pemuda itu tersenyum dan mengangguk, menyetujui kepulangan gadis itu. Walaupun merasa sedikit kecewa, akhirnya gadis itu melangkahkan kakinya ke jalan. Tiba-tiba pemuda itu berteriak, “Aku harap kita bisa bertemu lagi!” Namun gadis itu tidak menoleh. Padahal sesungguhnya gadis itu sangat bahagia. Dia hanya berusaha menyembunyikan senyumnya. Jangan memberi harapan kepada orang asing! Lagipula, apakah mungkin kita bertemu lagi? ucapnya dalam hati. Mereka pun berpisah tanpa sempat mengenal satu sama lain. Bahkan sekedar nama pun tidak tahu. Hujan telah mempertemukan mereka. Akankah hujan mempertemukan mereka untuk kedua kalinya?

Saturday, 27 October 2012

A Little Note for You

You don't even know me, but somehow I feel like having known you so well. Everyday in my mind, there's you standing there with the camera hanging on your shoulder and that cute smile on your face. It was a very short meeting and I think you didn't even notice me. I was just another hundreds of people you met that day. Despite the fact that I also met hundreds of people in the same day, you are the only one whom I remembered clearly. Your name, your voice, your smile, it somehow stuck in my mind. You might be not the most handsome guy, but you absolutely got my attention.
Is this love? I can't be in love. I don't believe in love at the first sight actually. It just seems to be impossible for me. Loving someone cannot be that easy. But, is that important? The point is, I'm attracted to you, that's all. It may be love or not, it doesn't matter. I just want to enjoy this moment for a while, without being distracted by those complicated love things. So, may I?

Tuesday, 1 May 2012

Catatan Kecil


Pernahkah kau merasa kecewa? Kecewa pada seseorang yang selalu memerhatikanmu? Mungkin kalian pernah mengalaminya, atau mungkin tidak pernah. Tapi yang pasti, aku pernah mengalaminya. Saat itu aku merasa sedih sekaligus kecewa, karena di saat aku membutuhkannya dia tidak ada. Di saat aku merindukannya, dia tak memberikanku sebuah senyuman. Memang hal semacam itu tidak membuat aku tersiksa atau sekarat, tapi cukup ampuh untuk mengecewakan aku. Cukup hebat untuk membuatku merasa tidak dihargai dan tidak dicintai. Peristiwa sepele ini yang sepertinya akan terus menghantuiku selama beberapa tahun ke depan.
Namun, pernahkah kau berpikir? Bahwa orang yang selama ini kau kira selalu menghargai dan mencintaimu ternyata tidak seperti yang kau kira? Seseorang yang selalu tersenyum padamu setiap hari dan menunjukkan perhatiannya secara terbuka, ternyata tidak begitu memerhatikan kita dengan benar. Dia hanya seperti orang yang ingin mendapat banyak perhatian dan kasih sayang dengan cara membuatmu salah paham. Aku telah mengalaminya. Setelah mengetahui hal itu, aku tidak menangis, aku tidak kecewa. Aku hanya bisa menatap lurus ke depan dengan pandangan optimis, yakin bahwa pasti ada pelajaran yang bisa kupetik dari peristiwa tak mengenakkan ini.
Sekarang, pernahkah kau menoleh ke belakang? Sekedar untuk melihat seseorang yang selalu memerhatikanmu dari jauh? Mungkin seseorang yang selalu kau anggap mengganggu dan menyebalkan, namun ternyata yang paling menyayangimu. Dia tak pernah mengucapkan kata-kata manis atau memberikan senyuman yang indah padamu. Tidak pernah ia menunjukkan perhatiannya di depan teman-temanmu, bahkan dia tak segan mengomelimu dan bertingkah sangat mengesalkan. Orang ini adalah orang yang seringkali tidak kau anggap. Orang yang selalu kau singkirkan demi orang lain, yang sebenarnya selalu menyakitimu. Tapi, cobalah kau mengingat. Berapa kali ia sudah membuatmu tertawa? Berapa kali ia berhasil membuatmu merasa nyaman saat bersamanya?
Walaupun menurutmu ia sangat menyebalkan dan tidak sensitif, tapi sebenarnya ia paling mengenalmu. Ia tahu cara untuk membuatmu senang, hanya saja kau tidak pernah menyadarinya, dan malah menganggapnya bercanda. Ia selalu bertengkar denganmu, karena ia tahu apa yang baik untukmu. Karena kau tidak pernah mendengarnya, itulah mengapa kau merasa disakiti. Cobalah tengok ke belakang, lihatlah di sana ada orang yang selalu mendukungmu dari belakang. Orang ini tahu apa yang sebenarnya kau butuhkan. Ia memberikan dukungan di saat kau benar-benar memerlukannya, bukan di saat orang lain juga memberikannya. Ia memerhatikanmu, di saat kamu tidak diperhatikan, bukan di saat kamu sedang jadi pusat perhatian. Banyak canda tawa yang kau lewatkan bersamanya, yang mungkin bagimu tidak mengesankan, tapi itulah yang sebenarnya membuatmu bahagia.
Aku tidak merasa bodoh karena baru menyadarinya. Aku bersyukur karena akhirnya aku mengerti bahwa ada seseorang yang selalu menopangku dengan caranya sendiri. Aku bahagia karena aku memang tidak pernah sendiri. Meskipun tidak ada lagi perhatian dan senyum dari dia, tapi aku tahu orang ini pasti memiliki seribu cara untuk membuat hari-hariku lebih berwarna lagi. Membuatku lebih menghargai apa yang telah aku miliki.

Thursday, 15 March 2012

Secangkir Kopi

Uap mengepul dari sebuah cangkir di atas meja. Kunikmati pemandangan yang tak lagi asing itu dengan seksama, seperti seorang anak kecil yang baru belajar hal baru. Kuperhatikan uap yang tercipta, membumbung ke langit-langit, kemudian hilang. Namun segera tercipta uap lainnya, yang seakan-akan menyusul temannya. Tak kusangka bahwa benda mati pun memiliki perasaan! Atau hanya aku yang terlalu berimajinasi? Kurasa itu tidak penting. Setelah buyar imajinasiku, aku pun mengangkat cangkir itu dan menyesap cairan yang mengandung kafein tersebut dengan nikmat dan perlahan. Sesekali aku meniup permukaannya, memaksanya untuk tidak menyakiti mulutku dengan rasa panas. Kunikmati tiap teguk yang mengalir di kerongkonganku dengan mata terpejam. Berusaha meresapi tiap rasa yang ada. Manis, sedikit pahit, dengan temperatur yang pas. Aku tersenyum simpul. Kuletakkan secangkir kopi yang masih tersisa setengahnya di atas meja. Perlahan, hingga tak menimbulkan suara. Aku tak mau suara selemah apapun mengganggu.

Pikiranku langsung tertuju pada orang itu. Entahlah. Namun, kopi pagi ini seakan mengingatkanku akan kisahku dan dia dahulu. Mengembalikan ingatanku pada cinta yang begitu aneh. Ya, benar-benar aneh. Kisah cinta kita aneh, seperti kopi ini, namun tetap memberi kesan tersendiri. Kisah cinta kita manis, dihiasi dengan sedikit rasa pahit, menjadi sangat menarik. Cinta kita hangat, tidak terlalu panas atau dingin, dan saling memerlukan. Itulah yang digambarkan oleh kopi pagi ini. Kisah cinta yang menarik dan saling membutuhkan.

Kuambil lagi cangkir kopi itu, tapi kurasakan cangkirnya tak lagi hangat. Benar saja, kopi yang tersisa kini telah dingin, memberi rasa manis yang berlebihan dan memuakkan, serta menyisakan ampas yang teramat pahit. Sejalan dengan kisah kita. Yang baru setengah jalan, namun tak lagi nikmat. Semuanya menjadi terlalu berlebihan dan membosankan. Dan pada akhirnya, hanya menyisakan luka membekas.

Itulah kisah kita. Yang diawali dengan sedikit tergesa-gesa, hingga berakhir dengan tergesa-gesa pula. Cinta memang bisa diibaratkan dengan secangkir kopi. Kopi yang baru diseduh akan menyakiti lidah jika diminum. Seperti cinta yang terlalu menggebu-gebu hanya akan membawa rasa sakit. Demikian pula dengan cinta yang selalu menunggu, pada akhirnya hanya akan menjadi dingin dan memuakkan.