Showing posts with label Thoughts Unveiled. Show all posts
Showing posts with label Thoughts Unveiled. Show all posts

Sunday, 29 November 2020

The Most Beautiful Goodbye

As I grow up, I find the sentence "I would die for you" very selfish. By saying that you literally want to sacrifice yourself for the sake of your loved ones, it also implies that you don't really think about the impact of your absence in their life. Why don't you imagine how broken they would be if you were gone? Moreover, if they were the cause of your passing. Dying for your loved ones is not cool, so please try harder to live rather than giving up so easily on your own life.


Many of us may be saying that our greatest fear is losing someone that we love, mostly our family. I used to think like that. But after being forced to face my 'greatest fear', I started thinking, "Is this fear because of love or because I don't want to get hurt?"
When my mother was diagnosed with late stage cancer one year ago, this thought kept haunting me. I knew that I would lose her someday, and that day would probably come faster than what I used to think. But then, why would I be afraid of losing her? If I really love her, wasn't I suppose to wish her only the best? Yes, losing a family member will always be the worst thing that can happen to me, but should I be afraid of it? The more I think about it, the more I feel that this is not fear. On one side, I was indeed afraid of what I would be without my mother's presence. But on the other side, I realized that love wouldn't bring you fear. True love will give you strength.

During the last few months before my mother's demise, I prepared myself for the worst everyday. My life motto has always been "Everything happened only within God's plan", and that was what I kept saying to myself. I might not be ready, but that was the best thing that could happen to me and our family. I found myself feeling relieved and willing to let God take care of my mother. Watching her suffering was definitely very painful. I know she was struggling, I know she didn't want to give up on us, but in the end we had to let go.

What surprised me the most was the fact that it wasn't that painful when I knew she was gone. I thank God because He gave me time to be prepared. I thank God because He gave me time to be there for my mother during her last moments. It didn't hurt that much, but I did feel some kind of emptiness, even until now and may be forever. As what I stated in this post's title, the kind of farewell that I had with my mother is indeed a very beautiful goodbye. The kind that both parties actually wanted and be thankful for. Now that it has happened, I couldn't imagine a better farewell than that. Ever since I found out that my mother was battling with cancer, there was no single day passed without me thinking about how she would die. I kept regretting my decision to accept that job offer when I already knew what she had to go through. I always felt anxious everytime I heard that her condition worsen. I kept being scared of the scenario where she passed away and I wasn't there to be with her. Today, everytime I miss my mother and think about why God would call her so soon, I kept reminding myself that maybe if God had had given her more time, then I might not be able to be by her side. I might have had to receive that call from my father, asking me to go home. And I would have felt terrible since instead of being there, I were busy working a job I didn't even like that much.

However, this is the part where I tell you why our God is so great. Who could predict that 2020 will be the year when a pandemic hits the world? My fear and my hate towards the virus became a gratitude because without this whole pandemic situation, I wouldn't be able to accompany my mother during her last moments on earth. As dreadful as it is, coronavirus was the curse that break the possibility of me not being able to fulfill my last duty towards my mother.

For you who are suffering from the pain of losing someone you love, I know it is hard and extremely painful. And who knows, that pain may never be gone. But, please keep this in mind, that farewell just had to happen for whatever reasons that is not your fault. In the end, I want to share with you my magic spell that help to subside the pain, the sentence that has been etched to my mind,

God is good all the time,
and all the time God is good.

Thursday, 16 August 2018

Indonesia Merdeka!

Related image

Tanggal 17 Agustus 2018, rakyat Indonesia merayakan 73 tahun kemerdekaannya. Berbagai perayaan terjadi, mulai dari upacara, lomba-lomba, pawai, hingga konser kemerdekaan. Selain itu, media sosial juga ramai dengan foto-foto ber-caption nasionalis. Hari ini adalah hari di mana orang yang sehari-harinya memuji dan memuja negara sebelah mendadak mengelu-elukan patriotisme. Hari di mana orang yang gemar mengkritik pemerintah semakin heboh mempertanyakan kemerdekaan. Apakah setelah 73 tahun Indonesia benar-benar merdeka? Ataukah kemerdekaan ini hanyalah status quo?

Beberapa tahun yang lalu, aku pernah menulis tentang kemerdekaan Indonesia (yang penasaran boleh klik di sini). Di post tersebut, aku menulis bahwa Indonesia belum lepas dari penjajahan rakyatnya. Sudah 4 tahun berlalu, tetapi menurutku opini tersebut masih valid. Indonesia (masih) dijajah oleh rakyatnya sendiri. Bertahun-tahun banyak orang menuntut kemerdekaan yang sesungguhnya. Mereka menuntut pendidikan yang merata, kesejahteraan rakyat, keadilan hukum, dan masih banyak lagi. Setiap tahun masalah yang timbul selalu sama. Apakah pemerintah hanya diam saja? Tentu tidak. Pemerintah sudah bekerja keras untuk memenuhi tuntutan rakyat. Namun, tentu saja usaha sekeras apapun tidak akan dihargai apabila tidak ada hasil yang fantastis.

Ketika masyarakat menuntut pemerataan pendidikan, pemerintah menawarkan program wajib belajar 12 tahun. Tujuannya tentu untuk meningkatkan kualitas masyarakat. Sayangnya, muncul berbagai masalah, mulai dari banyaknya sekolah yang kekurangan dana dan kekurangan guru. Lantas apa yang dilakukan oleh rakyat Indonesia? Apalagi kalau bukan mengkritik pemerintah. Ketika pemerintah membutuhkan pasokan guru untuk mengajar di pedalaman, rakyat justru berbondong-bondong pergi ke kota dan mencari pekerjaan kantoran. Ketika masyarakat menuntut kesejahteraan dan kemakmuran, pemerintah berusaha membujuk warga agar mau bertransmigrasi ke daerah yang penduduknya lebih sedikit. Sayangnya, rakyat bersikeras tinggal di kota besar karena ekonomi desa susah 'katanya'. Kalau begini terus bagaimana Indonesia mau merdeka seperti keinginan kalian?

Terkadang, sebagian orang terlalu fokus mengkritik karena mereka sudah terlanjur memiliki doktrin bahwa Indonesia bermasalah dan pemerintahnya korup. Mungkin dilihat dari beberapa statistik, Indonesia memang memiliki rekor yang cukup memprihatinkan. Namun, sisi positifnya adalah Indonesia bukanlah yang terburuk dan masih memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang. Masalahnya, siapa yang bisa membantu Indonesia untuk semakin maju? Apakah pemerintah yang mungkin hanya 0.01% dari total penduduk harus bertanggung jawab? Jika kita sebagai warga negara yang baik ingin membantu Indonesia untuk menjadi lebih baik, bagaimana jika dimulai dengan mempercayai pemerintah kita?

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak cela dalam pemerintahan kita, tetapi kita harus percaya bahwa pasti ada orang-orang yang memang tulus ingin memajukan Indonesia di sana. Daripada kita sibuk mengkritik pemerintah yang belum tentu mendengarkan, lebih baik kita yang mulai berusaha untuk mengharumkan nama Indonesia. Karena ketika kita berlebihan dalam mengkritik ataupun menjelekkan pemerintah, maka hal ini bisa jadi mempengaruhi pemikiran orang lain sehingga mereka tidak lagi percaya pada kebijakan pemerintah. Bukankah lebih menyenangkan bila kita mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang menyenangkan negeri ini? Belajar dan bekerja dengan tekun, mematuhi Undang-Undang, taat membayar pajak, dan saling menghormati antarwarga. Kira-kira butuh berapa tahun sampai rakyat Indonesia puas dan merasa merdeka? Sampai kapan kita mau menjajah bangsa kita sendiri?

Friday, 11 May 2018

Real Friend

Photo credit: HuffingtonPost.com

Kalian semua pasti familier dengan istilah "fake friends" kan? Fake friends atau temen palsu ini biasanya identik dengan "temen" yang dateng atau nyariin kita kalau lagi ada perlunya aja. Dan temen-temen semacam inilah yang berusaha kita hindari karena cuma bisa nyusahin dan bikin emosi. Tapi, apakah kita bener udah judge mereka sebagai "fake friends"?

Pertama-tama, coba kita lihat ke akar permasalahannya dulu. Fake friends muncul karena kita (atau mereka) berusaha untuk menjalin hubungan pertemanan. Kenapa kita butuh temen? Karena kita makhluk sosial. Apa itu makhluk sosial? Makhluk yang hidup berkelompok, selalu berinteraksi dengan sesamanya, dan saling membutuhkan satu sama lain. Do you get the idea?

Sesungguhnya, pertemanan sendiri muncul karena adanya kebutuhan. Tetapi, ketika kita dan temen kita memiliki kebutuhan yang sama, maka kita melihatnya sebagai "real friends". Sementara jika kebutuhan itu berat sebelah, kita akan menganggap orang tersebut sebagai "fake friends". Coba kalian renungkan ilustrasi di bawah ini:

Nana adalah seorang mahasiswi sosialita dan populer. Dia terkenal memiliki banyak sekali teman, tapi ketika disinggung, dia selalu menjawab, "Ah, sebenernya real friends aku cuma dikit kok bisa dihitung pake jari. Sisanya sih fake semua, cuma muncul kalo butuh bantuan doang." Suatu hari, salah satu temennya yang kepo tanya, "Na, sebenernya lu nganggep gue real friends ato fake friends sih?" Nana ketawa sebentar terus menjawab, "Lu gila ya? Kalo lu aja gue anggep fake, terus siapa lagi yang real? Cuma lu yang selalu mau nemenin gue ngafe, shopping, bahkan pas gue nge-date pun lu tetep mau temenin. Lu juga selalu siap buat dengerin curhat gue, nenangin gue waktu sedih. Banyak lah jasa lu buat gue!" Dan temennya hanya bisa tersenyum sambil berpikir: kok kayanya dia yang fake ya?

Apakah definisi real friends kalian sama dengan Nana? Selama ini kita berpikiran bahwa real friends adalah temen yang selalu ada dan siap kapanpun buat kita. Tanpa disadari sesungguhnya yang kita tekankan di sini adalah bagaimana temen kita bisa membantu/memenuhi kebutuhan kita. Jadi sebenernya yang fake siapa?

Mungkin sampai di sini beberapa dari kalian merasa bingung atau jadi merenung apakah kalian udah menjadi temen yang baik. Mungkin sebagian dari kalian merasa bahwa pemikiran aku aneh dan lebay. Untuk menghindari hujatan lebih lanjut, aku mau menekankan: nggak ada salahnya berteman karena kebutuhan. Banyak ahli, terutama psikolog, yang menyimpulkan bahwa kebutuhan sosial itu cukup krusial bagi kehidupan manusia. Menurut Teori Maslow (ceritanya biar keren kaya mahasiswa beneran gitu), kebutuhan sosial berada pada tingkat ketiga dari lima tingkat kebutuhan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan sosial memang cukup urgent untuk dipenuhi.

Oke, sekarang kalian tahu bahwa manusia berteman karena kebutuhan dan kebutuhan itu harus dipenuhi. Jadi kita bisa anggap semua orang real friends dong? Nggak juga, karena manusia sudah jatuh dalam dosa sehingga tak satupun dari mereka adalah benar. Maksudnya, tentu nggak semua orang berteman sama kita setulus itu, tapi apakah mereka fake? Sedikit saran, daripada melabeli seseorang "fake friend" lebih baik kita menganggap mereka "temen yang nggak peka". Kamu nggak pernah tau apa yang ada di pikiran seseorang. Bisa aja orang yang kamu anggep fake, selalu minta bantuan kamu karena emang cuma kamu yang bisa dia andalkan, sayangnya kamu kurang asik buat jadi sahabat gaul dia :(

Kesimpulannya, jangan semudah itu melabeli seseorang sebagai "fake friends" karena bisa aja asumsi/pemikiran kamu tentang mereka itu salah. Kamu nggak pernah tau kan kalo temen curhat kamu sebenernya cape dengerin kamu curhat dan drama? Untungnya, label "persahabatan" membuat seseorang lebih kuat dalam menghadapi tingkah laku menyebalkan dari sahabatnya. Dan yang terpenting, jangan membenci temen yang nggak peka (atau kalian masih tetep mau pake istlah "fake friends"? Terserah) karena lebih baik ada yang nyariin dibanding nggak sama sekali :)