Showing posts with label best friends. Show all posts
Showing posts with label best friends. Show all posts

Tuesday, 29 October 2013

Guilty

Apa kalian tahu arti 'guilty' dalam bahasa Indonesia? Masa nggak tahu? Buka kamus atau google translate deh.. Tapi, berhubung aku lagi baik hati, akan aku kasih tahu artinya. Guilty dalam bahasa Indonesia berarti 'bersalah'. Kurang baik apa aku ;) Oke, cukup ngelanturnya. Selain untuk menambah kosakata bahasa Inggris kalian, di posting ini aku juga (lagi-lagi) ingin curhat. Kalau kalian malas membaca curhatku, ya nggak apa-apa sih. Hitung-hitung hemat kuota internet (eh). Tapi tolong lah, dibaca aja, lumayan buat mengisi waktu yang diluang-luangkan.

Back to the topic, jadi sekarang aku lagi merasa bersalah. Bukan karena aku baru saja mencontek waktu ulangan atau membicarakan orang lain, tapi karena teman-temanku. Lho? Memang, aku merasa bersalah banget sama beberapa temanku, terutama teman-teman baik ku di SMP. Seperti di posting ku yang "In A Mess" , aku akhir-akhir ini males banget bersosialisasi. Bahkan untuk sekedar balas sms temen-temenku pun aku males kalau nggak penting-penting banget. Walaupun sebenernya sms sesingkat apapun seperti "lagi ngapain?" atau "aku kangen banget sama kamu" itu termasuk penting kalau yang mengirim adalah sahabatku, tapi aku jarang atau lebih tepatnya nggak pernah bales. Bukan berarti aku melupakan mereka, ini memang aku aja yang aneh. Aku akui itu. Mungkin kalian juga setuju, orang macam apa yang nggak membalas sms sahabatnya yang beda sekolah dan jarang banget ketemu? Kalau alasannya sibuk atau banyak ulangan sih nggak apa-apa, tapi ini alasannya nggak jelas. Aku memang aneh.

To the point aja, rasa bersalahku ini tertuju pada seorang YULI. Lagi-lagi Yuli. Sepenting apa sih anak yang bernama Yuli ini? Penting banget, bagiku. Tapi, berhubung aku ini aneh, si Yuli jadi sakit hati karena merasa telah dilupakan. Aku nggak nyangka kalau dia bakal se-ekstrim itu. Aku udah pernah cerita ke dia kalau keadaanku sekarang lagi kurang baik, tapi ternyata keadaanku-yang-lagi-kurang-baik itu malah bikin dia mikir yang nggak bener. Aku mengaku bahwa aku sangat bersalah. Aku sungguh-sungguh bersalah kepada Yuliana Kristanti, penggemar Lee Donghae yang setia dan sahabatku yang tercinta. Kamu harus tahu, Yul, aku nggak pernah dan nggak mungkin melupakanmu. Jadi, please, jangan jadi impulsif.

Buat Yuli, maaf kalau sebagai sahabat aku kerjaannya cuma bikin kamu sakit hati. Mungkin aku emang bukan sahabat yang terbaik bagi kamu, tapi kamu tetap sahabat yang terbaik buat aku :) Memang sekarang semuanya tidak berjalan seperti yang aku pikirkan dulu, kita susah banget buat ketemuan, bahkan sms-an aja susah. Tapi yang penting, kamu nggak akan mungkin terlupakan atau tergantikan. We're ELFish forever, right?

Thursday, 24 October 2013

Life

Life is kind of like a party.
You invite a lot of people,
some leave early,
some stay all night,

some laugh with you,
some laugh at you,
and some show up really late.

But in the end,
after the fun,
there are few who stay to help you clean up the mess.

And most of the time,
they aren't even the ones who made the mess.
These people are your true friends in life.
They are the only ones who matter.

No matter how many mistakes you make
or how slow you progress,
you are still way ahead of everyone who isn't trying.

We are all weird.
And life is weird.
And when we find someone whose weirdness is compatible with ours,
we call it LOVE.

Monday, 14 October 2013

In A Mess

Pernah nggak kalian ngerasa bahwa hidup kalian lagi kacau banget? Nilai di sekolah jelek, tengkar sama pacar ato temen, dimarahi orang tua, dll yang bikin kalian pingin marah sambil nangis (nah). Situasi di mana kamu serasa tidak bisa mengendalikan hidupmu. Kalo kalian pernah ngerasain itu, kita senasib bung :') Kalian pasti tahu kekacauan dalam hidup kalian yang damai akan mengakibatkan perasaan sedih, pingin marah, pingin nangis, pokoknya emosional dan melankolis banget deh. Itu semua adalah hal yang sangat dihindari oleh semua orang, tapi sayangnya sulit dihindari.

Aku juga nggak ngerti gimana awalnya aku bisa ngerasa kacau banget, but this is life. Izinkan aku curhat ya :3 Akhir-akhir ini, entah sudah berapa lama, tapi aku ngerasa bahwa hidupku agak nggak terkendali. Nilai-nilaiku terombang-ambing, kehidupan sosialku buram, keadaan batinku juga rapuh. Bukannya aku nggak berusaha, tapi ada aja yang menghalangi aku untuk memperbaiki itu semua. Nilaiku yang turun misalnya, aku udah belajar sekuat tenaga, tetep aja hasilnya nggak bisa terlalu memuaskan. FYI, aku nggak suka dikalahin. No problem sih kalo orang yang ngalahin aku emang layak menurut seleksi yang aku bikin, tapi kalo yang bisa ngalahin aku adalah orang yang nggak masuk hitungan, pasti aku bakal sakit hati banget. Dalam hal ini adalah anak di kelasku. Waktu menerima laporan bulanan (rapor sisipan) kemarin, meskipun nilaiku gak bagus-bagus amat, tapi aku bisa ranking 1 di kelasku dan bagiku, itu harus dipertahankan. Anak yang bikin aku kesel dan sirik ini, dapet ranking 2 waktu itu padahal nilainya juga bagus. Tapi, bulan ini entah hanya perasaanku ato emang beneran, nilai-nilai dia menurutku jauh lebih bagus daripada aku. Tentu aku gak terima. Aku juga nggak yakin dengan alasannya, tapi dia emang gak masuk hitungan sebagai saingan beratku. Mungkin mulai saat ini aku harus memasukkannya dalam daftar itu. Begitulah, sebelumnya aku nggak pernah merasa se-terancam ini sama nilaiku di sekolah, makanya aku agak kalap. Khawatir dan takut dikalahkan.

Kehidupan sosialku juga sama, abu-abu. Emang dari dulu aku bukan termasuk anak populer ato anak ramah dan cerewet yang dicintai banyak orang. But, at least, I have those best friends whom I can talk to everyday. Dulu, bisa dibilang setiap hari aku sms-an sama sahabatku. Entah curhat ato cuma sekedar membahas masalah-masalah abstrak. Sekarang? Boro-boro sms, megang handphone aja jarang. Bukan berarti aku gak punya waktu, tapi aku males. Somehow, aku males banget sms-an, twitter-an, whatsapp-an, teleponan, line-an, dan apapun-an. Intinya, aku males bersosialisasi. Bukan berarti aku pingin jadi anak kuper, aku cuma males banget sok perhatian dan sok pingin curhat padahal kenyataannya aku nggak pingin cerita. Dari luar kelihatannya aku menjauh dari temen-temenku, tapi aku cuma capek dan malas. Aku punya banyak masalah, tapi aku nggak mau cerita atau mungkin nggak tahu harus cerita ato nggak. Sekilas emang aku sepertinya complicated banget. This is me. Aku cenderung menyimpan masalahku sendiri karena aku berpikir nggak ada orang lain yang bisa menyelesaikan masalahku. Aku berprinsip mandiri. Aku harus bisa menyelesaikan semuanya sendiri walaupun kenyataannya aku nggak kuat. Tapi aku terlalu keras kepala untuk mau berubah. Aku tetap menyimpan semuanya sendiri, bergumul sendiri, tanpa menyadari bahwa aku punya orang-orang yang siap untuk membantuku. Buat semua temenku, maaf kalo aku jadi nyebelin. Maaf kalo aku jarang bahkan gak pernah sms. Maaf banget.

Keadaan batinku yang lagi rapuh ini disponsori oleh keenggananku menceritakan masalah-masalahku sama orang lain. Seperti yang udah aku omongin di atas, aku emang tertutup. Aku tetep nggak mau orang lain tahu masalahku meskipun rasanya tiap hari aku pingin nangis. Di SMA ini, menurutku banyak banget orang munafik. Aku nggak bisa melihat hubungan yang tulus. Mungkin aku yang impulsif, tapi aku ngerasa kalo mereka berteman karena suatu hal duniawi, entah materi atau popularitas. Intinya, kalau kamu nggak bisa menyamakan diri dengan mereka, kamu bakal dikucilkan. Sebenarnya aku males kalau harus pura-pura ramah dan baik di depan temen-temenku, tapi kalau nggak gitu mungkin masa-masa SMA-ku bakal jadi sangat suram. Memang sih, nggak semuanya seperti itu, tapi tetap orang-orang mayoritas lebih berkuasa, that's why I'm always in a pressure. Seringkali aku ingin menghilang dari dunia ini (bukan berarti aku pingin mati). Aku cuma ingin hidup di dunia di mana aku nggak harus pura-pura baik, pura-pura ramah sama orang supaya bisa dilihat. Aku ingin bisa dianggap normal walaupun nggak pernah mau ngajak ngomong orang lain. Kadang-kadang aku miris kalo inget sama temen-temen baik ku waktu SMP. Mereka berusaha menghubungi aku, tapi aku nggak pernah nanggepin. Aku nggak mau mereka tahu kalo keadaanku sekarang lagi kacau.

As conclusion, I can say that my life is COMPLETELY IN A MESS. Aku nggak tahu berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk keluar dari kondisi ini, but I hope it's not for a long time. Aku harus bangkit dan bersiap-siap untuk masa depanku. Wish me lots of luck! Semoga aku bisa jadi lebih kuat dan melewati semuanya ini secepat mungkin. AMEN.

Friday, 31 May 2013

Moving On

Para remaja galau pasti sering denger kata" ini. Entah dari temen-temen ato keinginan diri sendiri. Tapi rata-rata semua remaja gaul pasti tau kata-kata 'move on', termasuk aku (iya, aku emang remaja gaul). Pertama kali denger kata 'move on' yang tiba-tiba aja nge-trend, perasaanku adalah "Oh, move on. Ya terus kenapa?" Berhubung aku bukan remaja galau, maka itulah satu-satunya responku. Nggak seru? Don't judge me if you don't know me! (hahaha) Aku beranggapan kalo move on itu adalah proses beranjaknya seseorang dari kisah cinta yang lama menuju kisah cinta baru (ea). Murni kisah cinta. Bagiku waktu itu, move on berarti kita melupakan cinta dan rasa sayang kita terhadap mantan dan bersiap menyambut pujaan hati baru. Dan aku merasa sangat bangga karena aku sama sekali tidak memiliki gen susah move on. Artinya, aku move on dengan sukses dan selamat. Kadang aku suka heran, pegel, dan sebel sekaligus bangga dan pingin ketawa kalo liat temen-temenku yang suka galau karena gagal move on. Menurutku mereka itu payah. Masih remaja kok ngurusi masalah cinta. Masih muda kok ngomongnya cinta-cintaan. Payah. Lemah.
Tapi sudahlah, di posting ini aku nggak bermaksud untuk menggurui remaja galau gagal move on. Aku nggak mau menghina mereka. Aku hanya ingin membahas masalah move on. Maaf ya para pembaca kalo udah terlanjur tersinggung, di-undo dulu deh rasa tersinggungnya ;) Okay, back to the point. Move on itu sebenernya apa? Soalnya pas aku nyari di Google, keluarnya move on adalah proyek untuk mengasah potensi orang dewasa (sumpah gak nyambung). Memang dulu aku berpikir kalo move on itu adalah istilah yang digunakan dalam kehidupan cinta, tapi baru-baru ini aku sadar kalo itu semua salah. Move on nggak harus berhubungan dengan cinta. Namanya aja move on. Bukan love on (?) Then I came up to this decision, move on adalah suatu proses di mana kita bisa menerima keadaan kita yang sekarang dan berhenti mengeluh tentang betapa indahnya masa lalu. Kalo gitu aku gagal move on dong :(
Kalo move on dalam arti percintaan, nggak usah ditanya, aku bisa move on dengan mudah. Mau tau tips-nya? Tunggu posting lainnya ya ;;) Tapi kalo move on secara umum, kayaknya aku masih belum bisa. Masalahnya, sampai sekarang pun, kadang-kadang aku masih sangat merindukan kehidupan SMP-ku. Meskipun sekarang aku udah merasa bahwa keputusanku milih untuk sekolah di SMA-ku yang sekarang itu sangat tepat. Meskipun aku ketemu banyak banget temen baru yang gak kalah seru bahkan lebih seru daripada temen SMP. Meskipun aku lebih bisa beradaptasi dan lebih rame. Aku tetep sangat merindukan kehidupan SMP. Kadang aku tetep ngerasa, I don't belong here. Aku masih ngerasa asing dan nggak diterima. That's suck. Sampai sekarang pun aku tetap terus merindukan kehidupan SMP-ku terutama waktu kelas 8. That was the best year ever. Meskipun waktu itu temenku masih belum sebanyak sekarang. Meskipun waktu itu aku masih agak pendiem dan jaim. But I felt like I was belong there. Apa kalian pernah merasakannya?
Kadang aku ngerasa udah berbuat nggak adil sama temen-temenku di kelas 10 ini. Padahal mereka semua baik banget, tapi aku masih aja ngebandingin mereka sama temen-temen SMP. Tapi entah kenapa aku nggak bisa ngelupain kehidupan SMP-ku. Semua kegilaan itu, semua kejadian memalukan, semua candaan yang jayus tapi lucu, semua kesedihan, semua kebahagiaan, semuanya masih dapat kuingat dengan jelas. Aku nggak tahu kenapa tapi aku merasa kalo kelas 8 adalah saat-saat yang paling bahagia. Bertemu dengan temen yang super gila, melakukan banyak hal gila bersama. Waktu itu rasanya aku nggak terlalu banyak berpikir seperti sekarang. Kalo sekarang, rasanya kayak orang tua aja. Banyak pikiran, sering pusing, otak sering overload.
Mungkin move on memang tidak segampang itu. Memang sulit menerima keadaan kita sekarang jika kita terus melihat masa lalu. Tapi bagaimana kalau masa lalu itu terus muncul di pikiran kita? Bagiku, sukses atau tidaknya move on tergantung dari kita. Kalau kita memang bener-bener niat untuk maju, kita harus bisa melupakan masa lalu. Kalau kita ragu, ya udah, gak usah move on. Kadang mulut kita selalu bilang "Aku harus move on. Aku mau move on." kenyataannya? Kita masih nggak rela melepaskan masa lalu itu. Terus-terusan mengingat betapa bahagianya kita dulu. Itu juga terjadi padaku. Dulu aku selalu berniat move on, tapi pada kenyataannya, aku terus-terusan membandingkan kehidupan SMA dengan kehidupan SMP. Kapan berhasil move on? Never. Maka aku sampai pada kesimpulan bahwa aku memang nggak niat move on. Bagiku, masa lalu itu lebih baik terus aku ingat sebagai memori yang indah. Biar aku terus dibayang-bayangi oleh kenangan yang baik itu, selama aku tidak ikut ditarik mundur. Biarlah aku terus membandingkan kehidupanku, selama di masa depan aku menjanjikan kehidupan yang lebih baik untuk diriku sendiri. Biar aku gagal move on, selama hal itu pantas untuk diingat. Yang penting aku tidak rugi.

Friday, 5 April 2013

Dear Yuli


Aku menatap layar laptop yang menampilkan foto-foto seorang cowok dalam berbagai pose sambil tersenyum. Tanpa sadar, sesekali aku menggumam, “Kenapa ada cowok seganteng ini ya?” Cowok itu memang ganteng sekali. Terlalu ganteng hingga tak ada kata-kata yang tepat untuk menjelaskan ketampanannya. Entah kenapa, tapi wajahnya dalam berbagai mimik dan segala tingkah lakunya begitu membuatku terpesona. Hanya melihat senyumnya mampu membuatku ikut tersenyum. He’s the first guy to make me smile with no reason.

Lee Donghae. Itulah nama cowok, atau lebih tepat disebut artis, yang berhasil membuatku gila seperti orang jatuh cinta. Dia tidak pernah berbuat baik padaku, dia juga tidak pernah tersenyum padaku, bahkan aku tidak pernah bertemu dengannya! Tapi entah kenapa, aku tetap memujanya. Sejak pertama kali aku melihat wajahnya di sebuah majalah, aku langsung menyukainya. Semakin lama, bukannya melupakan, aku malah semakin tergila-gila. Aneh memang. Mungkin ada yang berpikir hal ini menyeramkan, aku terkesan seperti seorang stalker yang psikopat. Tapi tentu saja aku bukan orang seperti itu. Aku hanyalah seorang gadis remaja normal yang baru saja menemukan idolanya.

Aku masih saja memandangi foto-fotonya tanpa merasa bosan sedikit pun. Tiba-tiba saja aku teringat akan seseorang. Orang yang membuatku semakin tergila-gila padanya. Orang yang menjadi tempatku berbagi informasi dan cerita tentangnya. Orang yang akhirnya menjadi bagian penting dalam hidupku. Orang yang akhirnya juga menjadi tempat aku menceritakan segala suka cita dan keluh kesahku. Sahabatku.

Jujur saja, aku sudah lupa bagaimana kita bisa menjadi sedekat ini. Sejak awal kelas 9 aku sudah tahu kalau dia memiliki idola yang sama denganku, tapi hal itu tidak membuat kami langsung akrab. Namun aku masih mengingat saat-saat kita mulai dekat dengan jelas. Saat-saat yang tidak mungkin aku lupakan. Keberadaannya ketika itu sungguh berdampak besar bagiku. Selain tentu saja, stress saat ujian berkurang, saat itu juga yang membuat dia menjadi sahabatku sekarang.

Satu tahun yang lalu, bulan April tahun 2012, memasuki musim ujian.
Entah kenapa kita menjadi dekat. Tiba-tiba saja kita sering menghabiskan waktu bersama-sama. Pergi ke manapun bersama. Bercanda bersama, bergosip bersama, yah, intinya selalu bersama. Banyak hal yang dibicarakan, mulai dari teman-teman, ujian, sampai idola. Sejak saat itu pula, dia banyak menceritakan kepadaku tentang Donghae. Dan aku, perlahan-lahan mulai berani mengungkapkan kecintaanku terhadap artis tampan tersebut. Aku menjadi berani mengakui bahwa aku adalah fansnya. Itu semua berkat dia, sahabatku. Itu semua berkat seseorang yang bernama Yuli.

Mengingat peristiwa itu membuatku tersenyum, heran. Bagaimana mungkin dalam waktu sesingkat itu dia bisa langsung menjadi sahabatku? Bahkan sampai sekarang ketika kita sudah masuk di sekolah berbeda. Mungkin inilah yang dinamakan takdir. Tuhan yang merencanakan seorang Yuli untuk menjadi sahabatku. Entah sudah berapa banyak SMS yang aku kirimkan kepadanya, baik sekedar menceritakan betapa kerennya Donghae, sampai betapa aku sangat merindukan kehadirannya. Entahlah. Semua ini berjalan terlalu cepat. Untunglah hal itu tidak merusak persahabatan kami.

Terkadang aku menyesal. Mengapa baru mengenal dia menjelang kelulusan? Mengapa tidak berteman dengannya sejak awal? Memang terkadang rencana Tuhan sungguh tidak bisa ditebak. Tapi aku tahu pasti, bahwa Dia sungguh tahu apa yang terbaik bagiku. Dia telah memberikanku seorang sahabat baru yang bisa diandalkan. Tak bisa kuungkapkan betapa aku berterima kasih pada Tuhan, juga pada Lee Donghae yang telah mempersatukan kami. Lalu, jika aku tidak mengidolakan seorang Lee Donghae, apakah aku tetap bisa bersahabat dengan seorang Yuli? Ataukah aku akan menemukan Yuli lainnya? Mungkin pertanyaan itu tidak seharusnya terjawab. Cukup mengetahui sekarang aku memiliki Yuli sebagai seorang sahabat, tak peduli mengapa dan bagaimana.

P.S. : (for Yuli, if you read this) Aku memang bukan tipe orang yang bisa mengungkapkan semua yang aku rasakan dengan mudah, malah aku cenderung menutupinya. Aku harap dengan tulisanku ini kamu mengerti kalau kamu berharga bagi aku. You can always count on me :) ELFish forever, ok? ({})

Wednesday, 3 April 2013

Quote of The Week

I found this quote about 3 days ago on Twitter. The moment I read it, somehow I remembered my best friends. It's just so much alike with our friendship. I hope you feel that this quote is great too!


Sunday, 10 February 2013

Flashback

Di posting ini aku akan flashback tentang kegiatan serta canda tawa yang dulu aku lalui saat di SMP (ea). Walaupun emang masih suasana Imlek sih (and ofc LIBUR!!), tapi entah kenapa aku jadi keinget kebiasaanku pas SMP. Bukan bermaksud untuk ber-galau ria. Juga bukan bermaksud untuk sok melankolis kayak di film pake flashback2 segala. Dan pastinya bukan berarti aku lagi amnesia ringan, terus tiba-tiba karena ketatap lemari muncul flashback. Entah kenapa, pingin flashback aja.
Kehidupan dan kebiasaanku di SMA ini hampir sangat berbeda dengan kebiasaan di SMP. Emang masih sama-sama sekolah, masih tetap belajar, tetap bangun pagi, tetap ada ulangan, tetap ada PR, tapi pasti ada yang berbeda. Mulai dari letak sekolah. Sekarang jam 6 pagi aku udah berangkat ke sekolah, naik antar jemput. Padahal dulu jam 6 aku baru bangun, berangkat naik mobil pribadi. Rasanya aneh aja, sekarang jarak antara sekolah sama rumah jauh banget. Jadwal pulang harus bener-bener tertata, ato kalau nggak, gak ada yang jemput. Habis jauh sih. Nunggu jemputan juga jadi lama banget. Berhubung jarak jauh, sama macet juga menyebar di mana-mana. Hal ini yang langsung membuat mood jadi jelek banget. Udah capek habis ekstra, tas beratnya kayak mau pergi perang, masih harus nunggu 30 menit lebih. Dulu di SMP? Gak perlu khawatir sama yang namanya jadwal pulang. Tinggal ngomong, "Ma, nanti jemputnya kalo aku udah telpon." Jam berapa pun aku pulang, 10 menit setelah aku telepon pasti udah dijemput. Kalo sekarang kayak gitu? Bisa-bisa aku dibantai sama mama -___-
Kedua, jadwalku juga udah berubah. Sekarang ini aku lagi dalam masa-masa kangen sama yang namanya BAND. Yup. Aku kangen banget nge-band!! Di SMA ini aku emang nggak ikut band. Kenapa? Males. Ekskul band-nya terlantar, temennya juga gak ada yang connect. Udah terlanjur pas sama band yang lama, semacam gagal move on gitu. Aku jadi inget, kalo dulu di SMP, sering banget pulang sore gara-gara latian band. Biasanya liburan gini juga di sekolah buat latian band. Capek memang, tapi seneng. Sekarang? Boro-boro nge-band, nyentuh keyboard aja jarang. Susah banget nemu waktu yang cocok buat latian, berhubung anggota band-ku dulu udah menyebar di mana-mana. Aku kangen banget sama latian band, kangen sama suasana-suasana tegang nan khawatir pas nyiapin lagu buat lomba, kangen sama tepuk tangan dari penonton yang ngeliat kami, kangen sama momen-momen pas kita dapet juara, dan yang paling penting kangen sama semua personil-personilnya yang gak bener tapi nyenengin.
Waktu di SMP dulu, pulang sore itu rasanya biasa banget, malah aku bangga bisa pulang sore. Berasa sibuk gitu. Tapi sekarang? Rasanya pingin pulang pagi terus. Pingin cepet-cepet nyampe rumah. Emang hampir setiap hari pulang sore, tapi aku sama sekali gak ngerasa bangga, secara banyak juga yang pulang sore. Kalo sekarang, pulang sore pasti gara-gara ekstra atau pengayaan. Kalo nggak gitu ya rapat. Kegiatan yang menyenangkan di SMA adalah, OSIS-nya berfungsi. Aku inget banget kalo dulu di SMP, OSIS itu baru kerja pas MOS, itu pun cuma buat dimintai tanda tangan. Selebihnya, OSIS cuma semaca pembantu yang menata kursi buat pertemuan orang tua, jadi penerima tamu, dkk. Rapat jarang banget. Kalo ada rapat pun, yang rapat paling cuma anggota inti, sisanya mbambong. Di SMA aku bener-bener ngerasain apa yang disebut dengan OSIS. Fungsinya kelihatan, bukan sekedar pelengkap struktur sekolah. Itu cukup menyenangkan. Aku jadi merasa dibutuhkan (cie)
Yang terakhir, tapi yang terpenting, yaitu, di SMA ini gak ada geng-ku! Jangan salah sangka dulu, aku nggak ikut geng yang gak bener kok, cuma mbentuk geng kelas teri lah, yang isinya remaja-remaja labil. Di SMA ini geng-ku udah bener-bener mencar. Ada sih yang satu sekolah, tapi kan tetep aja terasa aneh. Yang biasanya berempat ke mana-mana, sekarang sendirian. Aneh banget. Aku sih udah mulai bisa adaptasi di kelas. Tapi aku tetep berpikir, kelas ini akan jadi semakin sempurna kalo ada mereka. Sering di tengah-tengah pelajaran, tiba-tiba aku nemu sesuatu yang menurutku lucu, tapi sekelas gak ada yang tertawa, otomatis aku diem juga. Padahal dalam hati aku mikir, coba kalo ada mereka, pasti udah ketawa sampe nangis-nangis nih. Temen-temen di SMA ini juga beda banget sama temen di SMP. Rasanya lebih individualistis, egois. Yang beda lagi, dulu di SMP, walaupun pulang sore, tapi tetep aja aku bisa nemuin temen yang bisa diajak ngobrol waktu nunggu jemputan. Sekarang? Ngomong aja sama tembok. Nobody cares. Kadang jadi sejenis miris gitu, nunggu sendiri, termenung di pinggir jalan yang beratapkan seng. Dengan deru mobil menemani, dan tawa tukang becak sebagai backsound. Miris sekali.
But, everything changes. Our life changes. It depends on how we face it, how we deal with it. Are you gonna suffer from it? Or are you managed to defeat it? It's all your choice. Wish you luck with the changes around you :)

Saturday, 19 January 2013

Once Again, For You There

I really miss my best friends now. Really want to meet them, but it seems impossible with my schedule these days. Through this post, I tell you what I might not be able to say to you directly.
Dear my best friends, I always love you. You might think that I'm getting farther and farther, but you have to know, it happened for a reason. I'm not making a distance between us, and sorry if you think so. You know, I'm not that kind of person who can express all of my feelings freely. I hope you'll understand me. I'm very sorry for ignoring you and being annoying. This is for you :)