Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

Thursday, 11 September 2014

That Stranger (I)


Bandara Soekarno-Hatta, Indonesia

Waktu itu jam baru menunjukkan pukul 05.00 pagi, tapi dia sudah berada di bandara, menunggu penerbangannya ke Singapura untuk berlibur. Dia di sana bersama keluarganya. Sambil menunggu, dia mengeluarkan handphone-nya. Setelah bosan mengutak-atik handphone, ia hanya duduk memerhatikan orang-orang di sekitarnya. Dilihatnya kedua orang tua dan adiknya masih sibuk dengan handphone masing-masing. Begitu juga dengan kebanyakan orang yang menunggu di sana. Tiba-tiba matanya menangkap suatu pemandangan yang tidak biasa. Seorang lelaki berwajah cukup menarik dengan hem kotak-kotak berwarna biru dan celana jins panjang sedang duduk sendirian, menjauh dari keramaian. Diam-diam, ia menilai penampilan laki-laki itu. Ganteng juga cowok itu. Hidungnya mancung, matanya bagus, alisnya tebel, badannya juga proporsional. Kira-kira dia udah punya pacar nggak ya? "Kak, ayo cepetan! Nanti ditinggal pesawat lho," seru adiknya tiba-tiba. Mau tidak mau, dia menghentikan proses "penjurian"-nya. Segera ia bangkit dan bergegas menuju boarding gate, mengikuti adiknya. Namun, di sela-sela perjuangannya menerobos kerumunan orang, ia masih menyempatkan diri melihat lelaki itu dari ekor matanya. Tampak lelaki itu berbeda dengan orang kebanyakan. Ia tidak berusaha menjadi yang pertama masuk ke boarding gate. Malah, ia hanya berjalan santai mengikuti arus. Jarak antara lelaki itu dan dia pun semakin jauh sampai akhirnya lelaki itu hilang di tengah keramaian.

Changi Airport, Singapura

Dua jam perjalanan memang terkesan sebentar. Tapi, untuk orang dengan fobia ketinggian mungkin itu adalah cobaan hidup. Tidak terkira betapa leganya dia ketika menginjakkan kaki di darat setelah penerbangan selama "dua jam yang mempertaruhkan nyawa". Kemudian, dia mengikuti prosedur umum : melewati proses imigrasi. Setelah lolos, ia pun menuju tempat pengambilan bagasi. Diamatinya setiap koper yang lewat di depannya. Anehnya, lagi-lagi matanya menangkap sosok yang tidak asing. Laki-laki itu. Laki-laki ganteng dengan hem biru kotak-kotak. Tanpa sengaja mata mereka bertemu. Dia pun segera memalingkan mukanya, tidak mau dianggap norak ataupun menakutkan. Namun, diam-diam ia masih melirik ke arah laki-laki itu. Tak lama kemudian, lelaki itu telah mendapatkan kopernya dan bergegas pergi. Dalam hati dia sedikit kecewa, masih belum puas memandangi sosok berbaju biru kotak-kotak itu. Sesaat muncul pikiran gila, apa ini yang namanya jodoh? Tapi segera ditepisnya pikiran itu, tak mau liburannya terganggu oleh hal yang tidak jelas. Segera setelah mendapatkan kopernya, ia dan keluarganya pergi ke hotel mereka. The holiday has just begun!

Harbour Front MRT Station, Singapura

Singapura memang kota maju, tapi penduduknya sama sekali tidak sombong, terutama dalam hal berkendara. Beda sekali dengan Indonesia. Mobil dan motor senantiasa memenuhi seluruh ruas jalan. Di Singapura, masyarakatnya lebih memilih untuk berjalan kaki atau menaiki kendaraan umum. Tak terkecuali dengannya. Untuk menghemat uang, dia dan keluarganya memilih untuk berjalan kaki atau naik MRT. Tapi akibatnya, kaki jadi pegel semua karena tidak terbiasa berjalan kaki. Ditambah lagi, kakinya kesleo ringan setelah jatuh di tangga hotel. Sakitnya sampai kaki rasanya mau putus. “Aduh, kenapa MRT-nya nggak dateng-dateng sih!” rutuknya perlahan. Menunggu memang bukan kegiatan favoritnya, apalagi menunggu dengan kondisi kaki yang “tidak layak”. Seakan kaki saja yang capek tidak cukup, handphone-nya juga ikut-ikutan capek. Bisa dibayangkan, menunggu tanpa ditemani handphone di era modern ini seperti cacing kepanasan, gelisah, tak tahu harus berbuat apa untuk menyibukkan diri. Di sela-sela kegelisahannya, matanya melihat baju biru kotak-kotak yang sangat familier. Lagi-lagi dia! Kalo di film sih, biasanya cowok itu bakal ngajak aku kenalan. Terus kita tukeran nomer HP, jadian, dan hidup bahagia selamanya, batinnya sambil senyum-senyum sendiri. “Heh! Ngapain kamu senyum-senyum sendiri! Dasar gila! MRT-nya bentar lagi dateng tuh.” seru adiknya sambil memukul lengannya, menghancurkan imajinasinya. Reflek, ia pun membalas pukulan adiknya. “Enak aja, kamu itu yang gila!”
Ketika dia sedang sibuk berdebat, MRT yang akan ditumpanginya datang. Ia pun menghentikan perdebatannya dan menunggu penumpang turun sambil mengambil posisi sedekat mungkin dengan pintu MRT agar dia bisa cepat masuk. Dilihatnya, lelaki itu tidak bergeming. Dengan sabar, atau lebih tepatnya cuek, dia menunggu setiap penumpang yang turun. Kemudian dengan tenang masuk ke MRT sesuai giliran. Laki-laki itu memang berbeda dengan orang kebanyakan. Dia tidak pernah terburu-buru ataupun berdesak-desakan. Ia selalu mengikuti arus. Begitu juga ketika di dalam kereta, ia memilih menjauh dari kerumunan orang yang berdesakan di dekat pintu kereta.

Sejak pertemuan di stasiun MRT itu, ia tidak pernah lagi secara kebetulan bertemu dengan lelaki itu. Liburannya yang seru juga membuat dia lupa tentang si baju biru kotak-kotak. Tapi itu hanya sesaat. Terkadang, ia masih teringat dengan beberapa pertemuannya yang sangat tidak masuk akal jika dianggap kebetulan. Apa ini takdir? Masa dia jodohku? Kalo iya, nggak apa-apa sih. Habisnya dia ganteng sih!

Wednesday, 10 September 2014

Kisah Tentang Hujan (II)


Udah baca bagian pertama? Kalo belum, baca dulu ;)

Gadis itu dulunya sangat membenci hujan. Baginya, hujan adalah hukuman dari Tuhan supaya dia tidak terus-terusan pergi bersama teman-temannya, tetapi belajar di rumah. Namun, seulas senyum manis dari pemuda tak dikenal mengubah persepsinya tentang hujan. Kini, diam-diam ia menantikan “hukuman” itu. Membayangkan bagaimana hujan mempertemukan mereka dan bermimpi lain kali hujan akan mempertemukan mereka kembali.

“Milly! Kamu udah kerja PR Matematika?” Merasa ditanya, gadis itu pun menjawab, “Emang kita ada PR?” “Ada, dodol! Ayo cepet nyari contekan, 5 menit lagi bel nih,” jawab si gadis penanya yang bernama Tia tersebut. Milly pun segera mengikuti Tia mencari jawaban PR Matematika.

“Mil, tumben kamu tadi nggak kerja PR? Biasanya kamu rajin banget kerja PR.” tanya Tia. “Aku lupa nih, kamu nggak ngingetin sih,” jawab Milly santai. “Nggak salah nih? Kan biasanya kamu yang ngingetin aku. Kamu kenapa sih? Jangan-jangan udah ada gebetan baru ya?” goda Tia. Entah kenapa, Milly menjadi salah tingkah. Mukanya memerah dan ia hanya bisa tersenyum malu. Melihat tingkah laku sahabatnya yang tidak wajar, Tia mengerti bahwa tebakannya benar. “Siapa namanya? Anak sekolah ini? Kamu kok nggak pernah cerita sih,” tanya Tia menginvestigasi. “Gimana mau cerita, aku aja nggak tahu namanya. Aku juga nggak tahu dia sekolah di mana,” jawab Milly lesu. “Hah? Kamu bercanda, Mil? Jangan-jangan kamu ketemu cowok itu di mimpi. Hahaha..” Sebuah cubitan langsung mendarat di lengan Tia. Bukannya kesakitan, tawa Tia malah semakin menjadi-jadi. Mau tak mau, Milly juga ikut tertawa, meskipun dalam hati ia agak setuju dengan perkataan Tia bahwa mungkin laki-laki manis itu memang hanya bisa ia impikan saja.

Lagi-lagi hujan. Padahal bel pulang sekolah baru saja dibunyikan. Akibatnya, banyak murid-murid yang terpaksa menunggu hingga hujan reda, termasuk Milly. Sambil menunggu, ia mengamati guyuran hujan itu dan pikirannya pun langsung tertuju pada seorang pemuda berlesung pipit dengan senyum yang manis. Tiba-tiba, muncul pemikiran gila dalam otaknya, kalau sekarang aku ke perpustakaan, apa aku bisa ketemu lagi sama dia? Tapi akal sehatnya masih berfungsi, gila kamu, Mil! Kamu kira ini sinetron? Ia pun memutuskan untuk tetap menunggu hingga hujan reda. Meskipun dari luar ia tampak tenang, sebenarnya dalam benaknya terjadi perang antara perasaan dan logikanya. Tidak sampai 5 menit, perasaannya menang. Tanpa berpikir lagi, ia langsung membuka payungnya dan menerjang hujan yang masih turun deras. Sesampainya di perpustakaan, Milly tidak menemukan pemuda itu. Ia kecewa, namun memutuskan untuk menunggu di dalam perpustakaan. Diambilnya sebuah novel roman, kemudian duduk di salah satu kursi. Tak seperti biasanya, sebuah novel pun tak mampu menenangkannya. Setelah 20 menit membaca, ia memutuskan untuk pulang saja. Namun, di depan perpustakaan, dia melihat seorang lelaki yang wajahnya tak asing lagi. Melihatnya, lelaki itu tersenyum, memamerkan lesung pipit yang manis. “Hai, nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi di sini,” sapanya, masih tersenyum. Milly hanya membalas dengan senyuman. “Masih nggak mau pinjem payung?” tawarnya sambil menyodorkan payung. Milly menggeleng, “Nggak usah, aku udah bawa payung kok.” “Ooh,” jawab lelaki itu singkat, terdengar sedikit kecewa. Kemudian timbul keheningan di antara mereka. Di satu sisi, Milly tidak rela meninggalkan lelaki itu. Di sisi lain, lelaki itu tidak terlihat ingin beranjak. “Omong-omong, kita belum kenalan. Aku Milly. Namamu siapa?” tanya Milly memecah keheningan. “Kevin. Namaku Kevin,” jawab lelaki itu sambil menjulurkan tangan mengajak bersalaman. Tak lupa senyum manisnya ia pertunjukkan. Milly menanggapi ajakan bersalaman itu. Jantungnya berdegup sangat kencang ketika tangannya menggenggam tangan Kevin. “Berarti sekarang kita temenan, kan? Boleh minta nomor HP atau pin BB kamu?” tanya Kevin tiba-tiba. Entah karena terpesona oleh  senyum Kevin atau memang pikirannya sedang tidak waras, Milly langsung memberikan nomor handphone-nya. “Thanks. Nanti kalo aku telepon, diangkat ya,” kata Kevin, senyumnya yang manis masih bertahan di wajahnya. Tanpa terasa hujan sudah reda. Bersamaan dengan itu, mereka pun berpisah, kembali ke rumah masing-masing. Saling melambaikan tangan dengan senyum yang terus merekah.

Seperti sudah ditakdirkan, hujan kembali mempertemukan mereka. Apa ini yang namanya jodoh?

- END -

Tuesday, 29 July 2014

Mencintaimu

Mencintaimu bukanlah sesuatu yang bisa kuhindari. Meskipun sudah berulang kali kukatakan pada diriku untuk berhenti melihatmu, tak dapat kucegah jantungku yang berdebar lebih cepat ketika aku mendengar suaramu. Aku terus meyakinkan diriku bahwa kau tidak baik bagiku. Sifatmu yang keras kepala dan cuek, bukanlah kombinasi yang tepat untuk menaklukkan hati seorang wanita. Namun, harus kuakui, aku tertarik padamu karena alasan yang tidak kumengerti. Apakah itu matamu? Senyummu? Atau sikapmu?

Mencintaimu seperti menaiki roller coaster. Menegangkan dan penuh kejutan. Terkadang kau membuatku melambung tinggi,  setelah itu kau jatuhkan aku tanpa peringatan. Mencintaimu seperti masuk ke dalam rumah kaca. Aku merasa kau ada di sekelilingku, tapi itu semua adalah semu, hanya pantulan dari dirimu. Yang pasti, mencintaimu itu abu-abu. Aku tak bisa paham, apakah kau benar mencintaiku atau hanya pura-pura? Anehnya,  aku terus mengikutimu dalam ketidakjelasan ini. Aku bisa saja lari, namun aku tak mau. Karena di samping sakit yang kau berikan, masih ada kebahagiaan yang membuatku bertahan. Dan aku tidak tahu apakah aku bisa sebahagia ini jika melepaskanmu?

Kata orang, cinta seharusnya tidak menyakiti. Lalu, apakah mencintaimu itu salah? Aku tahu aku seperti orang bodoh yang mau hidup dalam ketidakpastian. Entah sudah berapa kali sakit hati aku rasakan, yang aku lakukan hanya tetap bertahan. Meyakinkan diriku sendiri bahwa aku cukup kuat. Tapi, bodohkah aku yang menginginkan kebahagiaan? Atau haruskah aku melepaskanmu?

Thursday, 24 October 2013

Life

Life is kind of like a party.
You invite a lot of people,
some leave early,
some stay all night,

some laugh with you,
some laugh at you,
and some show up really late.

But in the end,
after the fun,
there are few who stay to help you clean up the mess.

And most of the time,
they aren't even the ones who made the mess.
These people are your true friends in life.
They are the only ones who matter.

No matter how many mistakes you make
or how slow you progress,
you are still way ahead of everyone who isn't trying.

We are all weird.
And life is weird.
And when we find someone whose weirdness is compatible with ours,
we call it LOVE.

Tuesday, 22 October 2013

So True

"A boy and a girl can be just friends.
But at one point or another, they will fall for each other.
Maybe temporarily,
maybe at the wrong time,
maybe too late,
or maybe forever."
- 500 Days of Summer

Monday, 21 October 2013

Masih

Cinta itu menyusahkan.
Cinta itu membawa kelemahan.
Cinta akan berakhir pada sakit hati.

Prinsip-prinsip itulah yang membawaku pada kesimpulan ini.
Aku harus melupakanmu.

Menghapus cinta yang tak jelas ujungnya ini, membuang perasaan sepihak ini.
Memang akan susah, tapi aku akan berusaha.

Lama aku bergumul dengan hati kecilku.
Berusaha menepis bisikan-bisikan menjerumuskan, berkecamuk dengan pikiran dan perasaan yang tak sejalan.

Dan saat itu pun tiba.
Saat di mana aku mendeklarasikan pada dunia kecilku,
aku telah melupakannya.

Hari-hariku berjalan mulus tanpa beban.
Tak ada lagi waktu untuk memikirkan senyum manismu.
Tak ada lagi kesempatan bagi sosokmu untuk terbesit di pikiranku.

Kemudian,
kamu pun datang kembali.
Dengan segala keramahan dan kebaikan hatimu.
Bersama kekonyolan dan kecerobohanmu yang membuatku tertawa.
Aku kira aku pasti bisa menanggapinya layaknya seorang teman.
Ingat,
Aku sudah melupakannya.

Atau setidaknya itulah yang selalu kupercaya.

Ternyata aku gagal.
Aku tidak pernah berhenti mencintainya.
Berhenti memikirkan dia, bukan berarti aku sudah benar-benar melupakannya.
Hanya keangkuhan dan sifat keras kepalaku yang menolak dia.
Walaupun sesungguhnya hatiku meronta,
tak ingin dipaksa untuk berhenti mencinta.

Dan ketika pemicu itu muncul kembali,
robohlah semua benteng pertahanan itu.

Terkadang,
kudapati diriku terkadang masih memandangnya,
masih mengaguminya,
masih memikirkannya,
masih mengharapkannya,
.
.
.
masih mencintainya.

Saturday, 26 January 2013

Kisah tentang Hujan (I)


Ini adalah sebuah kisah di mana hujan bisa mengubah hidup seorang gadis remaja. Sebuah kisah tentang hujan yang ternyata membawa banyak kenangan indah. Sebuah kisah tentang gadis yang selalu menunggu hujan. Sebuah kisah di mana hujan merupakan pertanda sebuah kisah cinta.

Mentari yang sedari pagi bersinar cerah tiba-tiba menghilang, tergantikan oleh gumpalan awan kelabu yang dalam sekejap menguasai langit. Sesekali terdengar gemuruh petir menyambut kedatangan sang tamu agung. Tak lama kemudian dia pun datang. Berawal dari uap air dalam awan yang terkondensasi membentuk tetesan air yang langsung meluncur ke permukaan bumi. Setetes demi setetes, disusul jutaan tetes lainnya langsung membasahi bumi. Tanpa memberi banyak waktu bagi para makhluk di bumi untuk berpikir, hujan langsung mengusir mereka kembali ke tempat persembunyiannya.
Hujan tampaknya juga memaksa seorang gadis untuk berteduh. Ia baru saja melangkahkan kakinya keluar dari perpustakaan ketika tiba-tiba hujan turun dengan deras. Dengan sedikit jengkel, ia pun berteduh di teras perpustakaan itu, memilih untuk mengamati hujan yang turun daripada kembali ke dalam perpustakaan. Ketika ia sedang asyik mengamati guyuran hujan, seseorang menyodorkan payung kepadanya. Ia pun menoleh. Seorang pemuda kira-kira seumurannya berdiri di sampingnya untuk menawarkan payung. Pemuda itu tinggi, berkulit putih bersih dan berbadan tegap. “Payung?” tanyanya sembari tersenyum, memamerkan lesung pipit yang membuat senyumnya manis. Merasa diamati, pemuda itu segera menambahkan, “Tenang saja, aku bukan penculik atau perampok, kok. Aku cuma pingin nolong kamu.” Mendengar perkataannya, tentu saja gadis itu menjadi malu, tampak dari semburat pink yang muncul pada kedua pipinya. “Eh, maaf, bukannya aku ngira kamu jahat. Memangnya kamu nggak butuh payung?” jawab gadis itu segera. “Nggak, aku kan laki-laki. Nggak masalah kalau kena hujan.” ucap pemuda itu. “Nggak bisa begitu lah, ini kan payung kamu, masa aku yang pakai? Kamu sampai bela-belain kehujanan lagi. Nggak usah deh, makasih. Aku nunggu sampai hujannya reda aja,” tolak gadis itu. Pemuda itu tidak mengucapkan apa-apa lagi. Dia hanya diam, ikut menunggu bersama gadis itu. Menghadapi hal semacam ini, gadis itu menjadi salah tingkah. “Kenapa kamu nunggu aku?” tanya gadis itu penasaran. Pemuda itu tersenyum, kembali memamerkan lesung pipitnya. “Jarang-jarang aku ketemu cewek kayak kamu. Makanya aku nggak mau pergi sebelum bisa membuatmu terkesan.” Sebenarnya, tanpa dia sadari, gadis itu sudah terkesan padanya sejak saat ia menawarkan payung. Karena bingung harus menjawab bagaimana, gadis itu hanya terdiam dan menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sedang tersenyum bahagia. Dia tidak ingin pemuda itu tahu betapa ia sangat senang bisa diperhatikan olehnya. Tanpa terasa 30 menit berlalu, hujan pun mereda. Selama itu pula mereka hanya berdiri bersebelahan tanpa suara. Tak satu pun dari mereka memulai pembicaraan. “Hujannya sudah reda. Aku pulang dulu ya?” ucap gadis itu memecah keheningan. Lagi-lagi pemuda itu tersenyum dan mengangguk, menyetujui kepulangan gadis itu. Walaupun merasa sedikit kecewa, akhirnya gadis itu melangkahkan kakinya ke jalan. Tiba-tiba pemuda itu berteriak, “Aku harap kita bisa bertemu lagi!” Namun gadis itu tidak menoleh. Padahal sesungguhnya gadis itu sangat bahagia. Dia hanya berusaha menyembunyikan senyumnya. Jangan memberi harapan kepada orang asing! Lagipula, apakah mungkin kita bertemu lagi? ucapnya dalam hati. Mereka pun berpisah tanpa sempat mengenal satu sama lain. Bahkan sekedar nama pun tidak tahu. Hujan telah mempertemukan mereka. Akankah hujan mempertemukan mereka untuk kedua kalinya?

Wednesday, 23 January 2013

Type of Guys You Shouldn't Date

Berhubung sekarang sudah tahun baru, maka hal-hal yang dibahas dalam blog ini juga ada yang baru. Salah satunya adalah informasi tentang masalah seperti ini. Bukannya aku lagi galau masalah cowok, cuma pingin aja share tipe-tipe cowok yang seharusnya kalian hindari (khusus bagi yang merasa cewek). Kenapa tiba-tiba aku baik banget sampe nulis posting ini? Alesannya, aku pingin aja para cewek-cewek di dunia ini, terutama yang masih SMA seperti aku tahu cowok yang mengerikan itu seperti apa. Aku sering denger cewek yang di-PHP-in sama cowok, diduain, ato disakitin. Kasian aja kan kalau hal itu terulang terus. Makanya, ini adalah salah satu prevention supaya kalian nggak terjebak lagi sama cowok yang salah!

WARNING! POSTING INI KHUSUS UNTUK PARA CEWEK! BAGI COWOK YANG MEMBACA, MOHON JANGAN TERSINGGUNG!

Berikut ini adalah tipe cowok yang seringkali membuat para cewek patah hati :

  • KASAR. Suka menggunakan kontak fisik untuk mengatasi masalah. Mungkin itu terlihat jantan. Dia tampak jagoan dan tidak terkalahkan. Tetapi, pernahkah berpikir bahwa saat menghadapi masalah dalam hubungan nanti dia mungkin melakukan kekerasan fisik terhadap kita. Membayangkannya saja sudah seram. Apalagi kalau dia bertindak kasar terhadap ibunya atau saudara perempuannya. Jauhi SECEPATNYA!
  • MISTERIUS. Pria misterius memang sering membuat ketertarikan kita semakin besar kepadanya. Tapi, tipe seperti itu "berbahaya". Sebab, mereka selalu menyembunyikan kepribadian asli. Sebagian besar kalian baru mengetahui fakta tersembunyi tentang dia setidaknya enam bulan setelah hubungan berjalan. Sebelum memulai hubungan, cari informasi dari teman dekatnya.
  • RAGU-RAGU. Perempuan butuh pria sebagai partner yang bisa saling mengisi. Dalam banyak hal kita ingin pria mengambil keputusan, tentunya dengan persetujuan kita. Nah, kalau dia justru selalu ragu-ragu ketika bertindak dan menyerahkan semua keputusan pada kita, memangnya kita sedang jalan dengan adik laki-laki yang masih remaja dan LABIL?
  • MENDOMINASI. Berkebalikan dengan tipe sebelumnya, dia ingin menguasai kamu. Menghubungi kalian tiap hari, terus tanya di mana, sedang apa, sama siapa. Tidak suka dibantah. Kamu dipaksa untuk berpakaian dengan cara yang dia suka. Terkadang perempuan rela mengalah. Tapi, apakah kamu mau terus jadi 'boneka'-nya? Apalagi kalau dia menjauhkan kamu dari teman-teman atau -lebih buruk lagi- KELUARGAMU SENDIRI!
  • INSECURE. Cowok ini berulang-ulang menyatakan betapa berartinya kamu dalam hidupnya. Memang so sweet sih, tapi kalau tindakan itu diikuti dengan gejala over protektif? Dia tidak membiarkan kamu kembali ke kehidupan normal karena takut kehilangan kamu tiap kali kamu ketemu temen baru. NO WAY!
  • KING OF DRAMA. Dia suka membesar-besarkan segalanya. Dia juga cenderung menyalahkan kamu ketika ada sesuatu yang tidak beres. Tiap ada masalah, bukannya cari solusi, tapi malah sibuk membesar-besarkan penyebab terjadinya masalah itu. Please deh, cowok kok lebay.
  • CLUELESS. Terlalu menikmati hidup dan tidak punya tujuan yang jelas untuk masa depan. Menjalin hubungan dengan cowok tipe ini membuat masa depan kita tidak pasti. Bahkan, meski dia lahir dari orang tua yang kaya, tidak menjadi jaminan. Kecuali, kamu mau membimbingnya dan yakin bahwa karakternya bisa berubah. Kalau kamu emang bakat jadi guru ya nggak masalah sih. Kalau nggak? Bye bye aja deh.
Itu tadi tipe-tipe cowok yang sebaiknya kalian hindari. Tapi, kalau kalian udah terlanjur cinta mati dan dia juga kelihatannya cinta banget sama kamu, dan yang paling penting kamu ngerasa kalau dia itu worth it, then fight for him! Emang bakal susah, tapi kalau dengan kekuatan cinta, apa yang mustahil? (cie). Bagi para cowok, perhatikan baik-baik, berusahalah menjadi cowok yang tidak masuk dalam 'BLACK LIST'. Good luck for your love life! ;)

sumber : www.jawapos.com