Saturday 26 January 2013

Kisah tentang Hujan (I)


Ini adalah sebuah kisah di mana hujan bisa mengubah hidup seorang gadis remaja. Sebuah kisah tentang hujan yang ternyata membawa banyak kenangan indah. Sebuah kisah tentang gadis yang selalu menunggu hujan. Sebuah kisah di mana hujan merupakan pertanda sebuah kisah cinta.

Mentari yang sedari pagi bersinar cerah tiba-tiba menghilang, tergantikan oleh gumpalan awan kelabu yang dalam sekejap menguasai langit. Sesekali terdengar gemuruh petir menyambut kedatangan sang tamu agung. Tak lama kemudian dia pun datang. Berawal dari uap air dalam awan yang terkondensasi membentuk tetesan air yang langsung meluncur ke permukaan bumi. Setetes demi setetes, disusul jutaan tetes lainnya langsung membasahi bumi. Tanpa memberi banyak waktu bagi para makhluk di bumi untuk berpikir, hujan langsung mengusir mereka kembali ke tempat persembunyiannya.
Hujan tampaknya juga memaksa seorang gadis untuk berteduh. Ia baru saja melangkahkan kakinya keluar dari perpustakaan ketika tiba-tiba hujan turun dengan deras. Dengan sedikit jengkel, ia pun berteduh di teras perpustakaan itu, memilih untuk mengamati hujan yang turun daripada kembali ke dalam perpustakaan. Ketika ia sedang asyik mengamati guyuran hujan, seseorang menyodorkan payung kepadanya. Ia pun menoleh. Seorang pemuda kira-kira seumurannya berdiri di sampingnya untuk menawarkan payung. Pemuda itu tinggi, berkulit putih bersih dan berbadan tegap. “Payung?” tanyanya sembari tersenyum, memamerkan lesung pipit yang membuat senyumnya manis. Merasa diamati, pemuda itu segera menambahkan, “Tenang saja, aku bukan penculik atau perampok, kok. Aku cuma pingin nolong kamu.” Mendengar perkataannya, tentu saja gadis itu menjadi malu, tampak dari semburat pink yang muncul pada kedua pipinya. “Eh, maaf, bukannya aku ngira kamu jahat. Memangnya kamu nggak butuh payung?” jawab gadis itu segera. “Nggak, aku kan laki-laki. Nggak masalah kalau kena hujan.” ucap pemuda itu. “Nggak bisa begitu lah, ini kan payung kamu, masa aku yang pakai? Kamu sampai bela-belain kehujanan lagi. Nggak usah deh, makasih. Aku nunggu sampai hujannya reda aja,” tolak gadis itu. Pemuda itu tidak mengucapkan apa-apa lagi. Dia hanya diam, ikut menunggu bersama gadis itu. Menghadapi hal semacam ini, gadis itu menjadi salah tingkah. “Kenapa kamu nunggu aku?” tanya gadis itu penasaran. Pemuda itu tersenyum, kembali memamerkan lesung pipitnya. “Jarang-jarang aku ketemu cewek kayak kamu. Makanya aku nggak mau pergi sebelum bisa membuatmu terkesan.” Sebenarnya, tanpa dia sadari, gadis itu sudah terkesan padanya sejak saat ia menawarkan payung. Karena bingung harus menjawab bagaimana, gadis itu hanya terdiam dan menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sedang tersenyum bahagia. Dia tidak ingin pemuda itu tahu betapa ia sangat senang bisa diperhatikan olehnya. Tanpa terasa 30 menit berlalu, hujan pun mereda. Selama itu pula mereka hanya berdiri bersebelahan tanpa suara. Tak satu pun dari mereka memulai pembicaraan. “Hujannya sudah reda. Aku pulang dulu ya?” ucap gadis itu memecah keheningan. Lagi-lagi pemuda itu tersenyum dan mengangguk, menyetujui kepulangan gadis itu. Walaupun merasa sedikit kecewa, akhirnya gadis itu melangkahkan kakinya ke jalan. Tiba-tiba pemuda itu berteriak, “Aku harap kita bisa bertemu lagi!” Namun gadis itu tidak menoleh. Padahal sesungguhnya gadis itu sangat bahagia. Dia hanya berusaha menyembunyikan senyumnya. Jangan memberi harapan kepada orang asing! Lagipula, apakah mungkin kita bertemu lagi? ucapnya dalam hati. Mereka pun berpisah tanpa sempat mengenal satu sama lain. Bahkan sekedar nama pun tidak tahu. Hujan telah mempertemukan mereka. Akankah hujan mempertemukan mereka untuk kedua kalinya?

No comments:

Post a Comment