Thursday, 24 September 2020

In Pain

For every goodbyes that I said,
a little piece of my heart went along with them
No matter how good the reason was,
I still couldn't stop myself from hurting

Though I think by now I have learned the art of moving on
How can the wound still sting?
Because not everything that is broken can be fixed,
not all that hurt can be healed
And for each scars, my heart just shut even tighter
trying to protect if from breaking even more
But then, can one feel pain where there's nothing left to hurt?
Isn't my heart shattered already?

Wednesday, 25 December 2019

Dear Me

Dear me,
How is life these days?
It's hard, isn't it?
Even though you feel like breaking down,
please bear it a little bit longer.
I promise I'll get you out of there in no time.

Whenever you are about to give up,
think of why you were here at the first time.
Your mom and dad reminding you non-stop to eat more,
your little brother who can do nothing without asking you,
your dear friends who would curse at you for not replying their messages.
Since they are the only things worth the suffering.

Hey,
If you just remember last night,
when you ate that delicious greasy fried chicken while watching your favourite series,
isn't life so beautiful?
If you just recollect those memories,
when you won that drawing competition,
you graduated, got your first job, your first commission...
Wow.
What is it to be ungrateful for?

Dear me,
Forgive me for letting you fight all alone.
Forgive me for not loving you enough.
Now is my turn to help you.
You can trust me, right?

Tuesday, 24 September 2019

Suatu Malam

Sama seperti malam berganti pagi,
hujan badai mendahului pelangi,
begitulah setiap masalah memiliki solusi.
Setidaknya itu yang selalu kudengar.

Namun, bagaimana jika pagi tidak memberikan jawaban?
Dan pelangi tidak menghadirkan kebahagiaan?
Apakah benar semua perkara ada jalan keluarnya?

Seperti semua cerita pasti memiliki akhir,
bagaimana kisah ini akan berakhir?
Apakah bahagia? Apakah sedih?
Ataukah hanya menunggu waktu sampai semua orang lupa?

Seperti malam yang aku rasa tak akan pernah kulupakan itu.
Malam di mana aku merasakan bahwa tidak semua masalah memiliki jalan keluar,
dan tidak semua cerita memiliki akhir.
Setidaknya itu yang aku pikir.

Meskipun cerita itu telah lama terkubur,
dan waktu perlahan membuatku melupakannya,
satu pertanyaan yang akan selamanya tidak pernah terjawab,
"Apakah dia merasakan yang sama?"

Thursday, 16 August 2018

Indonesia Merdeka!

Related image

Tanggal 17 Agustus 2018, rakyat Indonesia merayakan 73 tahun kemerdekaannya. Berbagai perayaan terjadi, mulai dari upacara, lomba-lomba, pawai, hingga konser kemerdekaan. Selain itu, media sosial juga ramai dengan foto-foto ber-caption nasionalis. Hari ini adalah hari di mana orang yang sehari-harinya memuji dan memuja negara sebelah mendadak mengelu-elukan patriotisme. Hari di mana orang yang gemar mengkritik pemerintah semakin heboh mempertanyakan kemerdekaan. Apakah setelah 73 tahun Indonesia benar-benar merdeka? Ataukah kemerdekaan ini hanyalah status quo?

Beberapa tahun yang lalu, aku pernah menulis tentang kemerdekaan Indonesia (yang penasaran boleh klik di sini). Di post tersebut, aku menulis bahwa Indonesia belum lepas dari penjajahan rakyatnya. Sudah 4 tahun berlalu, tetapi menurutku opini tersebut masih valid. Indonesia (masih) dijajah oleh rakyatnya sendiri. Bertahun-tahun banyak orang menuntut kemerdekaan yang sesungguhnya. Mereka menuntut pendidikan yang merata, kesejahteraan rakyat, keadilan hukum, dan masih banyak lagi. Setiap tahun masalah yang timbul selalu sama. Apakah pemerintah hanya diam saja? Tentu tidak. Pemerintah sudah bekerja keras untuk memenuhi tuntutan rakyat. Namun, tentu saja usaha sekeras apapun tidak akan dihargai apabila tidak ada hasil yang fantastis.

Ketika masyarakat menuntut pemerataan pendidikan, pemerintah menawarkan program wajib belajar 12 tahun. Tujuannya tentu untuk meningkatkan kualitas masyarakat. Sayangnya, muncul berbagai masalah, mulai dari banyaknya sekolah yang kekurangan dana dan kekurangan guru. Lantas apa yang dilakukan oleh rakyat Indonesia? Apalagi kalau bukan mengkritik pemerintah. Ketika pemerintah membutuhkan pasokan guru untuk mengajar di pedalaman, rakyat justru berbondong-bondong pergi ke kota dan mencari pekerjaan kantoran. Ketika masyarakat menuntut kesejahteraan dan kemakmuran, pemerintah berusaha membujuk warga agar mau bertransmigrasi ke daerah yang penduduknya lebih sedikit. Sayangnya, rakyat bersikeras tinggal di kota besar karena ekonomi desa susah 'katanya'. Kalau begini terus bagaimana Indonesia mau merdeka seperti keinginan kalian?

Terkadang, sebagian orang terlalu fokus mengkritik karena mereka sudah terlanjur memiliki doktrin bahwa Indonesia bermasalah dan pemerintahnya korup. Mungkin dilihat dari beberapa statistik, Indonesia memang memiliki rekor yang cukup memprihatinkan. Namun, sisi positifnya adalah Indonesia bukanlah yang terburuk dan masih memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang. Masalahnya, siapa yang bisa membantu Indonesia untuk semakin maju? Apakah pemerintah yang mungkin hanya 0.01% dari total penduduk harus bertanggung jawab? Jika kita sebagai warga negara yang baik ingin membantu Indonesia untuk menjadi lebih baik, bagaimana jika dimulai dengan mempercayai pemerintah kita?

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak cela dalam pemerintahan kita, tetapi kita harus percaya bahwa pasti ada orang-orang yang memang tulus ingin memajukan Indonesia di sana. Daripada kita sibuk mengkritik pemerintah yang belum tentu mendengarkan, lebih baik kita yang mulai berusaha untuk mengharumkan nama Indonesia. Karena ketika kita berlebihan dalam mengkritik ataupun menjelekkan pemerintah, maka hal ini bisa jadi mempengaruhi pemikiran orang lain sehingga mereka tidak lagi percaya pada kebijakan pemerintah. Bukankah lebih menyenangkan bila kita mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang menyenangkan negeri ini? Belajar dan bekerja dengan tekun, mematuhi Undang-Undang, taat membayar pajak, dan saling menghormati antarwarga. Kira-kira butuh berapa tahun sampai rakyat Indonesia puas dan merasa merdeka? Sampai kapan kita mau menjajah bangsa kita sendiri?

Thursday, 26 July 2018

Academic vs. Non-Academic

As students, it is our duty to study and get good grades (or maybe just pass). But as human beings, socialization is our need. Sometimes we struggle to maintain our grades while keeping our social life on track. And it's become our eternal burden to keep the academic and social life balanced. In this post, I want to share my way of balancing the academic and non-academic life as a student. It might not apply to your personality or condition, but still, I hope that my story can enlighten you a little :)

Everybody gets their own ways balancing study and social life, and so do I. For me, I chose organization as a part of my social life. I'm not saying that it's the best option, but it is indeed an option you should consider if you feel that you need to improve your intrapersonal and interpersonal skills -- or in a much simpler way: if you are not ready for the real world. Just so you know, for the past 20 years of my life, I have always been questioning my capabilities and characters. And I thought maybe joining organizations can help me improve myself. So, how exactly do those organization experiences change my life?

First of all, I was born a 100% introvert and shy person. What a perfect combination right? I don't really like interacting with people and is not brave enough to approach somebody. As a result, I have very few friends from elementary school. My parents were so worried because I was so silent and anti-social that they took me to a psychologist. I didn't know if the therapy did work though. What's certain was that my social life got better in junior high. I did join OSIS (student organization) in junior high, but it didn't really affect my social life in my opinion. Yes, I got some good friends because of OSIS, but that's it. The most memorable moment of my junior high was when I joined the school band. Since our main topic is not about the band, I'll just say that being in the school band helped me a lot in improving my self-esteem and social skill. But my interest in school organization grew since then because I felt that I might get to learn some skills that benefit me in the long run from joining an organization. This surely was a turning point for the old shy-and-over-introverted-me.

In the high school, my social skill has got better and I didn't really struggle to get new friends. Although I tend to keep my inner circle small, I've got quite lots of acquaintances. This time, I joined OSIS again, hoping to improve my soft-skills. My high school life pretty much was filled with studying and lots of committees. It was undoubtedly tiring and time-consuming, but I enjoyed it so much! And I was definitely well-equipped with some essential soft-skills needed for my future, like public speaking, presentation, and event-organizing skills, also some lobbying stuff. Somehow, after all those high school organization experiences, I felt like I was actually better than who I thought I was. And that I am capable of something bigger. Do you know that feeling? When you feel like you actually deserve to be the main character of your life, that you are more than just the sidekick. Maybe this tips can be useful for you if you ever feel small or incompetent: try to improve yourself, learn something new, practice more, and always aim to be the better version of yourself EVERYDAY.

Now, in the university, I've got my self-esteem and skills. So what? Am I a cool kid now? Well, I think 'being cool' is just not for everyone. I still don't like to socialize that much. Then, I knew that being in an organization is just my thing, something like a hobby. Again, I found myself signing up for the university student association for two years. Throughout those years, my critical thinking skill surely improved a lot. I learned so much about conceptual thinking, troubleshooting, and decision making. Besides, I acquired more knowledge about people and myself. I can see myself getting better at building new relationships as well as controlling my thoughts.

Actually, that self-improvement stuff is not the best thing that you can get from an organization. I am happy that I can be a better person after joining so many organizations. But, besides that, the memories that remained are way more valuable. I think most of the school/university student association encompasses kinship and strong bond between its members. And that's exactly what I felt throughout my organization journey. I knew that there were people who through the same struggle with me and that kind of relieving knowing that you are not alone, right? Knowing that you always got somebody to back you up, or at least to cry and cheer together. I can't deny that as a social creature, I need that kind of support in my life. I can say that those people are the ones who keep me sane throughout the past years.

At this point, you should know that I chose organization as a part of my social life because I like it and I surely got the most out of it. Is an organization experience worth more than real job experience, such as part-time? Of course not. Both of them could mold you into a better person, but that depends solely on yourself. The point is, choose activities that upgrade your old incompetent and inexperienced self. I also want to remind you not to blame anyone or anything, but you. There's no excuse to keep your weakness because the real world doesn't care about it. You know that humans are capable of many crazy and amazing things, right? This part is especially dedicated to you who think that introverts and socially-awkward people are damned. You can change yourself because I can.

To end this long and soon-to-be-boring post, I'm going to wrap things up. First, academic and social life are both VERY IMPORTANT. And you should find a way to balance them. There are plenty of options you can choose, either the "conventional" organization or the "fun" real job. Let's get down to the nitty-gritty: find activities that improve you - either in character or skills - but always be eager to be a better person. And another warning, don't let all these "be a better person" stuffs stress you out, rather find the one that makes you happy and enjoy your life more. Because YOU deserve to be happy ;)

Wednesday, 4 July 2018

Life as A Mathematician

Hai! Perkenalkan, aku penulis blog ini dan aku adalah seorang mahasiswa jurusan Matematika Terapan di sebuah universitas swasta di Tangerang. Meskipun aku yakin pasti udah banyak dari kalian yang tahu mengenai 'trend' jurusan Matematika, tapi sampai sekarang pun masih ga jarang orang yang begitu tahu aku anak Matematika pasti nanya "Oh mau jadi guru/dosen ya?". Oke om/tante/kakak/adik, aku gamau jadi guru ato dosen ato guru les. Supaya kalian dapet gambaran sedikit soal jurusanku, silakan klik di sini.

Jadi sekarang udah tahu kan kalo anak Matematika ga cuma bisa jadi guru? Aku memutuskan buat berbagi pengalaman soal kehidupan perkuliahanku karena aku udah memasuki taun (hampir) terakhir kuliah jadi aku ngerasa udah cukup bisa diandalkan HEHE. Ngga sih. Sebenernya karena baru ada keinginan buat nulis sekarang aja. Lupakan alesan aku mau sharing karena itu ga terlalu penting dan lebih baik kita langsung masuk ke pokok pembicaraan.

1. Kenapa pilih jurusan Matematika? Suka hitung-hitungan ya?
Bener, Matematika adalah salah satu pelajaran favorit aku pas sekolah karena aku biasanya dapet nilai bagus di situ. Tapi, sebenernya aku suka banget Biologi dan sempet kepikiran masuk jurusan Bioteknologi. Cuma begitu merasakan pahitnya pelajaran Biologi SMA, impian itupun kandas. Akhirnya, aku mutusin buat masuk Matematika karena waktu itu lagi booming aktuaria dan harusnya di jurusan ini ga ada Fisika lah ya (tapi bohong).

2. Jurusan Matematika susah ngga? Pasti bosen ya tiap hari ketemu angka?
Seiring dengan bertambah lamanya kamu kuliah Matematika, kamu bakal ngerasa bersyukur banget kalo bisa ketemu lebih banyak angka dibanding huruf (if you know what I mean). Atau kalo mau pake bahasa awam, SUSAH BANGET LAH GILA YA. Bukan susah ngitung, bukan susah nyederhanain aljabar, tapi susahnya udah sesusah ngertiin pacar kamu. Saran aku, jangan masuk jurusan ini cuma karena iming-iming gaji gede. Kalo kalian ga punya ketekunan lebih dan mental yang kuat, mending cari jurusan lain aja :)

3. Belajar apa aja di jurusan Matematika?
Kalo kata dosen aku, belajar pake keringat dan darah buat nyelesain soal.
Well, ngga se-ekstrem itu juga sih. Di tahun pertama kalian bakal belajar 'hitung-hitungan' kaya kalkulus, aljabar linier, logika, sama sedikit pengantar untuk software matematika. Memasuki tahun kedua, ini adalah masa di mana angka semakin jarang ditemui. Sebagian besar mata kuliah tahun ini akan melibatkan pembuktian, teorema, definisi, dkk. Misalnya, ada namanya mata kuliah Analisis Real di mana kamu disuruh buktiin kenapa 1-1=0. Mantap bukan. Ada juga mata kuliah Persamaan Diferensial Biasa dan Metode Matematika yang kamu ngitung huruf terus tiba-tiba bisa berubah jadi angka. Bingung? Buktikan sendiri di jurusan Matematika ;). Di tahun ketiga atau tahun terakhir, kalau di universitas aku biasanya lebih ke mata kuliah peminatan. Kurang lebih sama kaya tahun kedua, cuma 5x lebih susah aja. Biasanya di tahun-tahun ini skill bertahan hidup kalian udah cukup terasah biar bisa 'lolos'.

4. Bener ga kalo lulusan Matematika gajinya tinggi?
Maybe yes. Maybe no. Gatau karena aku belom kerja. Tapi yang pasti, kalo kamu kuliah cuma karena pengen dapet gaji tinggi, ujung-ujungnya pasti bakal kecewa. Dunia ini keras guys. Mungkin memang lulusan Matematika gajinya di atas rata-rata, tapi ya bukan berarti pertama kali kerja langsung digaji 20jt kan? Jurusan apapun, asal kamu niat waktu kuliah, pasti nanti kerjanya juga digaji sesuai dengan usaha kamu. Jadi, biar kamu dapet gaji tinggi dengan masuk jurusan Matematika, pastiin IPK kamu tinggi atau lulus ujian sertifikasi sebanyak mungkin.

5. Gimana cara bertahan di jurusan Matematika?
Ngga terlalu beda sama jurusan lain sih. Asal kamu tekun dan pantang menyerah pasti bisa lulus kok. Kamu nggak terlalu pinter? No problem. Kamu males? Masih bisa. Kamu nggak pinter dan males? Percayalah mujizat itu ada. Kalo mau dirangkum, kurang lebih ini tips buat bertahan di jurusan Matematika (bisa diaplikasikan untuk semua jurusan):
  • Banyak doa (karena Tuhan yang ngatur semuanya)
  • Baik-baik sama dosen (karena dosen satu level di bawah Tuhan)
  • Banyak belajar/latihan soal (abaikan kalo kamu orangnya males)
  • Banyak bergaul (biar gampang dapet pinjeman catetan/contekan--> TIDAK DISARANKAN)
  • Ikut organisasi (biar ada nilai plus kalo IPK kamu jelek)

6. Nyesel ga masuk jurusan Matematika?
Tentu saja tidak. Ini 100% jujur kok, percayalah. Meskipun ada masanya aku mikir kalo aku salah jurusan, apalagi pas dapet mata kuliah yang abstrak dengan dosen lebih abstrak, tapi tetep aja aku ga bisa ngebayangin gimana kalo aku masuk jurusan lain. Bahkan aku bersyukur banget akhirnya milih Matematika dibanding Bioteknologi karena di jurusan ini ga ada yang namanya lab dan bikin laporan tiap minggu. Bisa dibilang jurusan Matematika itu kaya SMA cuma pelajarannya 1.000x lebih sulit aja :). Gimana ngga? Kerjaannya cuma dateng kelas, ngerjain PR, ngerjain kuis, latihan soal, gitu-gitu aja sampe lulus. Bikin makalah juga hampir ngga pernah kecuali buat mata kuliah umum. Modal cuma butuh alat tulis (bisa minjem), buku/kertas (bisa minta temen), laptop (bisa minjem juga sih...), sama akal sehat (YANG INI HARUS PUNYA). Mana mungkin nyesel, kan?

7. Pesan buat anak yang mau masuk Matematika?
Sebenernya Matematika itu ngga sulit kok. Cuma butuh rajin, tekun, sama pinter dikit.
Dosen-dosen aku selalu bilang, kunci supaya bisa bertahan di jurusan ini ya cuma rajin-rajin latihan soal aja. Kalo mau lebih rajin lagi, baca buku atau cari bahan di Internet. Tapi, kalo kamu udah punya dasar rasa suka sama Matematika atau paling ngga nilai Matematika kamu selama sekolah bagus, itu udah cukup. Dan prospek jurusan ini bisa dibilang masih bagus kok. Ngga cuma aktuari aja, ada juga profesi data scientist atau data analyst yang sekarang banyak dicari dan itu semua dasarnya juga Matematika. Intinya, jangan ragu buat masuk jurusan Matematika dan jangan takut!

Tuesday, 19 June 2018

As We Grow

As we grow older,
24/7 is just not enough
5 or 10 hours of sleep feels the same
2 or more jobs can’t suffice

As we grow mature,
anxiety got bigger
freedom suffocates
the future becomes intimidating 

As we grow wiser,
it’s quality over quantity
happiness values more than anything
though reality slaps hard

As we grow tougher,
cuts and scars won’t bother
hate only exhausts
because forgiveness did the magic