Friday, 29 March 2013

The (too) Salty Dish


Mungkin ketika kalian membaca judul posting ini, kalian berpikir aku akan menjadi seorang kritikus makanan. Well, bagi yang beranggapan seperti itu, kalian salah. Aku nggak mau jadi seorang kritikus, sebuah pekerjaan yang terlalu berat untuk manusia yang tak sempurna seperti aku ini (haha). Tapi memang ada benernya juga sih, aku akan sedikit mengkritik makanan yang beberapa hari lalu aku makan. Hanya sedikit kok, tenang saja.
So, here’s the story. Sekitar 3 hari yang lalu, aku makan sushi (sushi’s one of my favourite foods, just FYI) di sebuah restoran masakan Jepang yang cukup terkenal di kota tempat aku tinggal sekarang. Saat itu, aku mengajak mamaku tercinta yang memang lagi ngidam pingin makan sushi. Aku sudah pernah makan di tempat ini beberapa kali sebelumnya sama temen-temen, tapi nggak pernah pergi sama mama. It was her first time. Awalnya sih, mamaku agak males. Selain restorannya yang cukup jauh dari rumah, nyari parkir di sana juga susah. Tapi, dengan kekuatan bulan (baca:pemaksaan), akhirnya mamaku mau juga makan di sana. Aku berani menjamin bahwa makanan di sana enak dan harganya murah. Berhubung aku adalah anak yang berbakti, jujur, dan rajin menabung, maka mamaku sangat percaya dengan omonganku.
Well, kelihatannya aku sudah mulai melantur lagi, jadi to the point aja deh. Sushi-nya asin banget. Ya, ciyus, asin pake BANGET. Mamaku langsung memasang tampang kecewa. “Kok sushi-nya asin gini sih? Katamu enak?” Dengan senyum yang sedikit dipaksakan, aku masih berusaha meyakinkan mama. “Waktu aku ke sini sama temen-temen enak, kok, ma. Nggak tau kok sekarang jadi kayak gini.” Namanya orang apes ya gini ini. Waktu aku lagi makan sendiri, rasanya enak banget, kayak dimasak sama chef Gordon Ramsay. Tapi, begitu aku ngajak mama, eh, rasanya kayak sushi buatan peserta Masterchef yang nggak lolos 100 besar.
Tapi yang jadi pokok pembicaraan bukan Masterchef, juga bukan chef Gordon Ramsay. Ada satu perkataan mamaku yang tiba-tiba membuat aku bertanya-tanya. Katanya, “Kalo makanannya keasinan, artinya yang masak minta kawin!” Aku memang sudah sering mendengar pepatah ini, tapi entah kenapa hari itu aku bener-bener tersentuh. Aku heran, kenapa masakan yang keasinan identik dengan orang mau kawin? Gimana kalo yang masak udah kawin? Masa minta kawin lagi? Kalau dipikir pakai nalar dan logika (walaupun logika anak SMA ingusan) itu agak nggak masuk akal banget. Mungkin di suatu daerah nun jauh di sana ada tradisi di mana orang yang nikah bakal ditaburin garam, bukannya bunga. Makanya kalo suatu masakan keasinan, tandanya dia pingin kawin, pingin ditabur-taburin garam. Masalahnya, ini Indonesia. Aku nggak pernah tau ada adat seperti itu. (kalo ada orang Indo yang melakukan hal ini, tolong beri tahu!)
Sampai detik aku menulis posting ini pun, I still have no idea, kenapa ada pepatah macam itu? Aku nggak menemukan adanya penelitian yang menunjukkan bahwa menurunnya kemampuan seseorang untuk merasakan rasa asin dalam masakan merupakan efek dari meningkatnya hormon minta kawin. Atau mungkin di masa depan salah satu dari kalian bakal mengungkapnya? Itu akan sangat membantu sekali bagi seluruh umat manusia (baca:saya). I guess, kalian yang membaca posting ini pun jadinya ikut-ikutan bertanya-tanya. Iya, ya, kenapa ada pepatah seperti itu? Kenapa penulis posting ini kurang kerjaan membahas pepatah itu? Apakah penulis mengarang pepatah itu? Apakah penulis kurang waras? Jawabannya, TIDAK teman-teman. Pepatah itu sungguhan ada, serius. Dan aku bener-bener murni heran dan kurang kerjaan.
Looks like an open ending here. Aku masih nggak bias menjabarkan pepatah itu menjadi hal yang logis dan bisa diterima. Jadi, aku menyerahkan semua teka-teki yang sudah sedikit terkupas ini ke dalam tangan kalian. I trust you, my loyal readers! You will help me, won’t you?

Friday, 22 March 2013

Jealous

Mungkin posting yang kali ini agak terdengar absurd ya. Setelah lama tidak posting, aku malah menyapa para pembaca setia (baca : pengangguran canggih) dengan posting yang gak jelas. Itulah aku (eh). But, that's okay. Bukan bermaksud gak jelas, walaupun memang gak jelas, berhubung blog ini berisi segala hal yang berasal dari otakku, maka tulisan-tulisan yang ada di blog ini juga sesuai dengan isi otakku. Jika posting kali ini nggak jelas, berarti otakku lagi nggak jelas. Oke, cukup ngelanturnya.
Sebenernya sekarang ini, ato lebih tepatnya akhir-akhir ini aku lagi iri. Iri sama banyak orang. Iri sama orang-orang yang punya pacar (nasib jomblo). Paling iri sama orang yang jatuh cinta, ato nggak usah jauh-jauh, iri sama orang yang naksir orang lain. Iri pake banget. Bukan berarti aku nggak normal. I'm truly really normal. Tapi di masa-masa SMA yang katanya masa di mana cinta bersemi itu, aku malah tidak merasakan cinta. Aku sendiri juga nggak tau sih pernah ngerasakan cinta ato nggak, tapi rasanya aku pernah naksir seseorang, walaupun agak kusesali.
Aku heran, bagaimana bisa seorang cewek ato cowok naksir lawan jenisnya hanya dengan liat muka? Fine-fine aja kalo sebatas ngomong "cowok itu ganteng banget", tapi kalo sampe gak bisa hidup tanpa ngeliat senyumnya cowok itu, menurutku agak alay ya. Maksudnya, si cowok bahkan gak PDKT! Kenapa bisa segitu naksir? Kenapa segitu berharap? Percuma kan, naksir seseorang yang gak menunjukkan tanda-tanda yang jelas kalo orang itu naksir balik. Rugi. Mungkin aku yang aneh. Tapi mungkin juga aku salah satu dari sedikit orang normal di dunia yang penuh orang dimabuk asmara.
Walaupun aku terus menghibur diri dengan mengatakan bahwa aku orang normal yang hidup di dunia abnormal, tetep aja aku iri sama orang-orang abnormal itu. Mereka bisa kelihatan bahagia. Dan normal. Sementara aku? Kesannya aku aneh aja. Hampir semua temenku naksir seseorang. Ada yang ditaksir balik, ada juga yang bertepuk sebelah tangan, tapi masih memperjuangkan. Hebat sekali. Atau malah bodoh sekali?
Aku mungkin aneh. Tapi aku gak bisa menyukai seseorang hanya dari tampang. Nge-fans iya, tapi gak suka, gak sayang. Dan entah kenapa, dari sekian banyak cowok di sekolahku yang katanya temenku ada yang ganteng, tetep aja gak ada satu pun yang menarik hati. Mungkin ada satu orang cowok yang lumayan menarik, tapi aku menyimpulkan kalo aku gak mau naksir dia (nah). Mungkin aku memang aneh. Ada seseorang untuk ditaksir, tapi gak mau. Apa boleh buat. Banyak rintangan menghadang dan aku nggak merasa dia seberharga itu untuk diperjuangkan >:D
Emangnya apa sih ciri-ciri naksir seseorang? Kalo menurut aku, ketika kamu naksir seseorang, kamu pasti pingin diperhatiin sama dia, pingin ngomong-ngomong sama dia, pokoknya pingin deket-deket dia deh. Yang aku rasakan sekarang agak membingungkan sebenernya. Aku pingin diperhatiin dia, tapi aku males ndeketin. Waktu pertama kali ngomong, aku lumayan seneng, tapi sama sekali gak nervous ato deg-deg an. Waktu pertama kali dia nyapa aku, aku seneng banget, tapi selalu aja ada hal yang membuat aku berpikir dua kali untuk naksir sama dia. Nasib ya :')
Mungkin memang aku nggak ditakdirkan untuk jadi seperti orang-orang kebanyakan. Mungkin Tuhan nggak ngebolehin aku naksir orang biar aku bisa konsen belajar. Mungkin aku emang gak boleh naksir orang biar gak sakit hati. Mungkin ini memang yang terbaik buat aku. Mungkin aku memang harus jadi orang normal di antara orang abnormal di dunia ini. Mungkin iya, mungkin tidak.

Sunday, 10 February 2013

Flashback

Di posting ini aku akan flashback tentang kegiatan serta canda tawa yang dulu aku lalui saat di SMP (ea). Walaupun emang masih suasana Imlek sih (and ofc LIBUR!!), tapi entah kenapa aku jadi keinget kebiasaanku pas SMP. Bukan bermaksud untuk ber-galau ria. Juga bukan bermaksud untuk sok melankolis kayak di film pake flashback2 segala. Dan pastinya bukan berarti aku lagi amnesia ringan, terus tiba-tiba karena ketatap lemari muncul flashback. Entah kenapa, pingin flashback aja.
Kehidupan dan kebiasaanku di SMA ini hampir sangat berbeda dengan kebiasaan di SMP. Emang masih sama-sama sekolah, masih tetap belajar, tetap bangun pagi, tetap ada ulangan, tetap ada PR, tapi pasti ada yang berbeda. Mulai dari letak sekolah. Sekarang jam 6 pagi aku udah berangkat ke sekolah, naik antar jemput. Padahal dulu jam 6 aku baru bangun, berangkat naik mobil pribadi. Rasanya aneh aja, sekarang jarak antara sekolah sama rumah jauh banget. Jadwal pulang harus bener-bener tertata, ato kalau nggak, gak ada yang jemput. Habis jauh sih. Nunggu jemputan juga jadi lama banget. Berhubung jarak jauh, sama macet juga menyebar di mana-mana. Hal ini yang langsung membuat mood jadi jelek banget. Udah capek habis ekstra, tas beratnya kayak mau pergi perang, masih harus nunggu 30 menit lebih. Dulu di SMP? Gak perlu khawatir sama yang namanya jadwal pulang. Tinggal ngomong, "Ma, nanti jemputnya kalo aku udah telpon." Jam berapa pun aku pulang, 10 menit setelah aku telepon pasti udah dijemput. Kalo sekarang kayak gitu? Bisa-bisa aku dibantai sama mama -___-
Kedua, jadwalku juga udah berubah. Sekarang ini aku lagi dalam masa-masa kangen sama yang namanya BAND. Yup. Aku kangen banget nge-band!! Di SMA ini aku emang nggak ikut band. Kenapa? Males. Ekskul band-nya terlantar, temennya juga gak ada yang connect. Udah terlanjur pas sama band yang lama, semacam gagal move on gitu. Aku jadi inget, kalo dulu di SMP, sering banget pulang sore gara-gara latian band. Biasanya liburan gini juga di sekolah buat latian band. Capek memang, tapi seneng. Sekarang? Boro-boro nge-band, nyentuh keyboard aja jarang. Susah banget nemu waktu yang cocok buat latian, berhubung anggota band-ku dulu udah menyebar di mana-mana. Aku kangen banget sama latian band, kangen sama suasana-suasana tegang nan khawatir pas nyiapin lagu buat lomba, kangen sama tepuk tangan dari penonton yang ngeliat kami, kangen sama momen-momen pas kita dapet juara, dan yang paling penting kangen sama semua personil-personilnya yang gak bener tapi nyenengin.
Waktu di SMP dulu, pulang sore itu rasanya biasa banget, malah aku bangga bisa pulang sore. Berasa sibuk gitu. Tapi sekarang? Rasanya pingin pulang pagi terus. Pingin cepet-cepet nyampe rumah. Emang hampir setiap hari pulang sore, tapi aku sama sekali gak ngerasa bangga, secara banyak juga yang pulang sore. Kalo sekarang, pulang sore pasti gara-gara ekstra atau pengayaan. Kalo nggak gitu ya rapat. Kegiatan yang menyenangkan di SMA adalah, OSIS-nya berfungsi. Aku inget banget kalo dulu di SMP, OSIS itu baru kerja pas MOS, itu pun cuma buat dimintai tanda tangan. Selebihnya, OSIS cuma semaca pembantu yang menata kursi buat pertemuan orang tua, jadi penerima tamu, dkk. Rapat jarang banget. Kalo ada rapat pun, yang rapat paling cuma anggota inti, sisanya mbambong. Di SMA aku bener-bener ngerasain apa yang disebut dengan OSIS. Fungsinya kelihatan, bukan sekedar pelengkap struktur sekolah. Itu cukup menyenangkan. Aku jadi merasa dibutuhkan (cie)
Yang terakhir, tapi yang terpenting, yaitu, di SMA ini gak ada geng-ku! Jangan salah sangka dulu, aku nggak ikut geng yang gak bener kok, cuma mbentuk geng kelas teri lah, yang isinya remaja-remaja labil. Di SMA ini geng-ku udah bener-bener mencar. Ada sih yang satu sekolah, tapi kan tetep aja terasa aneh. Yang biasanya berempat ke mana-mana, sekarang sendirian. Aneh banget. Aku sih udah mulai bisa adaptasi di kelas. Tapi aku tetep berpikir, kelas ini akan jadi semakin sempurna kalo ada mereka. Sering di tengah-tengah pelajaran, tiba-tiba aku nemu sesuatu yang menurutku lucu, tapi sekelas gak ada yang tertawa, otomatis aku diem juga. Padahal dalam hati aku mikir, coba kalo ada mereka, pasti udah ketawa sampe nangis-nangis nih. Temen-temen di SMA ini juga beda banget sama temen di SMP. Rasanya lebih individualistis, egois. Yang beda lagi, dulu di SMP, walaupun pulang sore, tapi tetep aja aku bisa nemuin temen yang bisa diajak ngobrol waktu nunggu jemputan. Sekarang? Ngomong aja sama tembok. Nobody cares. Kadang jadi sejenis miris gitu, nunggu sendiri, termenung di pinggir jalan yang beratapkan seng. Dengan deru mobil menemani, dan tawa tukang becak sebagai backsound. Miris sekali.
But, everything changes. Our life changes. It depends on how we face it, how we deal with it. Are you gonna suffer from it? Or are you managed to defeat it? It's all your choice. Wish you luck with the changes around you :)

Happy Late Chinese New Year!

Today is February 11th in my place, so I guess we've passed the Chinese New Year which is on February 10th, right? But, it's okay. Since I was so busy yesterday (busy eating) that I didn't have time to surf the internet, I decided to say a late "Happy Chinese New Year". Yeah.


HAPPY CHINESE NEW YEAR MY LOYAL READER!
STAY HEALTHY!
恭喜新年! 身体健康!

Well, it's better to say it late than not saying at all. I'm sorry if I disappoint you, I'm not perfect you know. See you on the next post! Wish this water snake year brings you lots of blessings ;;) Love you all!

Wednesday, 30 January 2013

(lagi-lagi) Tipe Cowok

Posting kali ini aku tulis bedasarkan pengalamanku yang baru saja terjadi, tepatnya sore ini pk. 16.00 WIB. Saat itu aku lagi di perpustakaan sekolah, niat awalnya sih mau kerja kelompok, tapi nggak jadi karena berbagai alasan yang nggak peting dan penting (nah). Akhirnya aku di perpustakaan sama beberapa temenku yang secara tidak langsung terpaksa untuk nemenin aku karena mereka sendiri juga belum dijemput. Ada yang memang nunggu jemputan, ada yang nunggu kakaknya, ada yang gak bisa pulang karena gak bawa payung (FYI, sampai posting ini ditulis hujan masih turun dengan cukup deras). Kasihan sekali. Memang. Jadilah kita berempat ngobrol-ngobrol, nggosip di perpus, sama sekalian numpang wifi buat download video (hahaha). Saat jam 4 tiba, dua temenku udah pulang duluan, tapi nambah satu lagi yang baru selesai ekstra, berarti sekarang ada berapa orang? Yak, benar sekali, 3 orang! (plokplokplok)
Cerita dimulai, saat aku dan temenku, sebut saja AP, nonton video-nya orang ganteng. Seperti yang kalian tahu, sekarang lagi demam K-Pop, aku juga ketularan, temen-temenku juga banyak yang kena. So, harusnya kalian sudah bisa menyimpulkan. Kita sedang nonton MV (music video) sebuah  boyband Korea. Tiba-tiba temenku yang baru dateng ini, anggap aja dia FM, nyeletuk "Eh, si EH itu ganteng banget ya! Unyu! Keren juga." Spontan aku sama AP langsung noleh kaget, secara EH itu termasuk salah satu personil yang nggak terlalu ganteng di boyband itu menurut banyak orang. "Serius? Gantengan si DH lah!" kami berdua menjawab kompak. Tapi, dia tetep ngotot kalo si EH itu paling unyu, paling keren, paling ganteng. Seperti yang bisa ditebak (atau mungkin tidak) kita beradu argumen soal siapa yang paling ganteng. Habisnya si FM bilang kalo DH itu paling jelek, tentu aku sama si AP gak terima dong. Aku sama AP mati-matian membuka mata batinnya supaya dia bisa sadar kalo DH itu emang ganteng. Bukannya aku rasis ato apapun, tapi emang kenyataannya gitu, banyak yang ngomong gitu. Akhirnya, si FM, entah karena capek dipaksa ato emang mata batinnya udah kebuka, dia bilang, "Ya emang si DH ganteng sih. Tapi kalo dilihat dari samping, ato 3/4-nya. Tapi tetep gantengan EH lah." Semacam memuji gak ikhlas gitu. Tak apalah, aku sudah cukup puas.
Karena kejadian di atas, tiba-tiba dalam pikiranku muncul suatu kesimpulan, ternyata si FM ini selera cowoknya unik banget. Kesimpulan kedua, memang ganteng itu relatif. Kalian tentu sering denger perkataan itu, "Cantik sama ganteng itu relatif." Tapi ada juga yang bilang "Cantik sama ganteng itu relatif. Tapi kalo jelek itu mutlak." Memang jleb sih, tapi jujur aja, aku cukup setuju sama kedua statement itu sampai kejadian hari ini muncul. Aku sama sekali gak nyangka kalo ternyata si FM itu suka banget sama EH yang menurut banyak orang tidak terlalu ganteng. Memang keren sih, tapi tetep aja gak ganteng. Herannya dia bisa bela-belain si EH sampai segitunya. Sementara DH yang begitu ganteng, dianggapnya buruk rupa.
Manusia memang aneh tapi nyata. Atau yang lebih tepat, Tuhan memang adil. Coba kalau selera orang semuanya sama, pasti orang-orang jelek gak bakal laku dong, mereka bakal jomblo seumur hidup dong. Kan kasian. Yang butuh kasih sayang kan bukan cuma orang-orang cantik dan ganteng kayak model atau artis. Sekarang aku juga tahu kenapa kok ada orang yang mau pacaran sama orang yang menurutku jelek, itu karena selera berbeda, karena Tuhan itu maha adil. Sampai terkadang aku juga bingung, biasanya cowok yang ganteng banget ato cewek yang ganteng banget, pasangannya adalah cowok ato cewek yang biasa-biasa aja ato bahkan tidak terlalu cantik/ganteng. Yah, itu semua karena selera, lagi-lagi karena Tuhan yang maha baik. Untung aja (ato mungkin emang berkatku), selera cowokku masih normal. Paling nggak, cowok yang aku bilang ganteng itu menurut kebanyakan orang juga ganteng. Semoga di masa depan aku juga bisa dapet cowok yang sesuai selera :p Buat kalian juga, semoga bisa berbahagia bersama cowok pilihan kalian ;) Jangan karena posting ini terus tiba-tiba kalian mengganti selera lho. Itu semua anugerah Tuhan, harus disyukuri. Good luck with your type of boys/girls! :D

Saturday, 26 January 2013

Kisah tentang Hujan (I)


Ini adalah sebuah kisah di mana hujan bisa mengubah hidup seorang gadis remaja. Sebuah kisah tentang hujan yang ternyata membawa banyak kenangan indah. Sebuah kisah tentang gadis yang selalu menunggu hujan. Sebuah kisah di mana hujan merupakan pertanda sebuah kisah cinta.

Mentari yang sedari pagi bersinar cerah tiba-tiba menghilang, tergantikan oleh gumpalan awan kelabu yang dalam sekejap menguasai langit. Sesekali terdengar gemuruh petir menyambut kedatangan sang tamu agung. Tak lama kemudian dia pun datang. Berawal dari uap air dalam awan yang terkondensasi membentuk tetesan air yang langsung meluncur ke permukaan bumi. Setetes demi setetes, disusul jutaan tetes lainnya langsung membasahi bumi. Tanpa memberi banyak waktu bagi para makhluk di bumi untuk berpikir, hujan langsung mengusir mereka kembali ke tempat persembunyiannya.
Hujan tampaknya juga memaksa seorang gadis untuk berteduh. Ia baru saja melangkahkan kakinya keluar dari perpustakaan ketika tiba-tiba hujan turun dengan deras. Dengan sedikit jengkel, ia pun berteduh di teras perpustakaan itu, memilih untuk mengamati hujan yang turun daripada kembali ke dalam perpustakaan. Ketika ia sedang asyik mengamati guyuran hujan, seseorang menyodorkan payung kepadanya. Ia pun menoleh. Seorang pemuda kira-kira seumurannya berdiri di sampingnya untuk menawarkan payung. Pemuda itu tinggi, berkulit putih bersih dan berbadan tegap. “Payung?” tanyanya sembari tersenyum, memamerkan lesung pipit yang membuat senyumnya manis. Merasa diamati, pemuda itu segera menambahkan, “Tenang saja, aku bukan penculik atau perampok, kok. Aku cuma pingin nolong kamu.” Mendengar perkataannya, tentu saja gadis itu menjadi malu, tampak dari semburat pink yang muncul pada kedua pipinya. “Eh, maaf, bukannya aku ngira kamu jahat. Memangnya kamu nggak butuh payung?” jawab gadis itu segera. “Nggak, aku kan laki-laki. Nggak masalah kalau kena hujan.” ucap pemuda itu. “Nggak bisa begitu lah, ini kan payung kamu, masa aku yang pakai? Kamu sampai bela-belain kehujanan lagi. Nggak usah deh, makasih. Aku nunggu sampai hujannya reda aja,” tolak gadis itu. Pemuda itu tidak mengucapkan apa-apa lagi. Dia hanya diam, ikut menunggu bersama gadis itu. Menghadapi hal semacam ini, gadis itu menjadi salah tingkah. “Kenapa kamu nunggu aku?” tanya gadis itu penasaran. Pemuda itu tersenyum, kembali memamerkan lesung pipitnya. “Jarang-jarang aku ketemu cewek kayak kamu. Makanya aku nggak mau pergi sebelum bisa membuatmu terkesan.” Sebenarnya, tanpa dia sadari, gadis itu sudah terkesan padanya sejak saat ia menawarkan payung. Karena bingung harus menjawab bagaimana, gadis itu hanya terdiam dan menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sedang tersenyum bahagia. Dia tidak ingin pemuda itu tahu betapa ia sangat senang bisa diperhatikan olehnya. Tanpa terasa 30 menit berlalu, hujan pun mereda. Selama itu pula mereka hanya berdiri bersebelahan tanpa suara. Tak satu pun dari mereka memulai pembicaraan. “Hujannya sudah reda. Aku pulang dulu ya?” ucap gadis itu memecah keheningan. Lagi-lagi pemuda itu tersenyum dan mengangguk, menyetujui kepulangan gadis itu. Walaupun merasa sedikit kecewa, akhirnya gadis itu melangkahkan kakinya ke jalan. Tiba-tiba pemuda itu berteriak, “Aku harap kita bisa bertemu lagi!” Namun gadis itu tidak menoleh. Padahal sesungguhnya gadis itu sangat bahagia. Dia hanya berusaha menyembunyikan senyumnya. Jangan memberi harapan kepada orang asing! Lagipula, apakah mungkin kita bertemu lagi? ucapnya dalam hati. Mereka pun berpisah tanpa sempat mengenal satu sama lain. Bahkan sekedar nama pun tidak tahu. Hujan telah mempertemukan mereka. Akankah hujan mempertemukan mereka untuk kedua kalinya?

Wednesday, 23 January 2013

Type of Guys You Shouldn't Date

Berhubung sekarang sudah tahun baru, maka hal-hal yang dibahas dalam blog ini juga ada yang baru. Salah satunya adalah informasi tentang masalah seperti ini. Bukannya aku lagi galau masalah cowok, cuma pingin aja share tipe-tipe cowok yang seharusnya kalian hindari (khusus bagi yang merasa cewek). Kenapa tiba-tiba aku baik banget sampe nulis posting ini? Alesannya, aku pingin aja para cewek-cewek di dunia ini, terutama yang masih SMA seperti aku tahu cowok yang mengerikan itu seperti apa. Aku sering denger cewek yang di-PHP-in sama cowok, diduain, ato disakitin. Kasian aja kan kalau hal itu terulang terus. Makanya, ini adalah salah satu prevention supaya kalian nggak terjebak lagi sama cowok yang salah!

WARNING! POSTING INI KHUSUS UNTUK PARA CEWEK! BAGI COWOK YANG MEMBACA, MOHON JANGAN TERSINGGUNG!

Berikut ini adalah tipe cowok yang seringkali membuat para cewek patah hati :

  • KASAR. Suka menggunakan kontak fisik untuk mengatasi masalah. Mungkin itu terlihat jantan. Dia tampak jagoan dan tidak terkalahkan. Tetapi, pernahkah berpikir bahwa saat menghadapi masalah dalam hubungan nanti dia mungkin melakukan kekerasan fisik terhadap kita. Membayangkannya saja sudah seram. Apalagi kalau dia bertindak kasar terhadap ibunya atau saudara perempuannya. Jauhi SECEPATNYA!
  • MISTERIUS. Pria misterius memang sering membuat ketertarikan kita semakin besar kepadanya. Tapi, tipe seperti itu "berbahaya". Sebab, mereka selalu menyembunyikan kepribadian asli. Sebagian besar kalian baru mengetahui fakta tersembunyi tentang dia setidaknya enam bulan setelah hubungan berjalan. Sebelum memulai hubungan, cari informasi dari teman dekatnya.
  • RAGU-RAGU. Perempuan butuh pria sebagai partner yang bisa saling mengisi. Dalam banyak hal kita ingin pria mengambil keputusan, tentunya dengan persetujuan kita. Nah, kalau dia justru selalu ragu-ragu ketika bertindak dan menyerahkan semua keputusan pada kita, memangnya kita sedang jalan dengan adik laki-laki yang masih remaja dan LABIL?
  • MENDOMINASI. Berkebalikan dengan tipe sebelumnya, dia ingin menguasai kamu. Menghubungi kalian tiap hari, terus tanya di mana, sedang apa, sama siapa. Tidak suka dibantah. Kamu dipaksa untuk berpakaian dengan cara yang dia suka. Terkadang perempuan rela mengalah. Tapi, apakah kamu mau terus jadi 'boneka'-nya? Apalagi kalau dia menjauhkan kamu dari teman-teman atau -lebih buruk lagi- KELUARGAMU SENDIRI!
  • INSECURE. Cowok ini berulang-ulang menyatakan betapa berartinya kamu dalam hidupnya. Memang so sweet sih, tapi kalau tindakan itu diikuti dengan gejala over protektif? Dia tidak membiarkan kamu kembali ke kehidupan normal karena takut kehilangan kamu tiap kali kamu ketemu temen baru. NO WAY!
  • KING OF DRAMA. Dia suka membesar-besarkan segalanya. Dia juga cenderung menyalahkan kamu ketika ada sesuatu yang tidak beres. Tiap ada masalah, bukannya cari solusi, tapi malah sibuk membesar-besarkan penyebab terjadinya masalah itu. Please deh, cowok kok lebay.
  • CLUELESS. Terlalu menikmati hidup dan tidak punya tujuan yang jelas untuk masa depan. Menjalin hubungan dengan cowok tipe ini membuat masa depan kita tidak pasti. Bahkan, meski dia lahir dari orang tua yang kaya, tidak menjadi jaminan. Kecuali, kamu mau membimbingnya dan yakin bahwa karakternya bisa berubah. Kalau kamu emang bakat jadi guru ya nggak masalah sih. Kalau nggak? Bye bye aja deh.
Itu tadi tipe-tipe cowok yang sebaiknya kalian hindari. Tapi, kalau kalian udah terlanjur cinta mati dan dia juga kelihatannya cinta banget sama kamu, dan yang paling penting kamu ngerasa kalau dia itu worth it, then fight for him! Emang bakal susah, tapi kalau dengan kekuatan cinta, apa yang mustahil? (cie). Bagi para cowok, perhatikan baik-baik, berusahalah menjadi cowok yang tidak masuk dalam 'BLACK LIST'. Good luck for your love life! ;)

sumber : www.jawapos.com