Tuesday, 15 October 2013

Be Grateful

Jujur, pada awalnya aku nulis posting ini karena gak ada kerjaan (lebih tepatnya banyak kerjaan tapi males). Posting ini murni untuk curcol semata, tapi entah kenapa otakku yang brilian ini memunculkan judul "Be Grateful". Bukan asal judul, memang inilah inti dari posting yang awalnya adalah curhatan seorang remaja SMA galau.

Ceritanya, akhir-akhir ini aku sering capek. Secara mental dan fisik. Semua ini karena satu hal. Lomba PBB. Yak. Lomba paling (gak) penting sedunia. Lomba PBB ato bahasa kerennya defile ini diadain di sekolahku buat memperingati hari raya apa gitu, pokoknya tiap taun selalu ada. Berhubung aku adalah murid baru di lingkungan sekolah ini, aku kaget. Tidak percaya. Tidak siap. Males. Karena yang namanya baris berbaris gak mungkin cuma 5 orang, berarti 1 kelas ikut. Benar sekali. Awalnya, kelasku keliatan nggak niat banget. Latian waktu jam olahraga, banyak yang gak niat. Disuruh jalan di tempat, kakinya gak 90 derajat, disuruh maju jalan, malah jalan santai. Ribet deh. Bikin emosi. Tapi entah kenapa, H-7 defile, si pemimpin menjadi bersemangat! Dia kemudian ngusulin buat 'mengeliminasi' anak yang memperlampat kemajuan alias anak yang gak niat. Jadinya, sekelas yang isinya 42, yang ikut defile cuma 32 aja. Sempet galau juga dengan keputusan ini. Ada yang bilang boleh sekelas ikut beberapa, ada yang bilang harus ikut semua, ada yang bilang harus ada surat keterangan sakit, dll, dsb. Ditambah lagi wali kelasku tercinta lagi sakit sehingga gak bisa mendampingi kita latian. Sampe kemarin, berhubung pas latian sekelas jadinya ancur, ada satu anak telpon wali kelas. Lucky! Wali kelasku ngijinin yang ikut cuma 32 (love you mam :*). Bau kemenangan pun tercium kembali (haha).

Lalu apa hubungannya dengan "Be Grateful"? Sekilas cerita tadi memang gak ada hubungannya sama sekali dengan judul posting. Tapi kalian semua SALAH! Tidakkah kalian memikirkan perasaan 10 anak yang tidak terpilih ikut defile itu? Memang ada yang dengan senang hati gak mau ikut, tapi ada juga yang niat ikut, tapi sayangnya gak kepilih. Mau gimana lagi. High school is rude. Kalo kamu gak akrab sama anak populer, jangan harap dipilih. Bukannya aku memihak, tapi emang itulah kenyataan. Untuk bisa survive di SMA, harus bisa dikenal sama anak populer. Paling nggak dikenal sama anak populer di kelas. Kalo kamu nggak rame, nggak alay, susah untuk dikenal. Kecuali kamu sangat cantik. Hidup memang kejam. Itu juga yang dialami oleh beberapa temenku. Sebelumnya, aku sama sekali nggak menyadari hal ini. Aku biasa-biasa aja karena kepilih ikut, tapi sisanya? Ternyata beberapa dari mereka juga sakit hati. Tiba-tiba aku jadi merasa sangat bersyukur karena terpilih. Aku nggak bisa membayangkan rasanya tidak dipilih seperti itu. Bukan berarti aku tidak pernah mengalami. Aku pernah. Dan itu cukup membuatku sakit hati sampe2 aku nangis di depan mama. Air mata pertama saat SMA (cie). Tidak dibutuhkan memang perasaan yang berusaha kita hindari. Semua orang ingin merasa dibutuhkan. Lalu aku sampai pada kesimpulan, 'be grateful' memang sesuatu yang harus kita lakukan. Terkadang kita merasa bahwa kita adalah orang paling sengsara, paling menyedihkan di dunia, tapi kenyataannya, ada yang sama atau bahkan lebih menderita dari kita. Tidak usah jauh-jauh sampai memikirkan rakyat Afrika, cukup lihat sekelilingmu. Bahkan sangat mungkin bahwa orang yang dekat denganmu memiliki perasaan kesepian dan tidak diinginkan. Jadi, buat semua murid-murid SMA di luar sana, berbahagialah kalau kamu termasuk dalam kategori 'orang yang dipilih'. Bagi yang tidak, berjuanglah! Jangan menunggu orang lain mendekatimu, perubahan harus dimulai dari dirimu. TETAP BERSEMANGAT!

NB : posting ini ditulis pada bulan Februari kemarin. Tapi karena banyak hal, baru bisa di-publish sekarang. Maaf ya :(

Today's Quote

"Nothing in life is promised except DEATH" - Kanye West


Monday, 14 October 2013

In A Mess

Pernah nggak kalian ngerasa bahwa hidup kalian lagi kacau banget? Nilai di sekolah jelek, tengkar sama pacar ato temen, dimarahi orang tua, dll yang bikin kalian pingin marah sambil nangis (nah). Situasi di mana kamu serasa tidak bisa mengendalikan hidupmu. Kalo kalian pernah ngerasain itu, kita senasib bung :') Kalian pasti tahu kekacauan dalam hidup kalian yang damai akan mengakibatkan perasaan sedih, pingin marah, pingin nangis, pokoknya emosional dan melankolis banget deh. Itu semua adalah hal yang sangat dihindari oleh semua orang, tapi sayangnya sulit dihindari.

Aku juga nggak ngerti gimana awalnya aku bisa ngerasa kacau banget, but this is life. Izinkan aku curhat ya :3 Akhir-akhir ini, entah sudah berapa lama, tapi aku ngerasa bahwa hidupku agak nggak terkendali. Nilai-nilaiku terombang-ambing, kehidupan sosialku buram, keadaan batinku juga rapuh. Bukannya aku nggak berusaha, tapi ada aja yang menghalangi aku untuk memperbaiki itu semua. Nilaiku yang turun misalnya, aku udah belajar sekuat tenaga, tetep aja hasilnya nggak bisa terlalu memuaskan. FYI, aku nggak suka dikalahin. No problem sih kalo orang yang ngalahin aku emang layak menurut seleksi yang aku bikin, tapi kalo yang bisa ngalahin aku adalah orang yang nggak masuk hitungan, pasti aku bakal sakit hati banget. Dalam hal ini adalah anak di kelasku. Waktu menerima laporan bulanan (rapor sisipan) kemarin, meskipun nilaiku gak bagus-bagus amat, tapi aku bisa ranking 1 di kelasku dan bagiku, itu harus dipertahankan. Anak yang bikin aku kesel dan sirik ini, dapet ranking 2 waktu itu padahal nilainya juga bagus. Tapi, bulan ini entah hanya perasaanku ato emang beneran, nilai-nilai dia menurutku jauh lebih bagus daripada aku. Tentu aku gak terima. Aku juga nggak yakin dengan alasannya, tapi dia emang gak masuk hitungan sebagai saingan beratku. Mungkin mulai saat ini aku harus memasukkannya dalam daftar itu. Begitulah, sebelumnya aku nggak pernah merasa se-terancam ini sama nilaiku di sekolah, makanya aku agak kalap. Khawatir dan takut dikalahkan.

Kehidupan sosialku juga sama, abu-abu. Emang dari dulu aku bukan termasuk anak populer ato anak ramah dan cerewet yang dicintai banyak orang. But, at least, I have those best friends whom I can talk to everyday. Dulu, bisa dibilang setiap hari aku sms-an sama sahabatku. Entah curhat ato cuma sekedar membahas masalah-masalah abstrak. Sekarang? Boro-boro sms, megang handphone aja jarang. Bukan berarti aku gak punya waktu, tapi aku males. Somehow, aku males banget sms-an, twitter-an, whatsapp-an, teleponan, line-an, dan apapun-an. Intinya, aku males bersosialisasi. Bukan berarti aku pingin jadi anak kuper, aku cuma males banget sok perhatian dan sok pingin curhat padahal kenyataannya aku nggak pingin cerita. Dari luar kelihatannya aku menjauh dari temen-temenku, tapi aku cuma capek dan malas. Aku punya banyak masalah, tapi aku nggak mau cerita atau mungkin nggak tahu harus cerita ato nggak. Sekilas emang aku sepertinya complicated banget. This is me. Aku cenderung menyimpan masalahku sendiri karena aku berpikir nggak ada orang lain yang bisa menyelesaikan masalahku. Aku berprinsip mandiri. Aku harus bisa menyelesaikan semuanya sendiri walaupun kenyataannya aku nggak kuat. Tapi aku terlalu keras kepala untuk mau berubah. Aku tetap menyimpan semuanya sendiri, bergumul sendiri, tanpa menyadari bahwa aku punya orang-orang yang siap untuk membantuku. Buat semua temenku, maaf kalo aku jadi nyebelin. Maaf kalo aku jarang bahkan gak pernah sms. Maaf banget.

Keadaan batinku yang lagi rapuh ini disponsori oleh keenggananku menceritakan masalah-masalahku sama orang lain. Seperti yang udah aku omongin di atas, aku emang tertutup. Aku tetep nggak mau orang lain tahu masalahku meskipun rasanya tiap hari aku pingin nangis. Di SMA ini, menurutku banyak banget orang munafik. Aku nggak bisa melihat hubungan yang tulus. Mungkin aku yang impulsif, tapi aku ngerasa kalo mereka berteman karena suatu hal duniawi, entah materi atau popularitas. Intinya, kalau kamu nggak bisa menyamakan diri dengan mereka, kamu bakal dikucilkan. Sebenarnya aku males kalau harus pura-pura ramah dan baik di depan temen-temenku, tapi kalau nggak gitu mungkin masa-masa SMA-ku bakal jadi sangat suram. Memang sih, nggak semuanya seperti itu, tapi tetap orang-orang mayoritas lebih berkuasa, that's why I'm always in a pressure. Seringkali aku ingin menghilang dari dunia ini (bukan berarti aku pingin mati). Aku cuma ingin hidup di dunia di mana aku nggak harus pura-pura baik, pura-pura ramah sama orang supaya bisa dilihat. Aku ingin bisa dianggap normal walaupun nggak pernah mau ngajak ngomong orang lain. Kadang-kadang aku miris kalo inget sama temen-temen baik ku waktu SMP. Mereka berusaha menghubungi aku, tapi aku nggak pernah nanggepin. Aku nggak mau mereka tahu kalo keadaanku sekarang lagi kacau.

As conclusion, I can say that my life is COMPLETELY IN A MESS. Aku nggak tahu berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk keluar dari kondisi ini, but I hope it's not for a long time. Aku harus bangkit dan bersiap-siap untuk masa depanku. Wish me lots of luck! Semoga aku bisa jadi lebih kuat dan melewati semuanya ini secepat mungkin. AMEN.

Feeling of The Month

"Maybe I have been acting like I am strong a little too often, a little too much."

Friday, 9 August 2013

Everybody's Special

Semua orang itu punya kelebihan masing-masing, punya keunikan tersendiri yang bikin kita berbeda dari orang lain. Kalian pasti udah tau bahkan anak kembar identik pun sebenernya nggak bener-bener identik. Susunan DNA-nya aja beda atau gampangnya, sifatnya pasti beda. Mungkin yang satu kalem, sedangkan yang satunya brutal. Kalau anak kembar aja beda, apalagi yang gak kembar? Tapi, dunia ini aneh atau lebih tepatnya orang yang tinggal di dunia ini aneh. Mereka suka seenaknya sendiri mengembar-kembarkan seseorang. Nah. Maksudnya apa? Ini bukan kayak sinetron putri yang ditukar atau anakku bukan anakku, bukan. Ini hanya fakta yang cukup sering terjadi di sekitar kita tanpa kamu sadari.

Kalian pernah nggak, dibilang mirip sama seseorang? Dibilang kamu adiknya lah, kakaknya, sepupunya, mamanya, anaknya, dll, dsb. Pernah? Kalau nggak pernah bersyukurlah! Kalau pernah, kita senasib kawan :') Nggak ada orang di dunia ini yang mau dikembar-kembarin! Atau gampangnya, gak ada satu orang pun yang mau diduain. Pasti bener. Mulai dari yang sederhana, kalau kamu (terutama cewek) beli tas atau baju atau sepatu yang menurut kamu bagus banget terus waktu kamu pakai ke sekolah atau jalan-jalan tiba-tiba ada orang yang pake barang yang sama persis kayak kamu. Gimana perasaanmu? Mungkin kalau cuma waktu jalan-jalan sih oke ya, soalnya kemungkinan bisa ketemu lagi kan kecil, tapi kalau kejadiannya di sekolah ceritanya lain. Pasti dalam hati kalian berpikir "Sialan anak itu, kayak gak ada barang lain yang lebih bagus aja." Padahal belum tentu kamu beli duluan. Biasanya kalau anak-anak orang kaya, nemu "kembaran" kayak gini, mereka gak bakal mau pake barang itu lagi. "Males pake barang pasaran," katanya.

Itu tadi baru contoh pake barang. Gimana kalo sekarang mukamu yang dikembar-kembarin? Apa gak emosi? Misalnya gini, kamu lagi jalan bareng temen-temenmu ke kantin, tiba-tiba salah satu temenmu-yang-cuma-kenal-tapi-gak-deket ngomong dengan wajah excited, "Eh, kalo diliat-liat, kamu mirip ya sama si Z!" Dan kamu cuma bisa senyum-senyum canggung. Dalam hati, "MAKSUD LO??" Itu contoh kalo kamu dimirip-miripin sama temen sebaya. Kalo temenmu-yang-cuma-kenal-tapi-gak-deket ngomong (masih dengan wajah riang gembira), "Eh, ternyata kamu mirip banget ya sama guru Fisika! Jangan-jangan kamu anaknya ya? Wah, jangan-jangan kamu ketuker waktu di rumah sakit. Hahaha." Dan lagi-lagi kamu cuma bisa senyum terpaksa. Dalam hati, "WAT DE FAK?? LO KIRA INI SINETRON??"
Nggak ada orang yang suka dikembar-kembarin mukanya karena nggak ada orang yang suka dibilang mukanya muka pasaran. Yang pasti, nggak ada orang yang suka mukanya dikembar-kembarin sama guru, apalagi guru fisika! Pasti temen-temen-yang-gak-mikirin-perasaan-orang-lain itu bakal nyalahin murid-yang-mukanya-mirip-guru itu kalo misalnya si guru yang bersangkutan marah di kelas, ngasih soal ulangan yang menakjubkan, ato ngasih tugas gak kira-kira. Bayangin, anak yang orang tua kandungnya guru aja gak suka kalo diperlakukan kayak gitu, apalagi anak yang "dipaksa" punya orang tua guru!

Jadi, buat kalian para pelaku 'pengembaran' orang ini, BERTOBATLAH! Sebelum kalian melakukan hal ini, coba pikir perasaan korbanmu. Mungkin mereka emang cuma senyum-senyum, tapi apa mereka beneran senyum? Gimana kalo sebenernya mereka marah banget tapi gak berani marah ke kalian karena takut dianggap sensitif dan lebay? Aku bisa ngomong gini karena memang aku pernah mengalami. Tapi aku secara pribadi, sama sekali gak punya keinginan buat ngelakuin hal kayak gitu. Kasihan aja. Kalau dimirip-miripin sama artis yang beneran cantik atau ganteng sih mending. Tapi mana ada yang mau ngelakuin itu? Para pelaku kan pinginnya ngelawak, pingin bikin orang lain ketawa, bukan pingin bikin korban seneng. Emang dengan cara kayak gitu banyak yang ketawa, tapi korbannya? Mereka berpikir, "LO KIRA ITU LUCU??"
Pesan terakhir buat para pelaku, gak usah diterusin ato nanti aku doain kalian "dikembarin" sama pacar kalian! MUAHAHAHAHA!

Tuesday, 11 June 2013

Grow Up!

Seringkali aku sebel sama remaja-remaja zaman sekarang. Emang aku juga masih remaja, tapi aku remaja yang dewasa (bohong). Yang suka bikin aku sebel sama remaja-remaja masa kini adalah mereka sukanya berlebihan, overacting, lebay, alay, dan sebangsanya. Mereka kalau ngomong (atau lebih tepatnya nge-twit dan pasang status) itu sukanya gak mikir pake otak. Walaupun aku juga remaja yang masih beranjak dewasa, tapi aku merasa bahwa aku lebih realistis. Aku punya jiwa alay dalam diriku, tapi itu semua hanya untuk kesenangan, buat bercanda aja, nggak diterapkan di segala aspek kehidupan. Kalau remaja pada umumnya? ALAY MENDARAH DAGING. Coba liat deh status remaja-remaja di facebook, twitter, tumblr, BBM, line, kakaotalk, path, whatsapp, wechat, dan semua jejaring sosial, pasti kebanyakan status galau dan cinta-cintaan, misal:

"I will love you forever :* 12.12.13" (maksudnya tanggal jadian)
"You may leave me, but you'll never leave my heart" (biasanya habis putus)
"Rese, beraninya cuma di twitter. Ayo sini ketemuan kalo berani!" (biasanya dia pikir orang yang ngerasani dia itu pengecut, padahal dia sendiri juga... *eh)
"Baru liburan seminggu udah tambah gendut aja, gimana nihh :(" (padahal sebenernya dia udah kurus dan cuma naik 0.5 kilo)
...

Banyak banget contoh status galau dan gak penting yang mungkin akan terlalu panjang kalo ditulis semua di postingan ini. Yang mau aku bicarakan di sini adalah terutama yang terakhir. Aku paling sebel, kalo ada cewek yang posting foto di Instagram ato di manapun terus dipuji cantik, eh, mereka malah bilang "apanya cantik? aku keliatan gendut banget lo :(" Bodoh nggak? Udah dipuji orang, malah ngejek diri sendiri. Tanpa mereka sadari, sebenernya itu modus untuk dipuji lagi. Biasanya, orang yang masih punya belas kasihan bakal bilang, "Gak gendut ah, kamu cantik kok ;)". Sampai sekarang sih aku belum menemukan orang yang sangat jujur terus bilang kayak gini, "Hahaha, akhirnya nyadar juga kalo kamu itu gendut =D" ato "Nggak, kamu gak gendut kok. Cuma jelek aja, gak fotogenik." Yeah! Entah gimana perasaan orang yang foto itu. EGP.

Bukan itu aja yang bikin aku sebel. Aku sering banget liat, temenku yang menurutku dan emang kenyataannya kurus, cuma sedikit chubby ato bahkan nggak chubby sama sekali, bilang kalo dia itu gendut terus pingin diet. Dalam hati aku teriak, KAMU UDAH KURUS BEGO! Kalo aku yang ngomong sih terlihat lebih realistis, karena aku emang butuh untuk menurunkan berat badan. Tapi mereka? Udah punya lengan kecil, kaki langsing, muka tirus, MASIH PINGIN KURUS? Go to hell. Aku jadi ngerasa tersindir gitu. Masa mereka yang udah kurus masih pingin kurus, sementara aku yang gemuk dan pingin kurus aja gak kurus-kurus? Mungkin beberapa dari kalian pernah mengalami hal ini, kita senasib teman (tos).

Kedua, yang kadang bikin aku sebel juga adalah status kayak gini "ilysm,idwtlyf" Apa artinya? Aku sendiri juga gak tau. Mending kalo cuma "ily","imy","ty","hbd","Gbu" masih bisa ditebak lah. Tapi kalo kayak gini, "idhtoiwopqirjwofknlaiapofiufe" APA ARTINYAA? Menurutku, kalo kita pasang status ato nge-twit, tujuan kita adalah biar temen-temen kita tau apa perasaan kita, apa yang mau kita sampaikan. Tapi kalo status/twit-nya kayak gitu, sapa yang ngerti? Bahkan Albert Einstein pun gak akan ngerti! Jadi ngapain kamu bikin status/twit tapi gak ada yang ngerti? ST*P*D.

Itu adalah beberapa contoh sikap remaja yang gak logis dan kekanak-kanakan. Kalo kamu termasuk salah satu di antara itu, aku mau bilang, GROW UP! Being a teenager isn't the reason to be a complete retard. Kamu gak boleh melakukan kesalahan dan bilang "Maklum lah, aku kan masih remaja.." Hell to the NO. Kita emang masih remaja, tapi kita gak selamanya remaja. Belajar sedikit lebih dewasa. Kalo gak dimulai dari sekarang, selamanya kamu akan bertingkah laku konyol seperti remaja. Mulai gunakan otakmu sebelum melakukan apapun. Coba sekali-kali diam dan berpikir, apa hal ini pantas dilakukan? Apa reaksi teman-temanku kalo aku melakukan ini? For all the teenagers out there, remember, you have to GROW UP! Be MATURE!

Friday, 31 May 2013

Moving On

Para remaja galau pasti sering denger kata" ini. Entah dari temen-temen ato keinginan diri sendiri. Tapi rata-rata semua remaja gaul pasti tau kata-kata 'move on', termasuk aku (iya, aku emang remaja gaul). Pertama kali denger kata 'move on' yang tiba-tiba aja nge-trend, perasaanku adalah "Oh, move on. Ya terus kenapa?" Berhubung aku bukan remaja galau, maka itulah satu-satunya responku. Nggak seru? Don't judge me if you don't know me! (hahaha) Aku beranggapan kalo move on itu adalah proses beranjaknya seseorang dari kisah cinta yang lama menuju kisah cinta baru (ea). Murni kisah cinta. Bagiku waktu itu, move on berarti kita melupakan cinta dan rasa sayang kita terhadap mantan dan bersiap menyambut pujaan hati baru. Dan aku merasa sangat bangga karena aku sama sekali tidak memiliki gen susah move on. Artinya, aku move on dengan sukses dan selamat. Kadang aku suka heran, pegel, dan sebel sekaligus bangga dan pingin ketawa kalo liat temen-temenku yang suka galau karena gagal move on. Menurutku mereka itu payah. Masih remaja kok ngurusi masalah cinta. Masih muda kok ngomongnya cinta-cintaan. Payah. Lemah.
Tapi sudahlah, di posting ini aku nggak bermaksud untuk menggurui remaja galau gagal move on. Aku nggak mau menghina mereka. Aku hanya ingin membahas masalah move on. Maaf ya para pembaca kalo udah terlanjur tersinggung, di-undo dulu deh rasa tersinggungnya ;) Okay, back to the point. Move on itu sebenernya apa? Soalnya pas aku nyari di Google, keluarnya move on adalah proyek untuk mengasah potensi orang dewasa (sumpah gak nyambung). Memang dulu aku berpikir kalo move on itu adalah istilah yang digunakan dalam kehidupan cinta, tapi baru-baru ini aku sadar kalo itu semua salah. Move on nggak harus berhubungan dengan cinta. Namanya aja move on. Bukan love on (?) Then I came up to this decision, move on adalah suatu proses di mana kita bisa menerima keadaan kita yang sekarang dan berhenti mengeluh tentang betapa indahnya masa lalu. Kalo gitu aku gagal move on dong :(
Kalo move on dalam arti percintaan, nggak usah ditanya, aku bisa move on dengan mudah. Mau tau tips-nya? Tunggu posting lainnya ya ;;) Tapi kalo move on secara umum, kayaknya aku masih belum bisa. Masalahnya, sampai sekarang pun, kadang-kadang aku masih sangat merindukan kehidupan SMP-ku. Meskipun sekarang aku udah merasa bahwa keputusanku milih untuk sekolah di SMA-ku yang sekarang itu sangat tepat. Meskipun aku ketemu banyak banget temen baru yang gak kalah seru bahkan lebih seru daripada temen SMP. Meskipun aku lebih bisa beradaptasi dan lebih rame. Aku tetep sangat merindukan kehidupan SMP. Kadang aku tetep ngerasa, I don't belong here. Aku masih ngerasa asing dan nggak diterima. That's suck. Sampai sekarang pun aku tetap terus merindukan kehidupan SMP-ku terutama waktu kelas 8. That was the best year ever. Meskipun waktu itu temenku masih belum sebanyak sekarang. Meskipun waktu itu aku masih agak pendiem dan jaim. But I felt like I was belong there. Apa kalian pernah merasakannya?
Kadang aku ngerasa udah berbuat nggak adil sama temen-temenku di kelas 10 ini. Padahal mereka semua baik banget, tapi aku masih aja ngebandingin mereka sama temen-temen SMP. Tapi entah kenapa aku nggak bisa ngelupain kehidupan SMP-ku. Semua kegilaan itu, semua kejadian memalukan, semua candaan yang jayus tapi lucu, semua kesedihan, semua kebahagiaan, semuanya masih dapat kuingat dengan jelas. Aku nggak tahu kenapa tapi aku merasa kalo kelas 8 adalah saat-saat yang paling bahagia. Bertemu dengan temen yang super gila, melakukan banyak hal gila bersama. Waktu itu rasanya aku nggak terlalu banyak berpikir seperti sekarang. Kalo sekarang, rasanya kayak orang tua aja. Banyak pikiran, sering pusing, otak sering overload.
Mungkin move on memang tidak segampang itu. Memang sulit menerima keadaan kita sekarang jika kita terus melihat masa lalu. Tapi bagaimana kalau masa lalu itu terus muncul di pikiran kita? Bagiku, sukses atau tidaknya move on tergantung dari kita. Kalau kita memang bener-bener niat untuk maju, kita harus bisa melupakan masa lalu. Kalau kita ragu, ya udah, gak usah move on. Kadang mulut kita selalu bilang "Aku harus move on. Aku mau move on." kenyataannya? Kita masih nggak rela melepaskan masa lalu itu. Terus-terusan mengingat betapa bahagianya kita dulu. Itu juga terjadi padaku. Dulu aku selalu berniat move on, tapi pada kenyataannya, aku terus-terusan membandingkan kehidupan SMA dengan kehidupan SMP. Kapan berhasil move on? Never. Maka aku sampai pada kesimpulan bahwa aku memang nggak niat move on. Bagiku, masa lalu itu lebih baik terus aku ingat sebagai memori yang indah. Biar aku terus dibayang-bayangi oleh kenangan yang baik itu, selama aku tidak ikut ditarik mundur. Biarlah aku terus membandingkan kehidupanku, selama di masa depan aku menjanjikan kehidupan yang lebih baik untuk diriku sendiri. Biar aku gagal move on, selama hal itu pantas untuk diingat. Yang penting aku tidak rugi.