Saturday, 20 December 2014

Random Quote #7


" Lepaskan daripada memaksakan.
Ikhlaskan daripada menyakitkan.
Relakan daripada harus berjuang sendirian."

Thursday, 9 October 2014

IPA vs IPS (dan Bahasa)


Kalian yang udah SMA pasti tahu kan permusuhan antara jurusan IPA dan IPS? Entah dari jaman kapan, yang pasti sampe sekarang yang namanya anak IPA dan IPS itu nggak pernah akur. Ada aja yang dijadin bahan ejekan. Anak IPS pasti bilang, “Kita ini anak IPS calon-calon bos. Kalo anak IPA cuma bisa jadi bawahan kita!” Kemudian anak IPA yang ga terima bales, “Anak IPS kalo ga ada anak IPA ga bisa apa-apa. Bayangin pabrik kalo ga ada teknisi, pasti tutup! Kalo anak IPA buka apotek sendiri juga bisa, ga butuh anak IPS!”

Anak Bahasa ke mana?
Di mana-mana yang terkenal itu persaingan antara IPA dan IPS. Ga ada yang pernah bilang permusuhan antara anak IPA dan Bahasa ato IPS dan Bahasa. Lalu selama ini anak Bahasa mendukung pihak yang mana? Berdasarkan penelitian yang aku lakukan (dalam mimpi), anak Bahasa seringnya jadi orang ketiga. Mereka adalah pihak netral, sekaligus penonton setia. Hal ini disebabkan karena dulu masih belum ada jurusan Bahasa. Waktu leluhur kita memulai persaingan antara jurusan IPA sama IPS, jurusan Bahasa masih belum diciptakan di Indonesia. Makanya, anak Bahasa biasanya ga ikut-ikutan persaingan ini. Tapi hal itu tidak bertahan lama. Entah karena anak IPS jiwa sosialnya tinggi ato mereka takut kalah jumlah sama anak IPA, mereka pun merekrut anak Bahasa ke dalam geng-nya. Jadilah di abad ke-20 ini, persaingan nggak lagi antara IPA dan IPS, tapi antara IPA melawan IPS dan Bahasa. Nggak adil? Biasa. Dunia ini memang tidak adil.

Siapa yang mulai duluan?
Sayangnya aku ga punya mesin waktu dan ga punya kemampuan time travel, jadi aku ga bisa nyari informasi ke masa lalu tentang siapa yang memulai persaingan sengit ini. Tapi berdasarkan pengamatanku selama ini, seringnya sih anak-anak IPS yang mulai. Aku sama sekali nggak bermaksud ngejelek-jelekin anak IPS. Mungkin ini cuma terjadi di sekolahku. Biasanya anak IPS yang mulai ngompor-ngomporin. Misalnya waktu anak IPA ngelawan anak IPS main basket pas ada class meeting. Kalo anak IPA ngelakuin pelanggaran dikit aja, pasti pendukung tim IPS bakal ngatain anak IPA habis-habisan. Sedangkan anak IPA? Anak IPS mau ngapain aja, mereka cuma bisa pasrah.
Emang sih, anak-anak IPS jauh lebih rame daripada anak IPA. Mungkin sifat itu yang bikin anak IPS suka mulai cari gara-gara duluan. Habisnya mereka kalo ada masalah pasti langsung diceritain ke semua orang. Sementara anak IPA yang lebih diem, pasti disimpen sendiri-sendiri. Cuma bisa ngomel-ngomel dalam hati.

Lalu siapa yang menang?
Sampe sekarang, masih belum bisa ditentuin pemenang lomba ini siapa. Anak IPA pasti bilangnya IPA menang lawan IPS dan Bahasa. Mereka ngerasa dengan jadi anak IPA berarti mereka secara umum lebih pinter. Kalo milih jurusan pas kuliah, anak IPA juga bisa masuk ke semua jurusan. Itu mungkin yang mendasari anak-anak IPA suka agak sombong. Begitu juga sebaliknya, anak IPS dan Bahasa pasti ngerasa kalo mereka menang ngelawan IPA. Bagi mereka, jiwa sosial adalah yang terpenting. Dalam dunia kerja, kemampuan sosial lebih penting daripada intelektual. Bener juga sih. Tapi tetep aja, dengan kemampuan intelektual pas-pasan, kalian ga akan bisa diterima di perusahaan besar.

Kesimpulannya, meskipun pertandingan ini telah terjadi selama berpuluh-puluh tahun, masih belum bisa ditentuin juga pemenangnya. Karena ternyata masing-masing jurusan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Anak IPA emang pinter, tapi kebanyakan dari mereka ga pinter ngomong. Sedangkan anak IPS dan Bahasa mungkin nggak sejago anak IPA dalam pelajaran eksak, tapi mereka jago banget ngomong dan super PD. Maka dari itu, pertandingan antara IPA vs IPS dan Bahasa diputuskan SERI!

So, buat kalian yang udah SMA, jurusan apapun kalian, jangan pernah ngejek-ngejek jurusan lain. Seperti manusia, jurusan pun tidak ada yang sempurna (cie). Semoga pertarungan antara IPA, IPS, dan Bahasa ini bisa cepet berakhir ya :”) 

Wednesday, 8 October 2014

Random Quote #6

Just because we don't talk anymore doesn't mean
I don't think about you. I'm just trying to distance myself 
because I know I can't have you.

Friday, 3 October 2014

Beasiswa

Oke, sebelum aku dianggap PHP, aku mau menekankan bahwa posting ini BUKANLAH posting tentang CARA MENDAPATKAN BEASISWA! Aku aja pingin dapet beasiswa gak dapet-dapet, kok mau ngasih tips (hiks). Jadi, bagi yang mengharapkan tips-tips biar bisa dapet beasiswa, silahkan kecewa.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, beasiswa adalah tunjangan yang diberikan kepada pelajar atau mahasiswa sebagai bantuan biaya belajar. Beasiswa ini ada macem-macem bentuknya, yang paling populer adalah beasiswa akademik, non-akademik, dan finansial. Seperti definisinya, beasiswa adalah bantuan keuangan. Jadi secara tidak langsung, beasiswa seharusnya diberikan oleh anak dengan keadaan finansial yang kurang memadai.

Misalnya, si Bunga pinter menggambar. Karya-karyanya sering banget menang di lomba-lomba mulai tingkat RT sampe tingkat nasional. Tapi, sekarang Bunga lagi galau. Temen-temennya udah pada sibuk daftar universitas, sedangkan dia masih bingung mau kuliah di mana. Sebenernya dia pingin masuk jurusan fashion design. Kalian tau sendiri lah, kalo masuk jurusan fashion design itu pasti mahal banget biaya kuliahnya. Meskipun orang tua Bunga sebenernya berkecukupan, tetep aja mereka ga punya uang cukup buat nguliahin Bunga di sekolah fashion yang bagus. Suatu hari, dia baca sebuah poster di jalan tentang beasiswa kuliah fashion di Paris. Untung aja Bunga punya banyak prestasi. Akhirnya, Bunga apply beasiswa itu dan puji Tuhan keterima! Terima kasih klinik Tong Fang :D (lho) Sori jayus. Intinya, kalo mau dapet beasiswa harus berprestasi.

Masalahnya sekarang, mulai banyak orang yang memang berprestasi tapi nggak pantes dapet beasiswa. Kok bisa? Karena mereka udah kaya. Namanya beasiswa kan bantuan keuangan. Ngapain minta bantuan keuangan kalo orang tua mereka malah butuh bantuan buat buang uang? Kasian anak yang prestasinya kalah banyak sama anak orang kaya. Padahal mereka udah ngarep banget bisa sekolah di universitas bagus, eh kesempatannya diambil sama orang yang pingin dapet beasiswa cuma karena gengsi. Emang keren sih dapet beasiswa, berasa pinter banget gitu. Tapi apa kalian nggak mikirin nasib anak yang uangnya ga sebanyak kalian?

Tenang aja, sekarang ini banyak universitas yang juga memperhitungkan kondisi keuangan orang tua. Jadi bagi kalian yang takut kalah bersaing sama anak orang kaya, ga usah terlalu khawatir, peluang kalian sama kok ;) Itu aja curhat singkatku kali ini. Gimana dengan kalian? Pernah ngerasain hal kayak gini juga? Ato punya cerita nyebelin lainnya berkaitan dengan beasiswa? Yang pasti, jangan pernah takut buat apply beasiswa. Ga ada salahnya mencoba kan? Siapa tahu anda cukup beruntung. Selamat berjuang untuk masa depan yang lebih cerah! :D


Thursday, 11 September 2014

That Stranger (I)


Bandara Soekarno-Hatta, Indonesia

Waktu itu jam baru menunjukkan pukul 05.00 pagi, tapi dia sudah berada di bandara, menunggu penerbangannya ke Singapura untuk berlibur. Dia di sana bersama keluarganya. Sambil menunggu, dia mengeluarkan handphone-nya. Setelah bosan mengutak-atik handphone, ia hanya duduk memerhatikan orang-orang di sekitarnya. Dilihatnya kedua orang tua dan adiknya masih sibuk dengan handphone masing-masing. Begitu juga dengan kebanyakan orang yang menunggu di sana. Tiba-tiba matanya menangkap suatu pemandangan yang tidak biasa. Seorang lelaki berwajah cukup menarik dengan hem kotak-kotak berwarna biru dan celana jins panjang sedang duduk sendirian, menjauh dari keramaian. Diam-diam, ia menilai penampilan laki-laki itu. Ganteng juga cowok itu. Hidungnya mancung, matanya bagus, alisnya tebel, badannya juga proporsional. Kira-kira dia udah punya pacar nggak ya? "Kak, ayo cepetan! Nanti ditinggal pesawat lho," seru adiknya tiba-tiba. Mau tidak mau, dia menghentikan proses "penjurian"-nya. Segera ia bangkit dan bergegas menuju boarding gate, mengikuti adiknya. Namun, di sela-sela perjuangannya menerobos kerumunan orang, ia masih menyempatkan diri melihat lelaki itu dari ekor matanya. Tampak lelaki itu berbeda dengan orang kebanyakan. Ia tidak berusaha menjadi yang pertama masuk ke boarding gate. Malah, ia hanya berjalan santai mengikuti arus. Jarak antara lelaki itu dan dia pun semakin jauh sampai akhirnya lelaki itu hilang di tengah keramaian.

Changi Airport, Singapura

Dua jam perjalanan memang terkesan sebentar. Tapi, untuk orang dengan fobia ketinggian mungkin itu adalah cobaan hidup. Tidak terkira betapa leganya dia ketika menginjakkan kaki di darat setelah penerbangan selama "dua jam yang mempertaruhkan nyawa". Kemudian, dia mengikuti prosedur umum : melewati proses imigrasi. Setelah lolos, ia pun menuju tempat pengambilan bagasi. Diamatinya setiap koper yang lewat di depannya. Anehnya, lagi-lagi matanya menangkap sosok yang tidak asing. Laki-laki itu. Laki-laki ganteng dengan hem biru kotak-kotak. Tanpa sengaja mata mereka bertemu. Dia pun segera memalingkan mukanya, tidak mau dianggap norak ataupun menakutkan. Namun, diam-diam ia masih melirik ke arah laki-laki itu. Tak lama kemudian, lelaki itu telah mendapatkan kopernya dan bergegas pergi. Dalam hati dia sedikit kecewa, masih belum puas memandangi sosok berbaju biru kotak-kotak itu. Sesaat muncul pikiran gila, apa ini yang namanya jodoh? Tapi segera ditepisnya pikiran itu, tak mau liburannya terganggu oleh hal yang tidak jelas. Segera setelah mendapatkan kopernya, ia dan keluarganya pergi ke hotel mereka. The holiday has just begun!

Harbour Front MRT Station, Singapura

Singapura memang kota maju, tapi penduduknya sama sekali tidak sombong, terutama dalam hal berkendara. Beda sekali dengan Indonesia. Mobil dan motor senantiasa memenuhi seluruh ruas jalan. Di Singapura, masyarakatnya lebih memilih untuk berjalan kaki atau menaiki kendaraan umum. Tak terkecuali dengannya. Untuk menghemat uang, dia dan keluarganya memilih untuk berjalan kaki atau naik MRT. Tapi akibatnya, kaki jadi pegel semua karena tidak terbiasa berjalan kaki. Ditambah lagi, kakinya kesleo ringan setelah jatuh di tangga hotel. Sakitnya sampai kaki rasanya mau putus. “Aduh, kenapa MRT-nya nggak dateng-dateng sih!” rutuknya perlahan. Menunggu memang bukan kegiatan favoritnya, apalagi menunggu dengan kondisi kaki yang “tidak layak”. Seakan kaki saja yang capek tidak cukup, handphone-nya juga ikut-ikutan capek. Bisa dibayangkan, menunggu tanpa ditemani handphone di era modern ini seperti cacing kepanasan, gelisah, tak tahu harus berbuat apa untuk menyibukkan diri. Di sela-sela kegelisahannya, matanya melihat baju biru kotak-kotak yang sangat familier. Lagi-lagi dia! Kalo di film sih, biasanya cowok itu bakal ngajak aku kenalan. Terus kita tukeran nomer HP, jadian, dan hidup bahagia selamanya, batinnya sambil senyum-senyum sendiri. “Heh! Ngapain kamu senyum-senyum sendiri! Dasar gila! MRT-nya bentar lagi dateng tuh.” seru adiknya sambil memukul lengannya, menghancurkan imajinasinya. Reflek, ia pun membalas pukulan adiknya. “Enak aja, kamu itu yang gila!”
Ketika dia sedang sibuk berdebat, MRT yang akan ditumpanginya datang. Ia pun menghentikan perdebatannya dan menunggu penumpang turun sambil mengambil posisi sedekat mungkin dengan pintu MRT agar dia bisa cepat masuk. Dilihatnya, lelaki itu tidak bergeming. Dengan sabar, atau lebih tepatnya cuek, dia menunggu setiap penumpang yang turun. Kemudian dengan tenang masuk ke MRT sesuai giliran. Laki-laki itu memang berbeda dengan orang kebanyakan. Dia tidak pernah terburu-buru ataupun berdesak-desakan. Ia selalu mengikuti arus. Begitu juga ketika di dalam kereta, ia memilih menjauh dari kerumunan orang yang berdesakan di dekat pintu kereta.

Sejak pertemuan di stasiun MRT itu, ia tidak pernah lagi secara kebetulan bertemu dengan lelaki itu. Liburannya yang seru juga membuat dia lupa tentang si baju biru kotak-kotak. Tapi itu hanya sesaat. Terkadang, ia masih teringat dengan beberapa pertemuannya yang sangat tidak masuk akal jika dianggap kebetulan. Apa ini takdir? Masa dia jodohku? Kalo iya, nggak apa-apa sih. Habisnya dia ganteng sih!

Wednesday, 10 September 2014

Kisah Tentang Hujan (II)


Udah baca bagian pertama? Kalo belum, baca dulu ;)

Gadis itu dulunya sangat membenci hujan. Baginya, hujan adalah hukuman dari Tuhan supaya dia tidak terus-terusan pergi bersama teman-temannya, tetapi belajar di rumah. Namun, seulas senyum manis dari pemuda tak dikenal mengubah persepsinya tentang hujan. Kini, diam-diam ia menantikan “hukuman” itu. Membayangkan bagaimana hujan mempertemukan mereka dan bermimpi lain kali hujan akan mempertemukan mereka kembali.

“Milly! Kamu udah kerja PR Matematika?” Merasa ditanya, gadis itu pun menjawab, “Emang kita ada PR?” “Ada, dodol! Ayo cepet nyari contekan, 5 menit lagi bel nih,” jawab si gadis penanya yang bernama Tia tersebut. Milly pun segera mengikuti Tia mencari jawaban PR Matematika.

“Mil, tumben kamu tadi nggak kerja PR? Biasanya kamu rajin banget kerja PR.” tanya Tia. “Aku lupa nih, kamu nggak ngingetin sih,” jawab Milly santai. “Nggak salah nih? Kan biasanya kamu yang ngingetin aku. Kamu kenapa sih? Jangan-jangan udah ada gebetan baru ya?” goda Tia. Entah kenapa, Milly menjadi salah tingkah. Mukanya memerah dan ia hanya bisa tersenyum malu. Melihat tingkah laku sahabatnya yang tidak wajar, Tia mengerti bahwa tebakannya benar. “Siapa namanya? Anak sekolah ini? Kamu kok nggak pernah cerita sih,” tanya Tia menginvestigasi. “Gimana mau cerita, aku aja nggak tahu namanya. Aku juga nggak tahu dia sekolah di mana,” jawab Milly lesu. “Hah? Kamu bercanda, Mil? Jangan-jangan kamu ketemu cowok itu di mimpi. Hahaha..” Sebuah cubitan langsung mendarat di lengan Tia. Bukannya kesakitan, tawa Tia malah semakin menjadi-jadi. Mau tak mau, Milly juga ikut tertawa, meskipun dalam hati ia agak setuju dengan perkataan Tia bahwa mungkin laki-laki manis itu memang hanya bisa ia impikan saja.

Lagi-lagi hujan. Padahal bel pulang sekolah baru saja dibunyikan. Akibatnya, banyak murid-murid yang terpaksa menunggu hingga hujan reda, termasuk Milly. Sambil menunggu, ia mengamati guyuran hujan itu dan pikirannya pun langsung tertuju pada seorang pemuda berlesung pipit dengan senyum yang manis. Tiba-tiba, muncul pemikiran gila dalam otaknya, kalau sekarang aku ke perpustakaan, apa aku bisa ketemu lagi sama dia? Tapi akal sehatnya masih berfungsi, gila kamu, Mil! Kamu kira ini sinetron? Ia pun memutuskan untuk tetap menunggu hingga hujan reda. Meskipun dari luar ia tampak tenang, sebenarnya dalam benaknya terjadi perang antara perasaan dan logikanya. Tidak sampai 5 menit, perasaannya menang. Tanpa berpikir lagi, ia langsung membuka payungnya dan menerjang hujan yang masih turun deras. Sesampainya di perpustakaan, Milly tidak menemukan pemuda itu. Ia kecewa, namun memutuskan untuk menunggu di dalam perpustakaan. Diambilnya sebuah novel roman, kemudian duduk di salah satu kursi. Tak seperti biasanya, sebuah novel pun tak mampu menenangkannya. Setelah 20 menit membaca, ia memutuskan untuk pulang saja. Namun, di depan perpustakaan, dia melihat seorang lelaki yang wajahnya tak asing lagi. Melihatnya, lelaki itu tersenyum, memamerkan lesung pipit yang manis. “Hai, nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi di sini,” sapanya, masih tersenyum. Milly hanya membalas dengan senyuman. “Masih nggak mau pinjem payung?” tawarnya sambil menyodorkan payung. Milly menggeleng, “Nggak usah, aku udah bawa payung kok.” “Ooh,” jawab lelaki itu singkat, terdengar sedikit kecewa. Kemudian timbul keheningan di antara mereka. Di satu sisi, Milly tidak rela meninggalkan lelaki itu. Di sisi lain, lelaki itu tidak terlihat ingin beranjak. “Omong-omong, kita belum kenalan. Aku Milly. Namamu siapa?” tanya Milly memecah keheningan. “Kevin. Namaku Kevin,” jawab lelaki itu sambil menjulurkan tangan mengajak bersalaman. Tak lupa senyum manisnya ia pertunjukkan. Milly menanggapi ajakan bersalaman itu. Jantungnya berdegup sangat kencang ketika tangannya menggenggam tangan Kevin. “Berarti sekarang kita temenan, kan? Boleh minta nomor HP atau pin BB kamu?” tanya Kevin tiba-tiba. Entah karena terpesona oleh  senyum Kevin atau memang pikirannya sedang tidak waras, Milly langsung memberikan nomor handphone-nya. “Thanks. Nanti kalo aku telepon, diangkat ya,” kata Kevin, senyumnya yang manis masih bertahan di wajahnya. Tanpa terasa hujan sudah reda. Bersamaan dengan itu, mereka pun berpisah, kembali ke rumah masing-masing. Saling melambaikan tangan dengan senyum yang terus merekah.

Seperti sudah ditakdirkan, hujan kembali mempertemukan mereka. Apa ini yang namanya jodoh?

- END -

Wednesday, 3 September 2014

Random Quote #5

"Jangan sengaja pergi biar dicari.
Jangan sengaja lari biar dikejar.
Berjuang tak sebercanda itu."
Sudjiwo Tedjo