Tuesday, 11 June 2013

Grow Up!

Seringkali aku sebel sama remaja-remaja zaman sekarang. Emang aku juga masih remaja, tapi aku remaja yang dewasa (bohong). Yang suka bikin aku sebel sama remaja-remaja masa kini adalah mereka sukanya berlebihan, overacting, lebay, alay, dan sebangsanya. Mereka kalau ngomong (atau lebih tepatnya nge-twit dan pasang status) itu sukanya gak mikir pake otak. Walaupun aku juga remaja yang masih beranjak dewasa, tapi aku merasa bahwa aku lebih realistis. Aku punya jiwa alay dalam diriku, tapi itu semua hanya untuk kesenangan, buat bercanda aja, nggak diterapkan di segala aspek kehidupan. Kalau remaja pada umumnya? ALAY MENDARAH DAGING. Coba liat deh status remaja-remaja di facebook, twitter, tumblr, BBM, line, kakaotalk, path, whatsapp, wechat, dan semua jejaring sosial, pasti kebanyakan status galau dan cinta-cintaan, misal:

"I will love you forever :* 12.12.13" (maksudnya tanggal jadian)
"You may leave me, but you'll never leave my heart" (biasanya habis putus)
"Rese, beraninya cuma di twitter. Ayo sini ketemuan kalo berani!" (biasanya dia pikir orang yang ngerasani dia itu pengecut, padahal dia sendiri juga... *eh)
"Baru liburan seminggu udah tambah gendut aja, gimana nihh :(" (padahal sebenernya dia udah kurus dan cuma naik 0.5 kilo)
...

Banyak banget contoh status galau dan gak penting yang mungkin akan terlalu panjang kalo ditulis semua di postingan ini. Yang mau aku bicarakan di sini adalah terutama yang terakhir. Aku paling sebel, kalo ada cewek yang posting foto di Instagram ato di manapun terus dipuji cantik, eh, mereka malah bilang "apanya cantik? aku keliatan gendut banget lo :(" Bodoh nggak? Udah dipuji orang, malah ngejek diri sendiri. Tanpa mereka sadari, sebenernya itu modus untuk dipuji lagi. Biasanya, orang yang masih punya belas kasihan bakal bilang, "Gak gendut ah, kamu cantik kok ;)". Sampai sekarang sih aku belum menemukan orang yang sangat jujur terus bilang kayak gini, "Hahaha, akhirnya nyadar juga kalo kamu itu gendut =D" ato "Nggak, kamu gak gendut kok. Cuma jelek aja, gak fotogenik." Yeah! Entah gimana perasaan orang yang foto itu. EGP.

Bukan itu aja yang bikin aku sebel. Aku sering banget liat, temenku yang menurutku dan emang kenyataannya kurus, cuma sedikit chubby ato bahkan nggak chubby sama sekali, bilang kalo dia itu gendut terus pingin diet. Dalam hati aku teriak, KAMU UDAH KURUS BEGO! Kalo aku yang ngomong sih terlihat lebih realistis, karena aku emang butuh untuk menurunkan berat badan. Tapi mereka? Udah punya lengan kecil, kaki langsing, muka tirus, MASIH PINGIN KURUS? Go to hell. Aku jadi ngerasa tersindir gitu. Masa mereka yang udah kurus masih pingin kurus, sementara aku yang gemuk dan pingin kurus aja gak kurus-kurus? Mungkin beberapa dari kalian pernah mengalami hal ini, kita senasib teman (tos).

Kedua, yang kadang bikin aku sebel juga adalah status kayak gini "ilysm,idwtlyf" Apa artinya? Aku sendiri juga gak tau. Mending kalo cuma "ily","imy","ty","hbd","Gbu" masih bisa ditebak lah. Tapi kalo kayak gini, "idhtoiwopqirjwofknlaiapofiufe" APA ARTINYAA? Menurutku, kalo kita pasang status ato nge-twit, tujuan kita adalah biar temen-temen kita tau apa perasaan kita, apa yang mau kita sampaikan. Tapi kalo status/twit-nya kayak gitu, sapa yang ngerti? Bahkan Albert Einstein pun gak akan ngerti! Jadi ngapain kamu bikin status/twit tapi gak ada yang ngerti? ST*P*D.

Itu adalah beberapa contoh sikap remaja yang gak logis dan kekanak-kanakan. Kalo kamu termasuk salah satu di antara itu, aku mau bilang, GROW UP! Being a teenager isn't the reason to be a complete retard. Kamu gak boleh melakukan kesalahan dan bilang "Maklum lah, aku kan masih remaja.." Hell to the NO. Kita emang masih remaja, tapi kita gak selamanya remaja. Belajar sedikit lebih dewasa. Kalo gak dimulai dari sekarang, selamanya kamu akan bertingkah laku konyol seperti remaja. Mulai gunakan otakmu sebelum melakukan apapun. Coba sekali-kali diam dan berpikir, apa hal ini pantas dilakukan? Apa reaksi teman-temanku kalo aku melakukan ini? For all the teenagers out there, remember, you have to GROW UP! Be MATURE!

Friday, 31 May 2013

Moving On

Para remaja galau pasti sering denger kata" ini. Entah dari temen-temen ato keinginan diri sendiri. Tapi rata-rata semua remaja gaul pasti tau kata-kata 'move on', termasuk aku (iya, aku emang remaja gaul). Pertama kali denger kata 'move on' yang tiba-tiba aja nge-trend, perasaanku adalah "Oh, move on. Ya terus kenapa?" Berhubung aku bukan remaja galau, maka itulah satu-satunya responku. Nggak seru? Don't judge me if you don't know me! (hahaha) Aku beranggapan kalo move on itu adalah proses beranjaknya seseorang dari kisah cinta yang lama menuju kisah cinta baru (ea). Murni kisah cinta. Bagiku waktu itu, move on berarti kita melupakan cinta dan rasa sayang kita terhadap mantan dan bersiap menyambut pujaan hati baru. Dan aku merasa sangat bangga karena aku sama sekali tidak memiliki gen susah move on. Artinya, aku move on dengan sukses dan selamat. Kadang aku suka heran, pegel, dan sebel sekaligus bangga dan pingin ketawa kalo liat temen-temenku yang suka galau karena gagal move on. Menurutku mereka itu payah. Masih remaja kok ngurusi masalah cinta. Masih muda kok ngomongnya cinta-cintaan. Payah. Lemah.
Tapi sudahlah, di posting ini aku nggak bermaksud untuk menggurui remaja galau gagal move on. Aku nggak mau menghina mereka. Aku hanya ingin membahas masalah move on. Maaf ya para pembaca kalo udah terlanjur tersinggung, di-undo dulu deh rasa tersinggungnya ;) Okay, back to the point. Move on itu sebenernya apa? Soalnya pas aku nyari di Google, keluarnya move on adalah proyek untuk mengasah potensi orang dewasa (sumpah gak nyambung). Memang dulu aku berpikir kalo move on itu adalah istilah yang digunakan dalam kehidupan cinta, tapi baru-baru ini aku sadar kalo itu semua salah. Move on nggak harus berhubungan dengan cinta. Namanya aja move on. Bukan love on (?) Then I came up to this decision, move on adalah suatu proses di mana kita bisa menerima keadaan kita yang sekarang dan berhenti mengeluh tentang betapa indahnya masa lalu. Kalo gitu aku gagal move on dong :(
Kalo move on dalam arti percintaan, nggak usah ditanya, aku bisa move on dengan mudah. Mau tau tips-nya? Tunggu posting lainnya ya ;;) Tapi kalo move on secara umum, kayaknya aku masih belum bisa. Masalahnya, sampai sekarang pun, kadang-kadang aku masih sangat merindukan kehidupan SMP-ku. Meskipun sekarang aku udah merasa bahwa keputusanku milih untuk sekolah di SMA-ku yang sekarang itu sangat tepat. Meskipun aku ketemu banyak banget temen baru yang gak kalah seru bahkan lebih seru daripada temen SMP. Meskipun aku lebih bisa beradaptasi dan lebih rame. Aku tetep sangat merindukan kehidupan SMP. Kadang aku tetep ngerasa, I don't belong here. Aku masih ngerasa asing dan nggak diterima. That's suck. Sampai sekarang pun aku tetap terus merindukan kehidupan SMP-ku terutama waktu kelas 8. That was the best year ever. Meskipun waktu itu temenku masih belum sebanyak sekarang. Meskipun waktu itu aku masih agak pendiem dan jaim. But I felt like I was belong there. Apa kalian pernah merasakannya?
Kadang aku ngerasa udah berbuat nggak adil sama temen-temenku di kelas 10 ini. Padahal mereka semua baik banget, tapi aku masih aja ngebandingin mereka sama temen-temen SMP. Tapi entah kenapa aku nggak bisa ngelupain kehidupan SMP-ku. Semua kegilaan itu, semua kejadian memalukan, semua candaan yang jayus tapi lucu, semua kesedihan, semua kebahagiaan, semuanya masih dapat kuingat dengan jelas. Aku nggak tahu kenapa tapi aku merasa kalo kelas 8 adalah saat-saat yang paling bahagia. Bertemu dengan temen yang super gila, melakukan banyak hal gila bersama. Waktu itu rasanya aku nggak terlalu banyak berpikir seperti sekarang. Kalo sekarang, rasanya kayak orang tua aja. Banyak pikiran, sering pusing, otak sering overload.
Mungkin move on memang tidak segampang itu. Memang sulit menerima keadaan kita sekarang jika kita terus melihat masa lalu. Tapi bagaimana kalau masa lalu itu terus muncul di pikiran kita? Bagiku, sukses atau tidaknya move on tergantung dari kita. Kalau kita memang bener-bener niat untuk maju, kita harus bisa melupakan masa lalu. Kalau kita ragu, ya udah, gak usah move on. Kadang mulut kita selalu bilang "Aku harus move on. Aku mau move on." kenyataannya? Kita masih nggak rela melepaskan masa lalu itu. Terus-terusan mengingat betapa bahagianya kita dulu. Itu juga terjadi padaku. Dulu aku selalu berniat move on, tapi pada kenyataannya, aku terus-terusan membandingkan kehidupan SMA dengan kehidupan SMP. Kapan berhasil move on? Never. Maka aku sampai pada kesimpulan bahwa aku memang nggak niat move on. Bagiku, masa lalu itu lebih baik terus aku ingat sebagai memori yang indah. Biar aku terus dibayang-bayangi oleh kenangan yang baik itu, selama aku tidak ikut ditarik mundur. Biarlah aku terus membandingkan kehidupanku, selama di masa depan aku menjanjikan kehidupan yang lebih baik untuk diriku sendiri. Biar aku gagal move on, selama hal itu pantas untuk diingat. Yang penting aku tidak rugi.

Friday, 5 April 2013

Dear Yuli


Aku menatap layar laptop yang menampilkan foto-foto seorang cowok dalam berbagai pose sambil tersenyum. Tanpa sadar, sesekali aku menggumam, “Kenapa ada cowok seganteng ini ya?” Cowok itu memang ganteng sekali. Terlalu ganteng hingga tak ada kata-kata yang tepat untuk menjelaskan ketampanannya. Entah kenapa, tapi wajahnya dalam berbagai mimik dan segala tingkah lakunya begitu membuatku terpesona. Hanya melihat senyumnya mampu membuatku ikut tersenyum. He’s the first guy to make me smile with no reason.

Lee Donghae. Itulah nama cowok, atau lebih tepat disebut artis, yang berhasil membuatku gila seperti orang jatuh cinta. Dia tidak pernah berbuat baik padaku, dia juga tidak pernah tersenyum padaku, bahkan aku tidak pernah bertemu dengannya! Tapi entah kenapa, aku tetap memujanya. Sejak pertama kali aku melihat wajahnya di sebuah majalah, aku langsung menyukainya. Semakin lama, bukannya melupakan, aku malah semakin tergila-gila. Aneh memang. Mungkin ada yang berpikir hal ini menyeramkan, aku terkesan seperti seorang stalker yang psikopat. Tapi tentu saja aku bukan orang seperti itu. Aku hanyalah seorang gadis remaja normal yang baru saja menemukan idolanya.

Aku masih saja memandangi foto-fotonya tanpa merasa bosan sedikit pun. Tiba-tiba saja aku teringat akan seseorang. Orang yang membuatku semakin tergila-gila padanya. Orang yang menjadi tempatku berbagi informasi dan cerita tentangnya. Orang yang akhirnya menjadi bagian penting dalam hidupku. Orang yang akhirnya juga menjadi tempat aku menceritakan segala suka cita dan keluh kesahku. Sahabatku.

Jujur saja, aku sudah lupa bagaimana kita bisa menjadi sedekat ini. Sejak awal kelas 9 aku sudah tahu kalau dia memiliki idola yang sama denganku, tapi hal itu tidak membuat kami langsung akrab. Namun aku masih mengingat saat-saat kita mulai dekat dengan jelas. Saat-saat yang tidak mungkin aku lupakan. Keberadaannya ketika itu sungguh berdampak besar bagiku. Selain tentu saja, stress saat ujian berkurang, saat itu juga yang membuat dia menjadi sahabatku sekarang.

Satu tahun yang lalu, bulan April tahun 2012, memasuki musim ujian.
Entah kenapa kita menjadi dekat. Tiba-tiba saja kita sering menghabiskan waktu bersama-sama. Pergi ke manapun bersama. Bercanda bersama, bergosip bersama, yah, intinya selalu bersama. Banyak hal yang dibicarakan, mulai dari teman-teman, ujian, sampai idola. Sejak saat itu pula, dia banyak menceritakan kepadaku tentang Donghae. Dan aku, perlahan-lahan mulai berani mengungkapkan kecintaanku terhadap artis tampan tersebut. Aku menjadi berani mengakui bahwa aku adalah fansnya. Itu semua berkat dia, sahabatku. Itu semua berkat seseorang yang bernama Yuli.

Mengingat peristiwa itu membuatku tersenyum, heran. Bagaimana mungkin dalam waktu sesingkat itu dia bisa langsung menjadi sahabatku? Bahkan sampai sekarang ketika kita sudah masuk di sekolah berbeda. Mungkin inilah yang dinamakan takdir. Tuhan yang merencanakan seorang Yuli untuk menjadi sahabatku. Entah sudah berapa banyak SMS yang aku kirimkan kepadanya, baik sekedar menceritakan betapa kerennya Donghae, sampai betapa aku sangat merindukan kehadirannya. Entahlah. Semua ini berjalan terlalu cepat. Untunglah hal itu tidak merusak persahabatan kami.

Terkadang aku menyesal. Mengapa baru mengenal dia menjelang kelulusan? Mengapa tidak berteman dengannya sejak awal? Memang terkadang rencana Tuhan sungguh tidak bisa ditebak. Tapi aku tahu pasti, bahwa Dia sungguh tahu apa yang terbaik bagiku. Dia telah memberikanku seorang sahabat baru yang bisa diandalkan. Tak bisa kuungkapkan betapa aku berterima kasih pada Tuhan, juga pada Lee Donghae yang telah mempersatukan kami. Lalu, jika aku tidak mengidolakan seorang Lee Donghae, apakah aku tetap bisa bersahabat dengan seorang Yuli? Ataukah aku akan menemukan Yuli lainnya? Mungkin pertanyaan itu tidak seharusnya terjawab. Cukup mengetahui sekarang aku memiliki Yuli sebagai seorang sahabat, tak peduli mengapa dan bagaimana.

P.S. : (for Yuli, if you read this) Aku memang bukan tipe orang yang bisa mengungkapkan semua yang aku rasakan dengan mudah, malah aku cenderung menutupinya. Aku harap dengan tulisanku ini kamu mengerti kalau kamu berharga bagi aku. You can always count on me :) ELFish forever, ok? ({})

Wednesday, 3 April 2013

Quote of The Week

I found this quote about 3 days ago on Twitter. The moment I read it, somehow I remembered my best friends. It's just so much alike with our friendship. I hope you feel that this quote is great too!


Friday, 29 March 2013

The (too) Salty Dish


Mungkin ketika kalian membaca judul posting ini, kalian berpikir aku akan menjadi seorang kritikus makanan. Well, bagi yang beranggapan seperti itu, kalian salah. Aku nggak mau jadi seorang kritikus, sebuah pekerjaan yang terlalu berat untuk manusia yang tak sempurna seperti aku ini (haha). Tapi memang ada benernya juga sih, aku akan sedikit mengkritik makanan yang beberapa hari lalu aku makan. Hanya sedikit kok, tenang saja.
So, here’s the story. Sekitar 3 hari yang lalu, aku makan sushi (sushi’s one of my favourite foods, just FYI) di sebuah restoran masakan Jepang yang cukup terkenal di kota tempat aku tinggal sekarang. Saat itu, aku mengajak mamaku tercinta yang memang lagi ngidam pingin makan sushi. Aku sudah pernah makan di tempat ini beberapa kali sebelumnya sama temen-temen, tapi nggak pernah pergi sama mama. It was her first time. Awalnya sih, mamaku agak males. Selain restorannya yang cukup jauh dari rumah, nyari parkir di sana juga susah. Tapi, dengan kekuatan bulan (baca:pemaksaan), akhirnya mamaku mau juga makan di sana. Aku berani menjamin bahwa makanan di sana enak dan harganya murah. Berhubung aku adalah anak yang berbakti, jujur, dan rajin menabung, maka mamaku sangat percaya dengan omonganku.
Well, kelihatannya aku sudah mulai melantur lagi, jadi to the point aja deh. Sushi-nya asin banget. Ya, ciyus, asin pake BANGET. Mamaku langsung memasang tampang kecewa. “Kok sushi-nya asin gini sih? Katamu enak?” Dengan senyum yang sedikit dipaksakan, aku masih berusaha meyakinkan mama. “Waktu aku ke sini sama temen-temen enak, kok, ma. Nggak tau kok sekarang jadi kayak gini.” Namanya orang apes ya gini ini. Waktu aku lagi makan sendiri, rasanya enak banget, kayak dimasak sama chef Gordon Ramsay. Tapi, begitu aku ngajak mama, eh, rasanya kayak sushi buatan peserta Masterchef yang nggak lolos 100 besar.
Tapi yang jadi pokok pembicaraan bukan Masterchef, juga bukan chef Gordon Ramsay. Ada satu perkataan mamaku yang tiba-tiba membuat aku bertanya-tanya. Katanya, “Kalo makanannya keasinan, artinya yang masak minta kawin!” Aku memang sudah sering mendengar pepatah ini, tapi entah kenapa hari itu aku bener-bener tersentuh. Aku heran, kenapa masakan yang keasinan identik dengan orang mau kawin? Gimana kalo yang masak udah kawin? Masa minta kawin lagi? Kalau dipikir pakai nalar dan logika (walaupun logika anak SMA ingusan) itu agak nggak masuk akal banget. Mungkin di suatu daerah nun jauh di sana ada tradisi di mana orang yang nikah bakal ditaburin garam, bukannya bunga. Makanya kalo suatu masakan keasinan, tandanya dia pingin kawin, pingin ditabur-taburin garam. Masalahnya, ini Indonesia. Aku nggak pernah tau ada adat seperti itu. (kalo ada orang Indo yang melakukan hal ini, tolong beri tahu!)
Sampai detik aku menulis posting ini pun, I still have no idea, kenapa ada pepatah macam itu? Aku nggak menemukan adanya penelitian yang menunjukkan bahwa menurunnya kemampuan seseorang untuk merasakan rasa asin dalam masakan merupakan efek dari meningkatnya hormon minta kawin. Atau mungkin di masa depan salah satu dari kalian bakal mengungkapnya? Itu akan sangat membantu sekali bagi seluruh umat manusia (baca:saya). I guess, kalian yang membaca posting ini pun jadinya ikut-ikutan bertanya-tanya. Iya, ya, kenapa ada pepatah seperti itu? Kenapa penulis posting ini kurang kerjaan membahas pepatah itu? Apakah penulis mengarang pepatah itu? Apakah penulis kurang waras? Jawabannya, TIDAK teman-teman. Pepatah itu sungguhan ada, serius. Dan aku bener-bener murni heran dan kurang kerjaan.
Looks like an open ending here. Aku masih nggak bias menjabarkan pepatah itu menjadi hal yang logis dan bisa diterima. Jadi, aku menyerahkan semua teka-teki yang sudah sedikit terkupas ini ke dalam tangan kalian. I trust you, my loyal readers! You will help me, won’t you?

Friday, 22 March 2013

Jealous

Mungkin posting yang kali ini agak terdengar absurd ya. Setelah lama tidak posting, aku malah menyapa para pembaca setia (baca : pengangguran canggih) dengan posting yang gak jelas. Itulah aku (eh). But, that's okay. Bukan bermaksud gak jelas, walaupun memang gak jelas, berhubung blog ini berisi segala hal yang berasal dari otakku, maka tulisan-tulisan yang ada di blog ini juga sesuai dengan isi otakku. Jika posting kali ini nggak jelas, berarti otakku lagi nggak jelas. Oke, cukup ngelanturnya.
Sebenernya sekarang ini, ato lebih tepatnya akhir-akhir ini aku lagi iri. Iri sama banyak orang. Iri sama orang-orang yang punya pacar (nasib jomblo). Paling iri sama orang yang jatuh cinta, ato nggak usah jauh-jauh, iri sama orang yang naksir orang lain. Iri pake banget. Bukan berarti aku nggak normal. I'm truly really normal. Tapi di masa-masa SMA yang katanya masa di mana cinta bersemi itu, aku malah tidak merasakan cinta. Aku sendiri juga nggak tau sih pernah ngerasakan cinta ato nggak, tapi rasanya aku pernah naksir seseorang, walaupun agak kusesali.
Aku heran, bagaimana bisa seorang cewek ato cowok naksir lawan jenisnya hanya dengan liat muka? Fine-fine aja kalo sebatas ngomong "cowok itu ganteng banget", tapi kalo sampe gak bisa hidup tanpa ngeliat senyumnya cowok itu, menurutku agak alay ya. Maksudnya, si cowok bahkan gak PDKT! Kenapa bisa segitu naksir? Kenapa segitu berharap? Percuma kan, naksir seseorang yang gak menunjukkan tanda-tanda yang jelas kalo orang itu naksir balik. Rugi. Mungkin aku yang aneh. Tapi mungkin juga aku salah satu dari sedikit orang normal di dunia yang penuh orang dimabuk asmara.
Walaupun aku terus menghibur diri dengan mengatakan bahwa aku orang normal yang hidup di dunia abnormal, tetep aja aku iri sama orang-orang abnormal itu. Mereka bisa kelihatan bahagia. Dan normal. Sementara aku? Kesannya aku aneh aja. Hampir semua temenku naksir seseorang. Ada yang ditaksir balik, ada juga yang bertepuk sebelah tangan, tapi masih memperjuangkan. Hebat sekali. Atau malah bodoh sekali?
Aku mungkin aneh. Tapi aku gak bisa menyukai seseorang hanya dari tampang. Nge-fans iya, tapi gak suka, gak sayang. Dan entah kenapa, dari sekian banyak cowok di sekolahku yang katanya temenku ada yang ganteng, tetep aja gak ada satu pun yang menarik hati. Mungkin ada satu orang cowok yang lumayan menarik, tapi aku menyimpulkan kalo aku gak mau naksir dia (nah). Mungkin aku memang aneh. Ada seseorang untuk ditaksir, tapi gak mau. Apa boleh buat. Banyak rintangan menghadang dan aku nggak merasa dia seberharga itu untuk diperjuangkan >:D
Emangnya apa sih ciri-ciri naksir seseorang? Kalo menurut aku, ketika kamu naksir seseorang, kamu pasti pingin diperhatiin sama dia, pingin ngomong-ngomong sama dia, pokoknya pingin deket-deket dia deh. Yang aku rasakan sekarang agak membingungkan sebenernya. Aku pingin diperhatiin dia, tapi aku males ndeketin. Waktu pertama kali ngomong, aku lumayan seneng, tapi sama sekali gak nervous ato deg-deg an. Waktu pertama kali dia nyapa aku, aku seneng banget, tapi selalu aja ada hal yang membuat aku berpikir dua kali untuk naksir sama dia. Nasib ya :')
Mungkin memang aku nggak ditakdirkan untuk jadi seperti orang-orang kebanyakan. Mungkin Tuhan nggak ngebolehin aku naksir orang biar aku bisa konsen belajar. Mungkin aku emang gak boleh naksir orang biar gak sakit hati. Mungkin ini memang yang terbaik buat aku. Mungkin aku memang harus jadi orang normal di antara orang abnormal di dunia ini. Mungkin iya, mungkin tidak.

Sunday, 10 February 2013

Flashback

Di posting ini aku akan flashback tentang kegiatan serta canda tawa yang dulu aku lalui saat di SMP (ea). Walaupun emang masih suasana Imlek sih (and ofc LIBUR!!), tapi entah kenapa aku jadi keinget kebiasaanku pas SMP. Bukan bermaksud untuk ber-galau ria. Juga bukan bermaksud untuk sok melankolis kayak di film pake flashback2 segala. Dan pastinya bukan berarti aku lagi amnesia ringan, terus tiba-tiba karena ketatap lemari muncul flashback. Entah kenapa, pingin flashback aja.
Kehidupan dan kebiasaanku di SMA ini hampir sangat berbeda dengan kebiasaan di SMP. Emang masih sama-sama sekolah, masih tetap belajar, tetap bangun pagi, tetap ada ulangan, tetap ada PR, tapi pasti ada yang berbeda. Mulai dari letak sekolah. Sekarang jam 6 pagi aku udah berangkat ke sekolah, naik antar jemput. Padahal dulu jam 6 aku baru bangun, berangkat naik mobil pribadi. Rasanya aneh aja, sekarang jarak antara sekolah sama rumah jauh banget. Jadwal pulang harus bener-bener tertata, ato kalau nggak, gak ada yang jemput. Habis jauh sih. Nunggu jemputan juga jadi lama banget. Berhubung jarak jauh, sama macet juga menyebar di mana-mana. Hal ini yang langsung membuat mood jadi jelek banget. Udah capek habis ekstra, tas beratnya kayak mau pergi perang, masih harus nunggu 30 menit lebih. Dulu di SMP? Gak perlu khawatir sama yang namanya jadwal pulang. Tinggal ngomong, "Ma, nanti jemputnya kalo aku udah telpon." Jam berapa pun aku pulang, 10 menit setelah aku telepon pasti udah dijemput. Kalo sekarang kayak gitu? Bisa-bisa aku dibantai sama mama -___-
Kedua, jadwalku juga udah berubah. Sekarang ini aku lagi dalam masa-masa kangen sama yang namanya BAND. Yup. Aku kangen banget nge-band!! Di SMA ini aku emang nggak ikut band. Kenapa? Males. Ekskul band-nya terlantar, temennya juga gak ada yang connect. Udah terlanjur pas sama band yang lama, semacam gagal move on gitu. Aku jadi inget, kalo dulu di SMP, sering banget pulang sore gara-gara latian band. Biasanya liburan gini juga di sekolah buat latian band. Capek memang, tapi seneng. Sekarang? Boro-boro nge-band, nyentuh keyboard aja jarang. Susah banget nemu waktu yang cocok buat latian, berhubung anggota band-ku dulu udah menyebar di mana-mana. Aku kangen banget sama latian band, kangen sama suasana-suasana tegang nan khawatir pas nyiapin lagu buat lomba, kangen sama tepuk tangan dari penonton yang ngeliat kami, kangen sama momen-momen pas kita dapet juara, dan yang paling penting kangen sama semua personil-personilnya yang gak bener tapi nyenengin.
Waktu di SMP dulu, pulang sore itu rasanya biasa banget, malah aku bangga bisa pulang sore. Berasa sibuk gitu. Tapi sekarang? Rasanya pingin pulang pagi terus. Pingin cepet-cepet nyampe rumah. Emang hampir setiap hari pulang sore, tapi aku sama sekali gak ngerasa bangga, secara banyak juga yang pulang sore. Kalo sekarang, pulang sore pasti gara-gara ekstra atau pengayaan. Kalo nggak gitu ya rapat. Kegiatan yang menyenangkan di SMA adalah, OSIS-nya berfungsi. Aku inget banget kalo dulu di SMP, OSIS itu baru kerja pas MOS, itu pun cuma buat dimintai tanda tangan. Selebihnya, OSIS cuma semaca pembantu yang menata kursi buat pertemuan orang tua, jadi penerima tamu, dkk. Rapat jarang banget. Kalo ada rapat pun, yang rapat paling cuma anggota inti, sisanya mbambong. Di SMA aku bener-bener ngerasain apa yang disebut dengan OSIS. Fungsinya kelihatan, bukan sekedar pelengkap struktur sekolah. Itu cukup menyenangkan. Aku jadi merasa dibutuhkan (cie)
Yang terakhir, tapi yang terpenting, yaitu, di SMA ini gak ada geng-ku! Jangan salah sangka dulu, aku nggak ikut geng yang gak bener kok, cuma mbentuk geng kelas teri lah, yang isinya remaja-remaja labil. Di SMA ini geng-ku udah bener-bener mencar. Ada sih yang satu sekolah, tapi kan tetep aja terasa aneh. Yang biasanya berempat ke mana-mana, sekarang sendirian. Aneh banget. Aku sih udah mulai bisa adaptasi di kelas. Tapi aku tetep berpikir, kelas ini akan jadi semakin sempurna kalo ada mereka. Sering di tengah-tengah pelajaran, tiba-tiba aku nemu sesuatu yang menurutku lucu, tapi sekelas gak ada yang tertawa, otomatis aku diem juga. Padahal dalam hati aku mikir, coba kalo ada mereka, pasti udah ketawa sampe nangis-nangis nih. Temen-temen di SMA ini juga beda banget sama temen di SMP. Rasanya lebih individualistis, egois. Yang beda lagi, dulu di SMP, walaupun pulang sore, tapi tetep aja aku bisa nemuin temen yang bisa diajak ngobrol waktu nunggu jemputan. Sekarang? Ngomong aja sama tembok. Nobody cares. Kadang jadi sejenis miris gitu, nunggu sendiri, termenung di pinggir jalan yang beratapkan seng. Dengan deru mobil menemani, dan tawa tukang becak sebagai backsound. Miris sekali.
But, everything changes. Our life changes. It depends on how we face it, how we deal with it. Are you gonna suffer from it? Or are you managed to defeat it? It's all your choice. Wish you luck with the changes around you :)